Harlah NU 2026, Menag Bicara soal Political Shock hingga Economic Shock

kompas.com
7 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengimbau agar Nahdlatul Ulama (NU) harus mengedepankan superteam atau menjadi tim yang unggul agar bisa menghadapi guncangan politik hingga ekonomi.

"Karena itu untuk ke depan, Nahdlatul Ulama sudah waktunya kita lebih menekankan figur-figur manajer yang senantiasa akan mengedepankan superteam, atau the power of we," kata Nasaruddin dalam paparannya di Hari Lahir (Harlah) ke-100 NU yang digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1/2026).

Baca juga: Gus Ipul dan Kyai Miftachul Akhyar Tak Terlihat di Perayaan 1 Abad NU

Ia menilai masa depan datang lebih awal daripada kemampuan untuk mempersiapkan diri.

Hal ini menjadi salah satu tantangan ke depan untuk NU.

"Tentu tantangan besar PBNU dan segenap warga nahdliyin di masa depan yang paling konkret di depan mata kita ialah masa depan datang lebih awal, lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mempersiapkan diri menjemput si masa depan itu," ujar Menag.

Dinamika zaman yang bergerak cepat ini menimbulkan guncangan atau shock di pelbagai lini.

"Akibatnya apa yang terjadi? Terjadilah multiple shock. Ada theological shock, ada cultural shock, ada political shock, ada economical shock, bahkan apalagi ada scientifical shock," sambungnya.

Baca juga: Menag Ingatkan Santri Harus Hormati Kiai, Ketum PBNU Menyimak

Oleh karenanya, ia menekankan NU ke depannya harus bisa menjadi superteam.

Ingatkan untuk teladani Nabi

Di sisi lain, ia mengakui NU juga sudah memiliki sejumlah figur atau pemimpin yang hebat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Tapi ke depan, seiring dengan situasi yang berubah dan berbeda, yang kita perlukan adalah kombinasi antara figur manajer dan figur leader. Ini artinya sama dengan kepemimpinan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam," ucapnya.

"Nabi bukan hanya menonjol sebagai super, Nabi hanya tidak menonjol sebagai leader, tapi juga menonjol sebagai manajer," lanjutnya lagi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bogor Perluas Ruang Hijau Melalui Hutan Kota di Tiap Kecamatan
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Kecanggihan "Trionda", Bola Resmi Piala Dunia 2026
• 8 jam lalutvrinews.com
thumb
Mensesneg Angkat Bicara soal Mundurnya Dirut BEI, Prasetyo: Tak Ada Perintah Presiden
• 22 jam laludisway.id
thumb
Erdogan Siap Jadi Mediator AS-Iran di Tengah Ketegangan dan Protes di Iran
• 13 jam lalupantau.com
thumb
Warga Kampung Sawah Geram, Gerai Miras Beroperasi di Lingkungan Pendidikan
• 19 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.