Kisah menyentuh datang dari Kulon Progo, Yogyakarta. Seorang siswi kelas 3 SD, Ariendra Ralea Irgantari (9), terpaksa membawa adiknya yang berusia 4 tahun, Ravan Elkaraka Faturahman, ke sekolah setiap hari. Hal ini dilakukannya karena sang ibu, Rubianti, yang tengah menjalani perawatan kemoterapi akibat kanker payudara, tidak dapat menjaga adik kecilnya selama ia berobat.
Ariendra mengaku tidak merasa terganggu atau kesulitan, meski harus membawa adiknya ke sekolah setiap hari. "(Membawa adik ke sekolah) senang, engga keberatan, saya juga enggak merasa terganggu," ujarnya.
Selama di sekolah, Revan sang adik tampak tenang. Jika merasa bosan di dalam kelas, ia akan bermain di teras sekolah tanpa mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar. Kehadiran Revan justru menjadi sarana bagi siswa lain untuk belajar tentang arti empati dan kepedulian terhadap sesama.
Sudah beberapa pekan terakhir, pemandangan Ralea yang duduk di bangku kelas didampingi adiknya menjadi hal yang biasa di SDN Gembongan. Beruntung, pihak sekolah memberikan kebijakan khusus atas dasar kemanusiaan.
Kepala SDN Gembongan, Priastuti Komarul, mengungkapkan bahwa pihaknya mengizinkan hal tersebut agar Ralea tetap bisa mengenyam pendidikan tanpa harus meninggalkan tanggung jawabnya membantu keluarga.
"Ibunda Ralea terdeteksi kanker payudara dan harus menjalani kemoterapi serta radioterapi selama enam bulan. Saat harus berobat ke rumah sakit, tidak ada yang menjaga adiknya di rumah. Ralea tidak mau absen sekolah karena takut ketinggalan pelajaran, jadi solusinya sang adik ikut ke sekolah," ujar Priastuti.
Baca juga: Ratusan Orang di Barcelona Bentangkan Poster Raksasa Hind Rajab dalam Aksi Pro-Palestina
Rubiyanti, ibu dari Ralea, mengaku terpaksa menitipkan anaknya kepada sang kakak karena keterbatasan biaya dan tenaga. Dalam satu minggu, ia harus menjalani perawatan dua kali di RSPAU Dr. Suhardi Hardjolukito, Sleman.
"Saya bingung mau minta tolong siapa, tidak ada biaya juga untuk membayar orang (pengasuh). Akhirnya saya minta kelonggaran kepada Kepala Sekolah agar adik bisa ikut kakaknya," tutur Rubiyanti.
Kondisi keluarga Ralea kian memprihatinkan karena ternyata mereka belum terdaftar dalam Program Keluarga Harapan (PKH) akibat adanya kendala perubahan data kependudukan.
Kisah perjuangan Ralea ini pun viral dan memantik rasa simpati dari berbagai pihak. Anggota DPRD Kabupaten Kulon Progo bersama Dinas Sosial segera turun tangan untuk melakukan pengecekan data agar keluarga ini segera mendapatkan bantuan sosial yang semestinya.
Selain bantuan sembako dan biaya hidup, Ralea juga mendapatkan kejutan berupa sebuah televisi. Televisi tersebut adalah permintaan khusus Ralea agar sang adik bisa terhibur di rumah saat ibunya pergi berobat, sehingga sang adik tidak perlu lagi ikut ke sekolah setiap hari.
Tak hanya itu, bantuan berupa biaya pendidikan juga telah disiapkan untuk menjamin Ralea bisa menyelesaikan sekolahnya hingga lulus SD tanpa hambatan biaya.




