Pasien Transplantasi Ini Bertahan Hidup Tanpa Paru-paru Selama 2 Hari, Kok Bisa?

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Seorang pasien diklaim berhasil bertahan hidup selama dua hari tanpa paru-paru, pada masa jeda antara pengangkatan paru-paru yang rusak parah dan kondisi tubuhnya yang cukup stabil untuk menerima transplantasi.

Ketika paru-paru donor akhirnya tersedia, analisis terhadap paru-paru lama menemukan langkah ekstrem tersebut memang tak bisa dihindari. Temuan ini menunjukkan akan lebih banyak pasien di masa depan yang berpotensi hidup tanpa paru-paru jelang transplantasi organ.

Kasus ini bermula dari seorang pria berusia 33 tahun yang sebelumnya sehat. Ia menjadi pengingat bahwa influenza B bukan hanya ancaman serius bagi kelompok lanjut usia atau anak-anak. Pria tersebut datang ke rumah sakit dengan acute respiratory distress syndrome (ARDS).

Dalam enam minggu berikutnya, infeksi sekunder Pseudomonas aeruginosa memicu pneumonia nekrotik. Antibiotik maupun terapi oksigen tak mampu menghentikan penurunan kondisinya. Jantung dan ginjalnya pun mulai mengalami kegagalan fungsi.

“Jantungnya berhenti begitu tiba. Kami harus melakukan CPR,” ujar Profesor Ankit Bharat dari Northwestern University, yang memimpin upaya penyelamatan pasien ini, dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip IFLScience. “Ketika infeksi sudah sedemikian parah hingga paru-paru seperti meleleh, kerusakannya tidak bisa dipulihkan. Di situlah biasanya pasien meninggal.”

Bahkan jika transplantasi paru-paru ganda tersedia saat itu, kondisi tubuh pasien terlalu rusak akibat infeksi untuk menerimanya. Satu-satunya cara mengendalikan infeksi adalah dengan mengangkat kedua paru-paru, sehingga organ-organ lain berpeluang pulih. Namun langkah ini menghadirkan persoalan mendasar.

“Jantung dan paru-paru terhubung secara intrinsik. Jika tidak ada paru-paru, bagaimana cara menjaga pasien tetap hidup?” kata Bharat.

Namun, pengalaman pada pasien fibrosis kistik yang mampu bertahan hidup berhari-hari dengan bantuan paru-paru buatan memberi titik terang. Bharat dan timnya kemudian mengembangkan sebuah mesin yang mampu meniru fungsi paru-paru, mulai dari memasok oksigen ke darah, membuang karbon dioksida, sekaligus menjaga aliran darah tetap stabil meski jantung dalam kondisi lemah.

Sistem sementara ini tidak sepenuhnya dibangun dari nol. Paru-paru buatan yang membantu organ biologis yang melemah sebenarnya sudah ada. Proses oksigenasi darah melalui membran disebut Bharat sebagai konvensional. Yang lebih inovatif lagi adalah cara timnya mencegah tekanan berlebih pada jantung, arteri, dan ventrikel. Mereka menciptakan jalur alternatif keluar-masuk darah ke jantung menggunakan shunt yang mampu beradaptasi secara dinamis terhadap kekuatan aliran darah.

Begitu paru-paru pasien diangkat dan darahnya dialiri oksigen secara eksternal, organ-organ lain mulai menunjukkan perbaikan. Dua hari kemudian, ketika paru-paru donor tersedia, tim dokter menilai kondisinya cukup stabil untuk menjalani transplantasi. Operasi pun dilakukan.

Laporan ilmiah tentang prosedur ini baru dipublikasikan di jurnal Med setelah pasien tersebut bertahan hidup selama dua tahun dengan fungsi paru-paru yang baik dan kembali menjalani rutinitas sehat.

“Selama ini, transplantasi paru-paru biasanya diperuntukkan bagi pasien dengan penyakit kronis seperti penyakit paru interstisial atau fibrosis kistik,” ujar Bharat. “Saat ini, banyak yang beranggapan bahwa jika seseorang mengalami ARDS berat, cukup diberi dukungan dan paru-parunya akan pulih dengan sendirinya.”

Namun, hal itu tampak kecil kemungkinannya pada kasus ini. Pemeriksaan mendalam terhadap paru-paru yang diangkat menunjukkan jaringan parut yang begitu luas dan parah, sehingga pemulihan nyaris mustahil terjadi.

“Untuk pertama kalinya, secara biologis kami memberikan bukti molekuler bahwa sebagian pasien memang membutuhkan transplantasi paru-paru ganda. Tanpanya, mereka tidak akan bertahan hidup,” kata Bharat.

Saat ini, hanya sedikit rumah sakit yang mampu melakukan prosedur sekompleks ini. Meski demikian, Bharat berharap seiring pengulangan dan penyempurnaan teknik, pasien bisa dipertahankan hidup lebih lama saat paru-paru donor belum tersedia. Terlebih, ketersediaan paru-paru donor masih jauh dari mencukupi bagi semua yang membutuhkan.

“Dalam praktik saya, pasien muda meninggal hampir setiap minggu karena tak ada yang menyadari bahwa transplantasi adalah sebuah opsi,” ujar Bharat. “Untuk kerusakan paru-paru berat akibat virus pernapasan atau infeksi, transplantasi paru-paru bisa menjadi penyelamat nyawa.”

Secara evolusi, paru-paru merupakan salah satu inovasi biologis terpenting yang memungkinkan vertebrata hidup di darat. Selama sekitar 400 juta tahun, seluruh amfibi, reptil, burung, dan mamalia bergantung pada organini, bahkan hingga saat ini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Waspada Tren Lonjakan Global Penggunaan Gas Tertawa N2O
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
PDIP: Ambang Batas Parlemen Dorong Konsolidasi Demokrasi di DPR Lebih Efektif
• 8 jam laludetik.com
thumb
PPPK Paruh Waktu jadi Full Time Mulai Tahun Ini, tetapi Ada Hal Penting Belum Jelas
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
Rupiah Masih Tak Mampu Lawan Dolar, Ambruk ke Rp16.785 Pagi Ini
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Suku Bunga Dolar Masih Tinggi, Trump Mau Umumkan Calon Ketua The Fed Pekan Depan
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.