Reshuffle Kabinet: Ujian Loyalitas dan Kapasitas

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

ISU reshuffle kabinet yang kembali menguat belakangan ini, tidak lagi dibaca publik sebagai sekadar pergantian teknis.

Ia telah berubah menjadi penilaian terhadap gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, bagaimana loyalitas dan kapasitas ditempatkan dalam satu bangunan kekuasaan.

Publik hari ini tidak lagi bertanya apakah reshuffle perlu, melainkan untuk apa dan dengan standar apa.

Apakah reshuffle benar-benar dimaksudkan sebagai koreksi kinerja, atau justru menjadi mekanisme pengamanan lingkaran terdekat meski kapasitasnya terbatas?

Penting ditegaskan sejak awal, politik memang tidak bisa dipisahkan dari kedekatan dan kepercayaan.

Dalam sistem presidensial, presiden membutuhkan orang-orang yang ia percaya untuk memastikan agenda berjalan tanpa sabotase internal. Tidak ada pemerintahan yang sepenuhnya steril dari unsur personal.

Masalahnya bukan pada kedekatan itu sendiri, melainkan ketika kedekatan berdiri sendirian tanpa disertai kapasitas.

Baca juga: Reshuffle Kabinet: Ketika Kursi Kosong Membuka Banyak Tafsir

Di titik inilah reshuffle menjadi sensitif, karena publik mulai membaca pola bahwa yang bertahan bukan selalu yang paling cakap, tetapi yang paling aman secara relasi.

Fenomena ini bukan khas Indonesia. Ia bersifat universal. Di Amerika Serikat, presiden juga mengangkat figur dekat ke posisi strategis.

Antony Blinken sering dijadikan contoh bagaimana kedekatan dan kapasitas bisa berjalan beriringan. Ia lama menjadi orang kepercayaan Presiden Joe Biden, tetapi juga diplomat karier dengan rekam jejak panjang.

Hal serupa terlihat pada Janet Yellen, ekonom papan atas dan mantan Ketua The Federal Reserve.

Dalam dua kasus ini, publik relatif menerima karena kedekatan tidak berdiri sendiri; ia disangga profesionalisme dan pengalaman.

Namun, Amerika juga memperlihatkan sisi lain dari politik kedekatan. Penunjukan Ivanka Trump dan Jared Kushner pada era Presiden Donald Trump memicu kritik luas.

Bukan semata karena relasi keluarga, tetapi karena mandat strategis yang besar tidak diimbangi pembuktian kapasitas yang meyakinkan di mata publik.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Kasus ini menunjukkan, bahkan di negara dengan institusi kuat, kedekatan tanpa kapasitas cepat kehilangan legitimasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Duga Bos Maktour Rusak dan Hilangkan Barang Bukti Kasus Kuota Haji
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Banjir di Subang Rendam 7.536 Rumah, Puluhan Ribu Warga Terdampak
• 4 jam lalugenpi.co
thumb
Wamenkeu Dorong Skema Creative Funding di DIY untuk Kurangi Ketergantungan APBN
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Shohid Fun Walk, Langkah Awal Dua Dekade Kebangkitan Shohwatul Isad
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Puncak Harlah NU ke-100, Gus Yahya Tegaskan Visi Merawat Jagat dan Membangun Peradaban
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.