Teori yang Indah, Kenyataan yang Rumit

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Pendidikan tinggi sejak lama dipandang sebagai ruang lahirnya gagasan besar dan nilai-nilai ideal. Di kampus, teori disusun secara sistematis, diajarkan dengan bahasa yang logis dan meyakinkan, serta dibingkai dalam tujuan mulia: menciptakan keadilan, keteraturan, dan kemajuan masyarakat. Di ruang kuliah, teori tampak indah dan utuh. Namun, keindahan itu sering kali diuji ketika mahasiswa berhadapan langsung dengan kenyataan sosial yang jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.

Mahasiswa diajarkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat perubahan sosial. Hukum dipahami sebagai sarana menegakkan keadilan, ekonomi sebagai instrumen pemerataan kesejahteraan, dan politik sebagai ruang memperjuangkan kepentingan publik. Semua konsep itu dibangun dalam kerangka ideal yang seolah-olah dapat diterapkan secara rasional. Akan tetapi, ketika teori tersebut bersentuhan dengan praktik di lapangan, realitas sering menunjukkan wajah yang berbeda. Keadilan tidak selalu hadir bagi semua orang, hukum tidak selalu berpihak pada kebenaran, dan kebijakan publik tidak selalu mencerminkan kepentingan masyarakat luas.

Kenyataan sosial bekerja dengan logika yang tidak selalu sejalan dengan teori. Dalam praktik, keputusan kerap dipengaruhi oleh relasi kuasa, kepentingan ekonomi, dan kompromi politik. Prosedur formal sering kali mengalahkan substansi keadilan. Akibatnya, banyak mahasiswa atau lulusan pendidikan tinggi mengalami keguncangan nilai. Apa yang selama ini diyakini sebagai kebenaran akademik seolah bertabrakan dengan praktik yang mereka temui di dunia nyata.

Kondisi ini menimbulkan dilema yang tidak sederhana. Di satu sisi, idealisme yang ditanamkan di bangku kuliah mendorong keberanian untuk bersikap kritis dan menolak ketidakadilan. Di sisi lain, realitas sosial menuntut penyesuaian agar seseorang dapat bertahan dan berfungsi dalam sistem yang ada. Tidak sedikit yang akhirnya memilih kompromi, sementara sebagian lainnya memilih menjaga jarak atau bahkan menarik diri dari kenyataan yang dianggap terlalu pahit.

Namun, kegagalan teori dalam menjawab seluruh kompleksitas kenyataan bukan berarti teori kehilangan maknanya. Justru teori hadir sebagai alat evaluasi dan refleksi. Tanpa teori, manusia kehilangan standar untuk menilai apakah suatu praktik layak dibenarkan atau tidak. Teori berfungsi sebagai kompas moral dan intelektual yang menjaga arah berpikir agar tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kepentingan sesaat.

Persoalan yang lebih mendasar terletak pada bagaimana pendidikan tinggi mempersiapkan mahasiswanya menghadapi jurang antara teori dan praktik. Pendidikan tinggi sering kali terjebak pada pengajaran normatif tanpa cukup membekali mahasiswa dengan pemahaman kontekstual. Mahasiswa diajarkan tentang apa yang seharusnya terjadi, tetapi tidak selalu diajak memahami mengapa kenyataan berjalan sebaliknya dan bagaimana menyikapinya secara kritis.

Seharusnya, pendidikan tinggi tidak hanya menjadi ruang transmisi ilmu, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran sosial. Mahasiswa perlu dilatih untuk membaca realitas dengan jujur, memahami struktur ketimpangan, serta menyadari batas-batas sistem yang ada. Dengan bekal tersebut, mereka tidak mudah terjebak pada sikap sinis ataupun apatis ketika menghadapi kenyataan yang tidak ideal.

Pertemuan antara teori yang indah dan kenyataan yang rumit sejatinya merupakan proses pendewasaan intelektual. Dari proses ini, lahir pemikiran yang lebih matang dan sikap yang lebih bijaksana. Idealisme tidak harus hilang, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam strategi yang realistis. Kritik tidak harus berhenti pada kemarahan, tetapi diarahkan pada upaya perubahan yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk tidak memutus hubungan antara teori dan kenyataan. Teori memberi arah dan nilai, sementara kenyataan memberi tantangan dan pembelajaran. Di antara keduanya, mahasiswa dan lulusan pendidikan tinggi dituntut untuk tetap berpikir kritis, menjaga nurani, dan berani mengambil peran. Sebab, perubahan sosial tidak lahir dari teori semata, tetapi juga dari keberanian untuk menghadapi kenyataan yang rumit tanpa kehilangan nilai yang diyakini.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPAI Dorong Rekam Medis Gizi Anak Jadi Dasar Program MBG
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Kejagung Geledah Rumah Eks Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar Terkait Kasus Sawit
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Polres Batu Bara Tangkap Dua Remaja Diduga Pengedar Narkoba
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Alat Pemadam Minim, Kebakaran di Tolikara Hanguskan Lebih dari 100 Bangunan
• 15 jam lalukompas.id
thumb
Polisi: Tak Ada Unsur Pidana di Kasus Tewasnya Lula Lahfah, Penyelidikan Disetop
• 8 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.