Penulis: Fityan
TVRINews - Barcelona
Manajer Manchester City sebut dunia abai terhadap penderitaan warga sipil di Gaza dalam pidato emosional di Barcelona.
Manajer Manchester City, Pep Guardiola, menyampaikan pesan mendalam mengenai krisis kemanusiaan yang menimpa anak-anak di Palestina.
Dalam sebuah acara amal di Barcelona pada Jumat 30 Januari 2026, Guardiola mengkritik keras sikap diam para pemegang kekuasaan dunia yang ia nilai gagal melindungi warga sipil yang tak berdosa.
Mengenakan syal keffiyeh sebagai bentuk solidaritas, pelatih berusia 55 tahun tersebut mengungkapkan rasa pedihnya saat menyaksikan dokumentasi penderitaan di wilayah konflik melalui media sosial dan televisi selama dua tahun terakhir.
"Saat saya melihat seorang anak di antara reruntuhan bertanya, 'di mana ibu saya?' dan dia bahkan belum mengetahui apa yang terjadi, saya selalu berpikir: 'Apa yang ada di pikiran mereka?'" ujar Guardiola di hadapan hadirin.
Menurutnya, masyarakat internasional seolah membiarkan anak-anak tersebut berjuang sendirian tanpa bantuan yang berarti. "Saya merasa kita telah meninggalkan mereka, menelantarkan mereka," tambahnya dengan nada emosional.
Kritik Terhadap Kepemimpinan Dunia
Dalam pidatonya yang bertajuk pernyataan untuk kemanusiaan, Guardiola tidak ragu menyentil para pemimpin global. Ia menyebut kegagalan dalam menghentikan kekerasan merupakan bentuk ketidakberanian politik.
"Mungkin karena mereka yang berkuasa adalah penakut, karena pada dasarnya mereka mengirim pemuda-pemuda lugu untuk membunuh orang-orang yang juga tidak bersalah," tegas pria yang telah membawa City meraih berbagai gelar bergengsi tersebut.
Guardiola melewatkan konferensi pers pra-pertandingan rutin di Manchester pada hari Jumat karena alasan pribadi demi menghadiri acara ini.
Posisinya digantikan oleh asisten pelatih, Pep Lijnders, guna memberikan keterangan terkait persiapan tim melawan Tottenham Hotspur pada hari Minggu mendatang.
Konteks Konflik
Seruan Guardiola muncul di tengah situasi yang tetap tegang di Timur Tengah. Meskipun sempat tercapai kesepakatan gencatan senjata yang rapuh pada Oktober lalu, korban jiwa terus berjatuhan.
Berdasarkan data dari kementerian kesehatan di Gaza, lebih dari 400 warga Palestina dilaporkan tewas dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, laporan media lokal Israel yang mengutip pejabat senior militer menyebutkan bahwa estimasi total korban jiwa di pihak Palestina sejak awal perang Gaza telah mencapai sekitar 70.000 orang.
Pidato ini menandai langkah langka bagi seorang figur olahraga besar di Liga Inggris untuk berbicara secara terbuka mengenai isu geopolitik yang sensitif di tengah padatnya jadwal kompetisi.
Editor: Redaksi TVRINews





