Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Center of Reform on Economics (CORE) Etika Karyani menyarankan pengganti Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) haruslah sosok yang berani dan bersih.
Menurut dia, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu, hal itu menjadi kunci utama dalam memperbaiki arsitektur pengawasan yang terlalu reaktif, minim transparansi, dan rentan kompromi, serta tata kelola internal juga harus diperkuat dalam rangka memulihkan kepercayaan pasar.
Dengan demikian, sosok Ketua Dewan Komisioner OJK harus tegas dan tanpa kompromi dalam rangka menjaga kepercayaan pasar serta investor baik domestik maupun global.
"Saat ini, krusial dengan tindakan nyata, seperti menindak tegas emiten bermasalah, membuka data kepemilikan secara penuh, mengaudit ulang struktur pasar. Jangan lupa regulator harus berintegritas dengan tidak melindungi elite pasar," katanya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya.
Disusul Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara menyatakan pengunduran diri.
Selain itu, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) IB Aditya Jayaantara juga telah menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman juga telah mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada Jumat (30/01) pagi.
Iman mengatakan pengunduran diri yang dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kondisi pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini.
Baca juga: Pengamat: Pasar butuh kejelasan arah usai mundurnya petinggi OJK-BEI
Baca juga: Kemarin ekonomi, Ketua OJK mundur sampai IHSG bergerak menguat
Baca juga: OJK: Pengunduran diri Mirza Adityaswara tak pengaruhi tugas regulator
Menurut dia, saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Sabtu, hal itu menjadi kunci utama dalam memperbaiki arsitektur pengawasan yang terlalu reaktif, minim transparansi, dan rentan kompromi, serta tata kelola internal juga harus diperkuat dalam rangka memulihkan kepercayaan pasar.
Dengan demikian, sosok Ketua Dewan Komisioner OJK harus tegas dan tanpa kompromi dalam rangka menjaga kepercayaan pasar serta investor baik domestik maupun global.
"Saat ini, krusial dengan tindakan nyata, seperti menindak tegas emiten bermasalah, membuka data kepemilikan secara penuh, mengaudit ulang struktur pasar. Jangan lupa regulator harus berintegritas dengan tidak melindungi elite pasar," katanya.
Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar dan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya.
Disusul Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara menyatakan pengunduran diri.
Selain itu, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) IB Aditya Jayaantara juga telah menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya.
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman juga telah mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya pada Jumat (30/01) pagi.
Iman mengatakan pengunduran diri yang dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kondisi pasar modal Indonesia dalam beberapa waktu terakhir ini.
Baca juga: Pengamat: Pasar butuh kejelasan arah usai mundurnya petinggi OJK-BEI
Baca juga: Kemarin ekonomi, Ketua OJK mundur sampai IHSG bergerak menguat
Baca juga: OJK: Pengunduran diri Mirza Adityaswara tak pengaruhi tugas regulator





