Harga tembaga di London Metals Exchange (LME) menguat 22% dari di bawah US$ 11.000 per ton pada penutupan November 2025 lalu ke rekor tertinggi US$ 13.387 pada 6 Januari 2026 lalu. Dari perspektif pasar, sentimen yang mendorong lonjakan harga ini terutama adalah faktor di sisi pasokan dan persediaan tembaga di tingkat global yang cenderung ketat sementara di sisi permintaan terdapat sinyal peningkatan penggunaan akhir yang lebih stabil.
Pasokan
Merujuk publikasi International Copper Study Group (ICSG, 2025) produksi tambang tembaga global tercatat meningkat sekitar 1,4% pada tahun 2025, dan diproyeksikan akan terus tumbuh mencapai 2,3% pada tahun 2026.
Pada tahun 2025 lalu, pertumbuhan produksi tambang tembaga global tumbuh "hanya" 1,4%, terutama karena terjadinya gangguan produksi di tambang Grasberg (Indonesia) dan Kamoa (DRC), yang berdampak negatif pada volume produksi tambang global secara keseluruhan.
Pertumbuhan produksi pada tahun 2025 terutama bersumber dari peningkatan produksi di tambang Kamoa (sebelum gangguan produksi), proyek ekspansi di Oyu Tolgoi (Mongolia), dan peningkatan produksi di tambang Malmyz yang baru (Rusia).
Tingkat pertumbuhan produksi tembaga diproyeksikan meningkat menjadi 2,3% pada tahun 2026, terutama dikontribusikan oleh ekspansi kapasitas produksi tambang di beberapa negara seperti di Chili, Peru, dan Zambia, dan pemulihan tingkat operasional di tambang Grasberg Indonesia. Pada segmen tembaga olahan, produksi global tumbuh sekitar 3,4% pada tahun 2025 dan diperkirakan akan tetap tumbuh di kisaran 0,9% pada tahun 2026.
Pertumbuhan produksi tembaga olahan elektrolitik primer akan dibatasi oleh pasokan konsentrat yang ketat, namun hal itu diproyeksikan akan dikompensasi oleh peningkatan produksi hidrometalurgi dan sekunder (dari skrap). Produksi hidrometalurgi diproyeksikan tumbuh sebesar 2,2% pada tahun 2026, sementara produksi tembaga olahan sekunder (dari skrap) diperkirakan akan meningkat hingga sebesar 6%.
Permintaan
Dari publikasi ICSG 2025 diketahui bahwa penggunaan tembaga olahan global diproyeksikan akan meningkat sebesar 2,1% menjadi 28,7 juta ton pada tahun 2026. Pertumbuhan positif ini sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 3% yang terjadi pada 2025, terutama karena pertumbuhan konsumsi di China diproyeksi akan melambat. China menyumbang hingga 58% dari penggunaan tembaga olahan global.
Permintaan "tradisional" tembaga olahan di China di sektor konstruksi (sekitar 30% dari konsumsi) kehilangan momentum dan kondisi terbaiknya cenderung sebatas akan stagnan. Namun permintaan untuk keperluan terkait energi bersih/kendaraan listrik relatif mendapatkan pangsa pasar yang cukup bisa diandalkan secara berkelanjutan.
Hal ini penting untuk menjadi perhatian karena dari sisi karakteristik permintaan, sektor konstruksi/properti cenderung memiliki tonase yang lebih besar, secara historis lebih bersifat siklikal, dan lebih sensitif terhadap kondisi pembiayaan dan sentimen, sementara permintaan di elektrifikasi relatif lebih stabil tetapi cukup membutuhkan waktu untuk sepenuhnya dapat mengimbangi kelemahan permintaan di sektor properti.
Dalam kaitan dengan hal ini, IEA memperkirakan pertumbuhan permintaan listrik global sekitar 3,7% pada tahun 2026. Peningkatan permintaan listrik yang kuat dari industri, pendingin udara (AC), dan pusat data, serta kemajuan signifikan dalam elektrifikasi merupakan faktor utama pendukung pertumbuhan penggunaan listrik pada 2026 ini.
Short-Term Outlook
Mencermati data dan informasi yang ada, setelah mengalami surplus hingga 600 ribu ton pada 2025 lalu, untuk tahun 2026 secara umum pasar tembaga olahan global diproyeksikan akan ketat dan cenderung dapat mengalami defisit hingga 150.000 ton. Kencenderungan untuk terjadinya defisit terutama adalah berkaitan dengan proyeksi produksi tembaga olahan yang lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya, yang disebabkan oleh berkurangnya pasokan konsentrat tembaga di pasar.
Dari sisi pertambangan, produksi tambang tembaga global diperkirakan akan tumbuh sekitar 2,3% pada tahun 2026, tetapi hal ini tidak sepenuhnya terkonversi menjadi pasokan logam olahan karena pertumbuhan peleburan/pemurnian relatif terhambat.
Sehingga menciptakan kesenjangan antara pertumbuhan tambang di hulu dan ketersediaan logam olahan di hilir. Ketatnya pasokan ini kemungkinan terutama berlangsung di jangka pendek - setidaknya paruh pertama - 2026, dan belum bisa dianggap sepenuhnya akan berkelanjutan sepanjang tahun.
Jika melihat perkembangan harga di masa lampau, level harga yang kemungkinan cenderung tinggi di paruh pertama 2026 - dan sudah terjadi - dapat dikatakan lebih merupakan short-run equilibrium pasar. Level harga tersebut sudah di atas tingkat harga long-run equilibrium yang oleh beberapa lembaga internasional seperti Bank Dunia menyebut taksiran US$ 9.800/t atau Goldman Sachs dengan kisaran US$ 11.000-11.500/t.
Proyeksi harga jangka pendek itu sendiri lebih mencerminkan adanya semacam short-run equilibrium dilemma di dalam pasar tembaga global. Di sisi pasokan ada kondisi dimana secara operasional mungkin diperlukan pengurangan produksi pabrik pengolahan - karena hal itu akan mengurangi hambatan operasional di sisi pasokan konsentrat, namun dari sisi keseimbangan pasar hal itu juga akan (makin) memperketat pasokan tembaga olahan dan mendukung harga yang lebih tinggi.
Dengan kata lain, jika merujuk kepada long run equilibrium - di mana pada gilirannya akan ada "koreksi" operasional di sisi pasokan -, maka penguatan harga yang terjadi di awal 2026 dan mungkin masih akan bertahan hingga paruh pertama ini lebih mencerminkan adanya distorsi fisik dan kebijakan di sisi pasokan yang lebih bersifat sementara, dan bukan merupakan rezim keseimbangan harga tinggi yang bersifat permanen.
Dari sisi permintaan, faktor ketidakpastian dan kemungkinan perlambatan ekonomi global yang dapat mengurangi laju pertumbuhan permintaan tembaga, juga sejalan dengan bahwa level harga tinggi yang ada saat ini masih lebih merupakan short run equilibrium price saja.
(miq/miq)




