Penetrasi Asuransi Masih Rendah, Industri Hadapi Tantangan Struktural

wartaekonomi.co.id
9 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) menilai tidak hanya literasi, tapi juga kepercayaan publik terhadap industri asuransi menjadi faktor rendahnya penetrasi asuransi yang hingga kini masih menjadi tantangan di Indonesia meskipun kebutuhan perlindungan risiko terus meningkat.

Direktur Eksekutif AAUI, Cipto Hartono, mengatakan literasi masih menjadi pekerjaan rumah utama industri. Namun, persoalan kepercayaan (trust issue) turut membentuk rendahnya minat masyarakat terhadap asuransi.

Isu tersebut, menurutnya, telah berlangsung cukup lama dan dipicu oleh sejumlah kasus di industri yang kemudian digeneralisasi oleh masyarakat.

“Literasi itu kan bukan sekadar produk, tapi yang saat ini menjadi PR besar, udah mulai cukup lama adalah trust isunya. Trust isunya terbentuk karena industri ini, kebetulan ada beberapa kasus-kasus yang masif, sayangnya kadang-kadang kan nasabah itu mengeneralisir,” ujar Cipto.

Ia menjelaskan, meskipun beberapa kasus tersebut tidak selalu berasal dari asuransi umum, persepsi publik kerap menyamaratakan seluruh sektor asuransi. Adanya kondisi ini juga berdampak langsung pada keputusan masyarakat untuk membeli produk perlindungan.

Baca Juga: AAUI Ungkap Arah Penguatan Asuransi Bencana Nasional

AAUI menilai, industri perlu mendorong market creation sebagai strategi memperluas basis asuransi salah satunya dengan pendekatan yang dinilai efektif adalah melalui embedded insurance, yakni produk asuransi yang melekat pada layanan atau aktivitas ekonomi lain.

“Salah satunya adalah dengan embedded insurance, asuransi yang melekat-melekat ke layanan-layanan lain. Misalnya dengan travel, perizinan untuk misalnya restoran, contoh restoran kan ada risiko keracunan untuk tamunya,” jelasnya.

Cipto menegaskan, pendekatan tersebut memungkinkan peningkatan volume peserta secara signifikan. Jika volumenya besar, biaya perlindungan dapat ditekan sehingga premi menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Untuk contoh adalah skema BPJS Kesehatan yang mampu menjangkau peserta secara massal dengan iuran relatif kecil.

“Kalau di swasta, mungkin premi per orang setahun bisa Rp5 juta atau Rp10 juta. Tapi pada saat Rp75 ribu per bulan, rasanya menjadi terjangkau,” ujarnya.

Lebih dalam, Cipto menegaskan peningkatan penetrasi asuransi tidak dapat dilakukan oleh industri semata. Adanya kolaborasi dinilai penting untuk menjadi kunci agar upaya integrasi asuransi ke berbagai sektor, seperti asuransi peternakan dan energy saving untuk konversi energi.

“Hal seperti ini harapannya bisa meningkatkan inklusi secara keseluruhan, penetrasi keseluruhan,” kata Cipto.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Profil Mirza Adityaswara dan Pengunduran Dirinya dari OJK
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
Rodgers & Hammerstein’s Cinderella Tampil Perdana di Indonesia
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dituding Bela Denada Soal Dugaan Penelantaran Anak, Irfan Hakim Buka Suara: Saya Tidak Berpihak
• 21 jam lalugrid.id
thumb
Rekomendasi acara menarik saat akhir pekan di Jakarta
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Bos Danantara Tunggu Keputusan Perminas soal Ambil Alih Kelola Tambang Martabe
• 23 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.