TABLOIDBINTANG.COM - Selama hampir dua dekade, sosok Deddy Mizwar telah menjadi bagian tak terpisahkan dari waktu sahur masyarakat Indonesia melalui serial religi Para Pencari Tuhan (PPT). Sejak penayangan perdananya, sinetron ini tidak hanya hadir sebagai hiburan Ramadan, tetapi juga sebagai refleksi sosial yang menyentuh realitas kehidupan, nilai kemanusiaan, dan pencarian makna spiritual yang dekat dengan keseharian.
Di balik konsistensi tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang jarang disorot. Setelah menyelesaikan "Para Pencari Tuhan Jilid 19: Tobat, Woy…!", Deddy Mizwar akhirnya mengungkap kelelahan yang selama ini ia pendam. Bukan hanya kelelahan fisik, tetapi juga keletihan batin dan kreativitas akibat hampir 20 tahun mengawal proses produksi dari awal hingga akhir.
“Jadi memang 19 tahun, saya capek sebetulnya. Bayangkan 20 tahun, saya mengawal proses kreatif, skenario, syuting sampai editing. Semua saya lihat,” ujar Deddy Mizwar.
Di usia yang telah menginjak 70 tahun, tuntutan produksi PPT diakui Deddy semakin menguras energi. Ia kerap menghabiskan waktu hingga larut malam, bahkan pulang pagi, demi memastikan kualitas cerita dan hasil akhir tetap selaras dengan nilai yang ia yakini sejak awal serial ini digarap.
“Kadang saya pulang pagi. Lihat istri saya tidur sendirian, saya juga kasihan. Capek,” ucapnya lirih. "Tapi ternyata itu harga yang harus dibayar,” tambahnya.
Meski rasa lelah tak bisa dipungkiri, Deddy Mizwar menegaskan bahwa tanggung jawab terhadap karya dan penonton tetap menjadi prioritas utama. Baginya, Para Pencari Tuhan bukan sekadar proyek televisi musiman, melainkan amanah moral yang harus dijaga kualitas dan pesannya. Komitmen inilah yang membuat PPT tetap relevan dan dinanti setiap Ramadan, meski zaman terus berubah.
/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F23%2F7f1b11fffc276bbb7899c436135ddb8b-20251223Bah19.jpg)


