Kita hidup di zaman ketika kecerdasan buatan (AI) semakin menentukan cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan. Teknologi digital menjanjikan efisiensi dan kemudahan, tetapi sekaligus membawa risiko baru: manusia perlahan kehilangan jeda untuk berpikir dan ruang untuk bertanya secara moral.
Di sinilah pertanyaan penting muncul: Apakah kemajuan teknologi ini membantu kita menjadi manusia yang lebih bertanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan hidup?
Pertanyaan tersebut sejalan dengan ajakan Zygmunt Bauman untuk menjadi manusia reflektif di tengah dunia yang ia sebut modernitas cair—dunia yang serba cepat, tidak stabil, dan mudah berubah.
Bagi Bauman, krisis utama manusia modern bukan kekurangan teknologi, melainkan menipisnya tanggung jawab moral. Tanpa refleksi, manusia mudah hanyut dalam logika sistem, pasar, dan algoritma. Manusia semakin mudah menyerahkan keputusan—dan juga rasa bersalah—kepada sistem.
Ketika Algoritma Mengambil Alih KeputusanDalam era AI, banyak keputusan dibuat berbasis data dan perhitungan efisiensi. Kita merasa hidup menjadi lebih mudah, tetapi sering lupa bertanya: Siapa yang diuntungkan dan siapa yang disingkirkan?
Bauman mengingatkan bahwa sistem modern cenderung membebaskan individu dari rasa bersalah. Ketika sesuatu berjalan tidak adil, kita berlindung di balik kalimat, “Itu keputusan sistem” atau “Algoritma memang begitu.”
Peringatan ini sejalan dengan pemikiran Yuval Noah Harari, yang menegaskan bahwa manusia berisiko kehilangan otonomi ketika data dan algoritma lebih dipercaya daripada kebijaksanaan manusia. Harari mengingatkan bahwa di masa depan, bukan hanya tenaga manusia yang tergantikan, melainkan juga kemampuan manusia untuk mengambil keputusan etis secara mandiri.
Kegelisahan Yuval Noah Harari—yang menyebut bahwa di masa depan manusia bisa kehilangan otonomi—bukan karena mesin menjadi jahat, melainkan karena manusia terlalu percaya pada data dan teknologi. Ketika algoritma dianggap lebih tahu dari nurani, refleksi pun tersingkir.
Ekoteologi: Mengembalikan Relasi yang TerputusKrisis ekologis global menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak otomatis membawa kebijaksanaan. Alam terus dieksploitasi atas nama pertumbuhan dan efisiensi.
Dalam perspektif ekoteologi—yang juga digaungkan oleh banyak pemikir dan tokoh agama di Indonesia—krisis lingkungan adalah krisis relasi: relasi manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.
Pemikir Indonesia seperti Emil Salim berulang kali menekankan bahwa pembangunan yang mengabaikan kelestarian lingkungan adalah bentuk ketidakadilan antargenerasi. Sementara itu, Franz Magnis-Suseno mengingatkan bahwa etika tidak boleh tertinggal di belakang kemajuan ilmu dan teknologi. Pemikiran ini sejalan dengan Bauman: tanpa refleksi moral, modernitas justru melahirkan kerusakan yang sistemik.
Dalam konteks ini, ekoteologi mengajak manusia kembali menyadari bahwa bumi bukan sekadar objek yang bisa dihitung dan dikuasai, melainkan juga rumah bersama yang harus dirawat.
Di era digital, refleksi ekologis berarti berani bertanya: Apakah teknologi yang kita gunakan membantu merawat kehidupan, atau justru menjauhkan kita dari kesadaran akan dampak ekologis gaya hidup digital—mulai dari konsumsi energi pusat data hingga budaya “pakai dan buang”?
Pendidikan sebagai Ruang Melatih RefleksiDigitalisasi pendidikan—kelas daring, AI tutor, dan sistem evaluasi otomatis—tidak terelakkan. Namun, pendidikan tidak boleh direduksi menjadi sekadar proses transfer keterampilan teknis. Bauman menegaskan bahwa pendidikan seharusnya membentuk manusia yang mampu hidup bersama secara bermartabat, bukan sekadar individu yang kompetitif.
Ki Hadjar Dewantara jauh hari mengingatkan bahwa pendidikan adalah upaya “menuntun segala kekuatan kodrat anak” agar mereka tumbuh sebagai manusia merdeka dan bertanggung jawab. Dalam konteks era AI, kemerdekaan itu berarti kemampuan berpikir kritis, reflektif, dan beretika—bukan sekadar mahir menggunakan teknologi.
Pendidikan yang reflektif dan berperspektif ekoteologi perlu mengajak peserta didik memahami keterkaitan antara krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan pilihan-pilihan teknologi. Tanpa itu, kita berisiko melahirkan generasi yang cerdas secara digital, tetapi miskin empati dan kepedulian.
Dari Koneksi Digital ke Tanggung Jawab SosialMedia sosial memperluas koneksi, tetapi sering melemahkan relasi. Perbedaan pandangan mudah berubah menjadi polarisasi, sementara empati tergantikan oleh algoritma popularitas. Bauman mengingatkan bahwa kehidupan bersama hanya mungkin jika manusia bersedia memikul tanggung jawab terhadap “yang lain”, terutama mereka yang paling rentan.
Harari pun mengingatkan bahwa tantangan terbesar abad ke-21 bukan hanya teknologi, melainkan juga makna dan solidaritas. Tanpa refleksi, manusia akan terfragmentasi—terhubung secara digital, tetapi terasing secara sosial dan ekologis.
Menjaga Nurani di Tengah MesinBauman tidak menawarkan solusi instan atau utopia digital. Ia mengajak kita hidup dalam ketidakpastian dengan tetap memegang tanggung jawab moral. Di era AI, refleksi adalah tindakan kecil, tetapi radikal: melambat, bertanya, dan bertindak dengan kesadaran etis.
Ekoteologi dan pendidikan memberi arah agar teknologi bukan menjadi tuan, melainkan menjadi alat untuk merawat kehidupan. Pertanyaannya bukan "Seberapa canggih AI yang kita miliki" melainkan "Seberapa jauh kita tetap manusia—yang peduli, bertanggung jawab, dan setia merawat bumi serta sesama?"





