Kekurangan cairan atau dehidrasi dapat berdampak langsung pada fungsi organ, metabolisme, hingga konsentrasi, sehingga perempuan dengan aktivitas padat disarankan memenuhi kebutuhan cairan setiap 1–2 jam. Hal ini disampaikan dokter spesialis penyakit dalam Dr. Cynthia Natalia, Sp.PD, AIFO-K, melalui laman Tzu Chi Hospital, saat menjelaskan pentingnya menjaga hidrasi tubuh sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Dr. Cynthia menyebutkan, tubuh yang tidak terhidrasi pada satu jam pertama umumnya masih mampu beradaptasi. Namun, kadar cairan mulai menurun secara perlahan. Produksi air liur berkurang sehingga mulut terasa kering, dan otak mulai mengirimkan sinyal haus. Pada fase ini, konsentrasi dapat sedikit menurun, terutama jika disertai aktivitas fisik atau berada di ruangan ber-AC.
Efek dehidrasi ringan menjadi lebih nyata apabila tubuh tidak memperoleh cairan selama sekitar tiga jam. Beberapa orang mulai merasakan sakit kepala ringan, kelelahan, hingga kesulitan fokus. Kulit dapat terasa lebih kering, dan warna urine menjadi lebih pekat sebagai tanda awal kekurangan cairan.
“Kebiasaan kurang minum air putih dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit seperti batu ginjal karena ada penumpukan mineral yang tidak terlarut dengan baik, dan gangguan konsentrasi serta kelelahan kronis, terutama pada pekerja aktif dan lansia,” ujar Dr. Cynthia.
Selain memperhatikan frekuensi minum, kualitas air juga berperan dalam menjaga hidrasi. Penelitian yang dilakukan Bint-E-Zahra, ahli biologi molekuler dari Institute of Molecular Biology & Biotechnology Bahauddin Zakariya University, Pakistan, menyebutkan bahwa konsumsi air minum berperasa berpotensi berdampak pada munculnya sindrom metabolik.
“Konsumsi air minum murni dapat mengurangi risiko penurunan kemampuan kerja ginjal sebesar 11% dibandingkan dengan mengonsumsi minuman berperasa dan mengandung gula,” ujar Bint-E-Zahra dalam penelitian yang diterbitkan di National Journal of Health Sciences pada 2019.
Menjawab kebutuhan akan hidrasi yang lebih optimal, Amidis menghadirkan air minum murni yang diproses melalui metode multifiltrasi dan distilasi. Head of Marketing Amidis, Astrid Adelaide Siregar, menjelaskan, “Amidis adalah satu-satunya air murni yang diproses melalui teknologi multifiltrasi dan dimasak dengan pemanasan 110 derajat Celsius (distilasi). Uap air yang dihasilkan benar-benar murni untuk dikonsumsi karena tidak ada kontaminan apa pun.”
Astrid menambahkan, proses tersebut memastikan Amidis menjadi air minum yang aman untuk membantu menghidrasi tubuh serta menjaga kesehatan ginjal. Selain itu, Amidis menyediakan galon sekali pakai ukuran 15 liter yang BPA free sebagai solusi praktis bagi keluarga modern.
“Memastikan keluarga Indonesia mendapatkan air minum dengan kualitas terbaik merupakan visi dan misi dari Amidis,” ungkap Commercial Director PT Amidis Tirta Mulia, Susilo Gunadi.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488936/original/070718400_1769770630-1000153773.jpg)
