Sederet Tantangan di Balik Target Penjualan 850.000 Unit Mobil pada 2026

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) telah mematok target penjualan mobil baru sebanyak 850.000 unit pada 2026.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, proyeksi angka tersebut masih dapat berubah tergantung perkembangan kondisi pasar dan arah kebijakan pemerintah terkait industri otomotif.  

Sebagai catatan, sepanjang tahun lalu, pasar otomotif domestik masih lesu. Mengacu data Gaikindo, penjualan mobil wholesales pada periode Januari-Desember 2025 tembus 803.687 unit. Capaian itu turun 7,2% secara tahunan (year-on-year/YoY) dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 865.723 unit.

Sementara itu, penjualan ritel alias dari dealer ke konsumen sebanyak 833.692 unit, atau turun 6,3% dibandingkan periode tahun sebelumnya sebesar 889.680 unit.

Artinya, target penjualan 850.000 unit pada 2026 tersebut diproyeksikan naik 5,76% secara tahunan dibandingkan capaian wholesales 2025 di angka 803.687 unit. 

Kendati demikian, Kukuh menilai pertumbuhan penjualan mobil pada tahun ini sangat bergantung pada kondisi ekonomi dalam negeri. Menurutnya, selama laju ekonomi masih berada di kisaran 5% seperti tahun lalu, kondisi pasar otomotif juga dinilai akan cenderung stagnan. 

Baca Juga

  • Pasar LCGC Tergerus Mobil Listrik Murah, Segini Harga Sigra Cs 2026
  • Produksi Mobil China Tembus 34,78 Juta Unit, Pendapatan Rp26.000 Triliun
  • Toyota Blak-blakan Biang Kerok Pasar LCGC Amblas pada 2025

Kinerja produk domestik bruto (PDB) nasional mengalami fluktuasi signifikan sepanjang tahun lalu. Pada kuartal I/2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 4,87%, kemudian meningkat menjadi 5,12% pada kuartal II/2025. Namun, laju pertumbuhan kembali melandai ke level 5,04% pada kuartal III/2025.

"Namun, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi dapat meningkat ke level 6% pada 2026 ini. Jika target tersebut tercapai, hal itu akan mulai mendorong pemulihan permintaan sekaligus meningkatkan aktivitas produksi kendaraan," ujar Kukuh kepada Bisnis, dikutip Minggu (1/2/2026).

Lebih lanjut dia mengatakan, pelaku industri otomotif masih menghadapi sejumlah tekanan, terutama karena daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Alhasil, menurutnya perlu adanya konsistensi kebijakan dari pemerintah untuk mendongkrak daya beli masyarakat terhadap kendaraan roda empat.

“Tantangannya kepastian kebijakan. Karena industri mobil itu memerlukan kebijakan yang konsisten dan sifatnya jangka panjang," jelasnya.

Tak hanya itu, dia menilai salah satu faktor krusial lainnya adalah tren kenaikan harga kendaraan yang terjadi setiap tahun tidak diimbangi dengan pertumbuhan pendapatan rata-rata masyarakat. Kondisi tersebut memicu kesenjangan yang cukup lebar antara daya beli konsumen dan harga kendaraan.

"Daya beli juga perlu didorong, karena harga mobil naiknya 7,5%, tapi potensi pembelinya naiknya cuma 3%. Jadi makin lama gap-nya makin besar,” ungkap Kukuh.

Kabar baiknya, Gaikindo masih menaruh optimisme terhadap prospek pemulihan pasar otomotif nasional pada tahun ini, seiring dengan mulai berjalannya produksi kendaraan listrik secara lokal oleh sejumlah pabrikan, termasuk BYD, Vinfast, dan Geely, sesuai dengan ketentuan tingkat komponen dalam negeri (TKDN).


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Venezuela Ajukan RUU Amnesti, Ratusan Tahanan Politik Berpotensi Dibebaskan
• 5 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gandeng Perumus KUHP & Pakar, Kapolda Riau Mengulik Sistem Hukum Baru
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Masyarakat Pesisir Bali Diimbau Waspada Potensi Rob Hingga 4 Februari
• 23 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Hasil Liga Jerman: Bayern ditahan HSV, Leverkusen menang
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Ditunjuk Jadi Ketua dan Wakil Ketua OJK, Friderica Fokus Bersih-Bersih Bursa
• 15 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.