Kiamat HP Sudah Muncul di China, Perangkat Ini Dijual di Mana-mana

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: DingTalk A1. (Dok. DingTalk)

Jakarta, CNBC Indonesia - Fungsi HP sebagai 'daily driver' masyarakat modern pelan-pelan mulai digantikan. Ihwal 'kiamat' HP ini sebenarnya sudah beberapa kali diungkap bos-bos raksasa teknologi Amerika Serikat (AS).

Salah satunya CEO Meta Mark Zuckerberg yang meramalkan peran HP akan digantikan perangkat baru pada 2030 mendatang. Sebelumnya, CEO SpaceX Elon Musk juga pernah menyebut potensi kepunahan HP.

Berbeda dengan Zuckerberg yang menilai pengganti HP adalah wearable seperti kacamata pintar (smart glasses) yang makin multifungsi, Musk meramal pengganti HP tak lain adalah chip yang ditanam di otak.


Dalam kicauan di X beberapa saat lalu, Musk blak-blakan menyebut "di masa depan tak ada lagi HP, hanya Neuralink," dikutip dari DeccanHerald. Sebagai informasi, Neuralink merupakan startup milik Musk yang fokus pada pengembangan teknologi chip otak atau diistilahkan 'BCI'.

Pilihan Redaksi
  • Viral! Netanyahu Ketahuan Tutup Kamera HP Pakai Selotip, Kenapa?
  • HP Mulai Ditinggalkan di 2026, Ramai-ramai Beralih ke Penggantinya

Meski berbeda pendapat, tetapi Zuckerberg dan Musk sama-sama meyakini nantinya akan ada perangkat baru yang menggantikan HP. Namun, ternyata China juga punya inovasi sendiri di industri perangkat elektronik yang tak kalah dari AS. 

Kiamat HP Muncul di China

Dikutip dari CNBC International pada akhir 2025, pasar perangkat kecerdasan buatan (AI) China berkembang pesat. China memiliki keunggulan dibandingkan AS karena keahliannya di sektor manufaktur hardware.

"Keunggulan China muncul dari kekuatan fundamental dalam hal manufaktur," kata Dr. Kai-Fu Lee, CEO 01.AI dan Kepala Sinovationa Ventures, kepada CNBC International.

"Saat ini kompetisi memang masih di sektor software, model, agen, aplikasi. Namun, persaingan akan segera beralih ke sektor perangkat," ia menuturkan.

Meta saat ini sudah menjual jutaan smart glasses sejak memperkenalkannya pertama kali pada 2023 silam. Namun, China sekarang sudah memiliki lebih dari 70 perusahaan yang menciptakan produk pesaingnya.

Perangkat smart glasses berbasis AI dari perusahaan China seperti Inmo dan Rokid sudah dijual secara global. Perangkat buatan Xiaomi dan Alibaba yang sejauh ini cuma dijual di China juga marak beredar dan berbasis pada sistem AI masing-masing perusahaan.

DingTalk milik Alibaba yang merupakan platform pesan singkat untuk dunia kerja, tahun ini merilis perangkat AI berukuran seperti kartu kredit untuk membantu pekerja mencatat hal-hal penting.

Perangkat DingTalk A1 tersebut bisa dimanfaatkan untuk transkrip, merangkum, hingga menganalisa omongan dari jarak 8 meter. Perangkat ini mirip dengan Plaud Note yang tersedia di AS.

Banyak perusahaan China yang melakukan eksperimen dengan perangkat elektronik baru berbasis AI. Startup Le Le Gaoshang Education Technology baru-baru ini merilis 'Native Language Star' yang merupakan perangkat penerjemah bagi orang tua yang ingin mengajarkan bahasa Inggris kepada anak mereka.

Perangkat tersebut berbasis teknologi iFlyTek AI dari Tencent dan bisa membuat orang tua dengan kemampuan berbahasa Inggris minim berbicara layaknya orang asing.

Banyaknya perangkat berbasis AI yang saat ini menyasar kebutuhan spesifik di China dinilai sebagai tahap awal adopsi yang membuat masyarakat makin terbiasa dengan AI. Hal ini juga mendorong perusahaan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan dalam membuat perangkat yang makin canggih dan multifungi di masa depan.

"Ketika Anda mendengar orang di luar China berbicara terkait masa depan perangkat AI, pasarnya sudah tergarap di China," kata konsultan teknologi Tom van Dillen dari Greenkern.

"Ini menciptakan umpan balik yang baik untuk membuat AI lebih canggih di masa depan," ia menuturkan.

Kendati demikian, kemajuan China dalam menciptakan perangkat AI belum berarti negara tersebut akan menang melawan AS. Pasalnya, jika China hanya 'asyik sendiri' tanpa mengepakkan sayap ke pasar global, bisa jadi teknologi tersebut hanya akan jago di kandang.

"China harus melakukan pendekatan seperti iPhone untuk benar-benar memenangkan perlombaan," kata Lee.

"Menurut saya, keuntungan China dalam membuat perangkat serupa iPhone di era AI adalah kapabilitas yang lengkap, mulai dari engineer, pengusaha, dan lainnya. Namun, tetap saja masih akan ada kompetisi," ia menjelaskan.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Musk Prediksi Robotaxi Akan Tersebar Luas di AS Pada Akhir 2026

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Peristiwa 1 Februari: Kilas Balik Banjir Besar Jakarta 2007 yang Tewaskan 80 Orang
• 11 jam lalurctiplus.com
thumb
【Eksklusif】 Zhang Youxia Pernah Mengkritik Xi Jinping “Takut Mati”, Namun Xi Tetap Berambisi Memperpanjang Masa Jabatan
• 1 jam laluerabaru.net
thumb
Bupati Siak Tutup Sementara Cagar Budaya Tangsi Belanda Usai Insiden Lantai Ambruk
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
OJK Perketat Pengawasan, Selidiki Praktik Saham Gorengan hingga Influencer
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Jokowi: PSI Semakin Terbuka, Banyak yang Akan Bergabung
• 20 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.