EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat tajam pada akhir Januari, ditandai dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran, tekanan diplomatik berlapis dari Barat, serta manuver terselubung Rusia dan Tiongkok yang memperumit lanskap geopolitik Timur Tengah.
Pada 28 Januari, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa sebuah “armada indah” Angkatan Laut AS kembali bergerak menuju kawasan Iran. Dalam pernyataannya, Trump kembali mendesak Teheran agar segera kembali ke meja perundingan untuk membahas kesepakatan baru yang ia sebut “adil, masuk akal, dan bebas senjata nuklir.”
Trump menegaskan bahwa kesepakatan tersebut akan menguntungkan semua pihak, namun dia menekankan satu hal krusial: waktu yang tersisa sangat terbatas. Pernyataan itu disertai peringatan keras bahwa serangan berikutnya akan jauh lebih dahsyat, sebuah sinyal yang secara luas ditafsirkan sebagai ultimatum terakhir bagi Iran.
Latihan Militer AS dan Konsolidasi Strategis
Sejalan dengan pernyataan Trump, Pentagon menggelar latihan militer besar-besaran selama beberapa hari di kawasan Teluk Persia dan Laut Arab. Latihan ini mencakup berbagai skenario strategis, mulai dari pertahanan udara dan antirudal, pengawalan jalur pelayaran, hingga operasi serangan darat, mencerminkan kesiapan AS menghadapi spektrum konflik yang luas.
Di sisi lain, Washington juga memperluas konsolidasi militernya di Belahan Barat. Pada 11 Februari mendatang, Amerika Serikat akan menggelar Konferensi Pertahanan Belahan Barat pertama di Washington. Konferensi ini akan dipimpin oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Cain, dan dihadiri oleh menteri pertahanan atau pejabat militer senior dari 33 negara lain, sehingga total 34 pemimpin militer akan berkumpul.
Sejumlah akademisi menilai forum ini sebagai upaya AS untuk menegaskan kendali strategis atas Belahan Barat, melindungi aset vital, serta mencegah penetrasi kekuatan asing yang bermusuhan—yang secara implisit merujuk pada Tiongkok, Rusia, dan Iran.
Uni Eropa Siapkan Langkah Terkeras terhadap IRGC
Tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari Washington. Pada 29 Januari, Uni Eropa melontarkan peringatan terakhir kepada Teheran. Menjelang pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa, Wakil Presiden Uni Eropa, Kaja Kallas menyatakan secara terbuka bahwa Uni Eropa siap memasukkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) ke dalam daftar organisasi teroris, sejajar dengan Al-Qaeda, Hamas, dan ISIS.
Para ahli memperingatkan bahwa langkah ini akan berdampak luas. Jika IRGC resmi ditetapkan sebagai organisasi teroris, seluruh asetnya di wilayah Uni Eropa berpotensi dibekukan. Anggota IRGC juga akan menghadapi risiko hukum serius saat bepergian atau transit di Eropa, termasuk penangkapan dan ekstradisi. Selain itu, perusahaan atau individu yang memberikan dana, teknologi, peralatan, atau layanan kepada IRGC dapat dianggap membantu terorisme dan terancam tuntutan pidana.
Reuters melaporkan bahwa Uni Eropa telah menyetujui paket sanksi baru terhadap Iran, menargetkan individu dan entitas yang terlibat dalam penindasan protes domestik serta dukungan Iran terhadap Rusia dalam konflik Ukraina. Bersamaan dengan itu, Departemen Keuangan AS juga memperketat sanksi, membentuk tekanan ganda: pencegahan militer dan pencekikan finansial.
Rusia Kirim “Hadiah Militer” ke Teheran
Di tengah meningkatnya tekanan Barat, Rusia bergerak secara senyap. Sejumlah media mengutip laporan Izvestia pada 28 Januari, yang menyebutkan bahwa setidaknya satu unit helikopter tempur Mi-28N1 buatan Rusia telah tiba di Iran. Helikopter tersebut terlihat masih menggunakan kamuflase digital, belum dipasangi baling-baling utama, dan masih dibungkus pelindung—indikasi kuat bahwa unit tersebut baru diturunkan dan belum digunakan dalam operasi tempur.
