Kubu pro-junta militer menang besar dalam pemilu legislatif Myanmar

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Tokyo (ANTARA) - Faksi pro-militer Myanmar menang besar dalam pemilihan umum yang berlangsung dalam tiga tahap sejak Desember hingga Januari, sehingga menguatkan kekuasaan junta militer lima tahun setelah kudeta terhadap pemerintahan sipil pada 2021.

Menurut hasil resmi pemilu pada Kamis malam, Partai Uni Solidaritas dan Pembangunan (USDP) yang dibekingi junta Myanmar, mencatatkan persentase kemenangan 58 persen, sehingga menguasai 339 kursi dari 420 kursi parlemen yang dipertandingkan.

Dengan 166 kursi parlemen diisi oleh perwira militer melalui penunjukan langsung, faksi pro-militer menguasai 86 persen dari keseluruhan kursi Parlemen Myanmar.

Pemimpin junta, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, diperkirakan akan kembali diajukan sebagai calon presiden oleh kubu pro-militer saat parlemen Myanmar mulai bersidang pada Maret. Pemerintahan baru diperkirakan akan dilantik pada April.

Junta Myanmar mengeklaim pemilu tersebut sebagai bukti akan "kembalinya demokrasi," yang merupakan pemilu pertama sejak kudeta militer yang mengakhiri pemerintahan sipil dan menyebabkan perang saudara. Namun komunitas internasional mengecam pelaksanaan pemilu itu sebagai tipuan belaka.

Sistem pemilu telah diubah dari yang berlaku pada tahun 2020, di mana Liga Nasional Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi, yang kini dipenjara, menang besar. Usai kudeta, NLD dibubarkan junta militer.

Parlemen Myanmar, yang terdiri atas dua majelis, memiliki jumlah total kursi sebanyak 664, tetapi dengan 25 persen kursi dialokasikan untuk perwira militer.

Akibat tidak dilaksanakannya pemungutan suara di 78 daerah pemilihan yang tidak dikuasai junta atas dalih keamanan, jumlah total kursi di Parlemen Myanmar berkurang menjadi 586 dan menurunkan ambang batas pemerintahan mayoritas menjadi 294 kursi.

Komisioner Tinggi HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Volker Turk mengecam pelaksanaan pemilu Myanmar yang tidak menghormati hak dasar warga Myanmar, serta memandang proses yang berjalan "memperparah kekerasan dan polarisasi masyarakat".

Menurut rilis pers Komisioner Tinggi HAM PBB yang dirilis Jumat, sebagian besar pemungutan suara terpusat di wilayah perkotaan yang dikuasai militer dan dilaksanakan hanya secara terbatas di daerah-daerah konflik.

Karena itu, sebagian besar masyarakat, termasuk pengungsi dan kaum minoritas seperti suku Rohingya, tidak dapat memilih dalam pemilu.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Filipina Maria Thereza Lazaro, yang juga bertugas sebagai duta khusus ASEAN untuk urusan Myanmar, mengatakan bahwa ASEAN belum mencapai mufakat terkait respons organisasi terhadap pemilu tersebut.

China sudah menyampaikan ucapan selamat kepada otoritas Myanmar atas pemilihan umum dan menjanjikan dukungan yang berkelanjutan demi perdamaian dan stabilitas.

China, bersama Rusia, India, dan sejumlah negara anggota ASEAN, turut mengirimkan pengamat pemilu ke Myanmar.

Status keanggotaan Myanmar di ASEAN masih bertahan meski organisasi tersebut enggan mengakui junta militer Myanmar.

Menurut pandangan analis, rezim baru Myanmar akan tetap menghadapi perlawanan bersenjata dari milisi pro-demokrasi dan kelompok etnis minoritas, sementara perhatian global tetap akan tertuju pada perlakuan junta militer terhadap Aung San Suu Kyi.

Sumber: Kyodo

Baca juga: Menlu RI dorong ASEAN perkuat politik demi kawasan damai

Baca juga: ASEAN belum capai konsensus soal pemilu Myanmar


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
12 Ruas Jalan di Malang Dialihkan Selama Peringatan 1 Abad NU
• 12 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Yaqut Diperiksa KPK, Gus Yahya: Semua Tahu Dia Adik Saya, Silakan Diproses!
• 12 jam lalusuara.com
thumb
KPK Periksa Mantan Asisten Ridwan Kamil di Kasus Pengadaan Iklan
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Kabur dari RS Saat Operasi, Gembong Curanmor Pringsewu Diburu Polisi
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
30.000 Koperasi Desa Rampung Maret 2026
• 13 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.