Intelijen Sebut Tak Ada Ancaman, Mengapa Trump Tetap Siagakan Kapal Induk untuk Gempur Iran?

matamata.com
5 jam lalu
Cover Berita

Matamata.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersikukuh mempertimbangkan opsi serangan militer terhadap Iran.

Padahal, laporan terbaru intelijen AS dan Israel menyimpulkan bahwa program nuklir Teheran saat ini tidak menimbulkan ancaman langsung bagi keamanan Amerika Serikat.

Mengutip laporan khusus The New York Times, Jumat (30/1/2026), pejabat AS dan Eropa mengungkapkan minimnya bukti bahwa Iran telah memulai kembali pengayaan uranium tingkat tinggi.

Enam bulan pasca-serangan AS pada Juni 2025, Teheran juga dilaporkan belum memproduksi rudal baru.

Kondisi ini memicu tanda tanya besar di kalangan diplomatik terkait urgensi ancaman baru yang dilontarkan Washington pekan ini. Sebelumnya, pada Juni 2025, Trump telah memperingatkan bahwa serangan di masa depan akan "semakin parah" jika Iran menolak berdamai.

Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan posisi keras presiden. "Negara pendukung terorisme nomor satu di dunia tidak boleh dibiarkan memiliki senjata nuklir," tegasnya.

Pengerahan Militer Skala Besar Sebagai bentuk gertakan, Departemen Pertahanan AS telah menghimpun kekuatan militer masif di Timur Tengah.

Satuan tugas ini mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln, armada pesawat tempur, sistem pertahanan rudal, serta puluhan ribu personel tambahan.

Namun, di balik layar, sejumlah pejabat senior AS secara anonim mengakui ketidakpastian dinamika jika eskalasi benar-benar terjadi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam rapat dengar pendapat dengan Senat, Rabu (28/1), juga mengakui bahwa konsekuensi runtuhnya kepemimpinan Iran masih menjadi "pertanyaan terbuka".

Baca Juga
  • Hadirkan Program 'Ramadan Penuh Cinta', Deddy Mizwar Beri Tontonan Bermanfaat

Rubio menyoroti kompleksitas kekuasaan di Teheran yang terbagi antara Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Kondisi Situs Nuklir Iran Laporan intelijen meyakini cadangan uranium Iran yang terdampak serangan tahun lalu masih terkubur dan sulit dijangkau, sehingga produksi senjata dalam waktu dekat hampir mustahil dilakukan.

Meski demikian, Teheran terpantau terus memperdalam penggalian di situs nuklir dekat Natanz dan Isfahan sebagai langkah antisipasi.

Langkah agresif Trump ini mendapat kritik tajam dari legislator Partai Demokrat. Anggota DPR AS, Jason Crow, menekankan bahwa unjuk kekuatan militer bukanlah solusi jangka panjang.

"Yang dibutuhkan saat ini bukanlah pengerahan senjata, melainkan kesepakatan permanen yang dapat diverifikasi untuk memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir," ujar Crow. (Antara)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kejagung Sidik Kasus Tata Kelola Sawit, Rumah Eks Menteri KLHK Siti Nurbaya Digeledah
• 22 jam lalukompas.id
thumb
PDIP Masih Kaji Pengurangan Parliamentary Threshold: Harus Lihat Kehendak Rakyat
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
HP Mulai Dibatasi di Sekolah-Sekolah Banten per Februari 2026
• 5 jam laludisway.id
thumb
Produk Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Juga Turut Merosot hingga Rp89.000
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
No Na Rilis MV Work (+62), Simpel Tapi Vibes-nya Pecah Banget
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.