JAKARTA, DISWAY.ID– Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochamad Irfan Yusuf, memimpin upacara pengukuhan Petugas Haji Indonesia yang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Tahun 2026.
Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan bahwa disiplin merupakan fondasi utama bagi para petugas dalam mengawal martabat bangsa di Tanah Suci.
Upacara pengukuhan sekaligus penutupan diklat ini digelar di Lapangan Galaxy, Makodau 1 Halim Perdanakusuma, Pondok Gede, Jakarta, Jumat (30/1/2026).
BACA JUGA:Sejumlah Calon Petugas Haji 2026 Resmi Dicopot Saat Diklat PPIH, Kemenhaj Beri Penjelasan Tegas
Bertindak sebagai Komandan Upacara adalah Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak.
Acara ini dihadiri oleh jajaran menteri Kabinet Merah Putih, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar, perwakilan Komisi VIII DPR RI, serta Penasehat Khusus Presiden Bidang Haji, Muhadjir Effendy.
Sebanyak 1.635 Peserta Didik (Serdik) yang telah mengikuti pelatihan intensif dinyatakan siap diberangkatkan untuk melayani jemaah haji Indonesia tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Dalam amanatnya, Menhaj Irfan Yusuf mengingatkan bahwa penyelenggaraan haji bukan sekadar urusan teknis ibadah, melainkan amanah besar yang menyangkut kehormatan Indonesia di mata internasional.
"Petugas haji berada pada posisi yang sangat strategis. Saudara-saudara adalah wajah negara di hadapan jemaah dan di hadapan dunia. Kehadiran saudara tidak hanya dilihat dari pekerjaan yang diselesaikan, tetapi juga dari sikap, keteguhan, dan kepekaan dalam melayani," ujar Irfan di hadapan ribuan peserta.
BACA JUGA:Menhaj Irfan Yusuf Ingatkan Tugas Calon Petugas Haji Belum Berakhir Usai Diklat
Ia menambahkan, sebagai pengirim jemaah haji terbesar di dunia, Indonesia dituntut memiliki tata kelola yang tertib.
Hal ini hanya bisa dicapai jika petugas memiliki kualitas yang dapat diandalkan serta mampu menjaga ketenangan di tengah tantangan fisik dan emosional di Arab Saudi.
Menhaj juga menggarisbawahi pentingnya etika melayani. Menurutnya, membantu jemaah adalah bagian dari tanggung jawab moral sekaligus keagamaan.
Gus Irfan menegaskan bahwa tanpa kedisiplinan, baik disiplin waktu maupun regulasi, sistem pelayanan yang baik tidak akan berjalan optimal.
"Melayani jemaah berarti menjaga martabat manusia dan menghadirkan negara secara nyata di saat jemaah membutuhkan," tuturnya.
- 1
- 2
- »

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2026%2F01%2F30%2F4b39609d-c3ff-4a49-a65d-cc7d30103930.jpeg)