Mi-28N1 dikenal memiliki kemampuan serangan antitank dan sasaran darat yang sangat kuat. Banyak analis menilai pengiriman ini sebagai sinyal politik Moskow untuk memperkuat moral Teheran sekaligus memamerkan aliansi militer Rusia–Iran, terutama di tengah kehadiran kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln di Timur Tengah.
Peran Tiongkok Dinilai Ambigu
Sementara itu, sikap Partai Komunis Tiongkok (PKT) dinilai semakin kontradiktif. Secara terbuka, Beijing menyerukan penahanan diri dan menentang penggunaan kekuatan. Namun di balik layar, langkah-langkah yang diambil menunjukkan kehati-hatian ekstrem.
Menurut laporan New Tang Dynasty, Beijing diam-diam menarik sebagian teknisi dan anggota keluarga mereka dari Iran, hanya menyisakan staf diplomatik dan inti perusahaan dengan profil rendah. Langkah ini dinilai sebagai upaya mengurangi risiko langsung, sambil tetap mempertahankan proyek strategis di Iran.
Di sektor energi, data berbagai media internasional menunjukkan bahwa dalam satu tahun terakhir, di bawah sanksi ketat AS, Tiongkok membeli lebih dari 80% ekspor minyak Iran, dengan volume sekitar 1,3–1,4 juta barel per hari. Minyak tersebut dilaporkan dibeli dengan harga 8–10 dolar AS lebih murah per barel dibanding harga pasar global.
Dengan demikian, meskipun di forum internasional Beijing menyampaikan retorika damai, pada praktiknya Tiongkok justru menjadi sumber pendanaan tunai terpenting bagi Teheran di bawah rezim sanksi.
Opsi Serangan dan Peran Israel
Reuters melaporkan bahwa sumber di Amerika Serikat mengungkapkan para penasihat Trump tengah mendiskusikan opsi serangan yang lebih besar dengan tujuan menciptakan dampak jangka panjang, termasuk terhadap rudal balistik Iran atau program pengayaan nuklirnya. Sementara itu, CNN menyebutkan bahwa perbedaan utama AS–Iran terletak pada tuntutan Washington untuk membatasi jangkauan rudal balistik, yang secara tegas ditolak Teheran.
Wakil profesor Universitas Kainan, Chen Wenjia, menilai bahwa tujuan utama AS adalah pencegahan dan pelemahan, bukan perang skala penuh. Strategi ini mencakup pengerahan kapal induk, pengamanan jalur pelayaran, serangan presisi, serta penekanan terhadap pendapatan minyak Iran—meniru pola tekanan tinggi yang pernah diterapkan terhadap Venezuela.
Pekan ini, pemerintahan Trump juga mengundang pejabat intelijen dan pertahanan dari Arab Saudi dan Israel ke Amerika Serikat. Axios melaporkan bahwa Arab Saudi mendorong solusi diplomatik, sementara delegasi Israel membawa daftar target potensial di dalam Iran untuk dibahas dengan pihak AS.
Chen Wenjia menilai bahwa tekanan multi-arah ini kemungkinan akan diwujudkan melalui taktik abu-abu, seperti operasi proksi, manipulasi risiko jalur pelayaran, dan tekanan politik. Israel diperkirakan akan menjadi garis depan utama, memberikan dukungan intelijen, serangan udara, dan pertahanan udara jika AS melakukan aksi militer terbatas.
Timur Tengah di Ambang Kesalahan Fatal
Saat ini, Timur Tengah memasuki fase kebuntuan berbahaya: tidak ada perundingan nyata, tidak ada pihak yang mundur, namun semua masih berusaha menghindari perang besar. Risiko terbesar justru berasal dari kesalahan perhitungan atau insiden mendadak, yang berpotensi memicu eskalasi regional berantai dengan konsekuensi global.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488046/original/041705900_1769699309-1000105413.jpg)


