Krisis Global 2026 dan Ancaman Pengangguran Terdidik

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Saat ini sudah masuk awal tahun 2026, berbagai negara mulai bersiap menghadapi potensi krisis global. Perlambatan ekonomi, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global mendorong dunia usaha melakukan penyesuaian. Dalam kondisi seperti ini, lapangan kerja formal cenderung semakin selektif, dan lulusan baru menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya.

Indonesia sendiri masih menghadapi persoalan pengangguran terdidik. Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjana baru, sementara pertumbuhan lapangan kerja formal tidak selalu sejalan. Dalam situasi ekonomi yang relatif stabil saja, sebagian lulusan masih kesulitan terserap. Ketika tekanan ekonomi meningkat, tantangan tersebut berpotensi semakin besar.

Persoalan ini tidak semata- mata berkaitan dengan ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga dengan cara perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswanya. Selama ini, pendidikan tinggi masih dominan membekali mahasiswa untuk memasuki pasar kerja formal. Pendekatan ini cukup relevan di masa lalu, namun menjadi kurang adaptif ketika dunia kerja bergerak semakin dinamis dan penuh ketidakpastian.

Edupreneurship Sebagai Jalan Alternatif

Mahasiswa sarjana pendidikan termasuk kelompok yang perlu mendapat perhatian. Jalur karier yang paling sering diperkenalkan masih berfokus pada sekolah formal. Padahal, daya tampung sekolah terbatas dan persaingan semakin ketat. Di sisi lain, kebutuhan layanan pendidikan di masyarakat terus berkembang, baik dalam bentuk pendidikan nonformal maupun berbasis digital.

Kondisi ini membuka peluang bagi lulusan sarjana pendidikan untuk mengambil peran sebagai edupreneur. Edupreneurship memandang pendidikan bukan hanya sebagai profesi, tetapi juga sebagai ruang penciptaan nilai dan solusi. Dengan bekal kompetensi pedagogik, mahasiswa pendidikan memiliki potensi untuk mengembangkan berbagai layanan edukasi yang dibutuhkan masyarakat.

Namun, potensi tersebut perlu ditopang oleh pengalaman belajar yang kontekstual. Pembelajaran di perguruan tinggi tidak cukup berhenti pada penguasaan teori, tetapi perlu memberikan ruang praktik yang melatih kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Pembelajaran berbasis proyek dan praktik kewirausahaan pendidikan menjadi salah satu pendekatan yang relevan.

Melalui pengalaman praktik, mahasiswa dapat memahami bahwa usaha edukasi tidak selalu membutuhkan modal besar. Kelas literasi anak, bimbingan belajar skala kecil, kursus daring, maupun konten edukasi digital dapat dimulai secara bertahap. Model usaha seperti ini relatif fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi.

Dalam konteks menghadapi potensi krisis global 2026, penguatan edupreneurship di lingkungan kampus memiliki makna strategis. Lulusan yang memiliki kemampuan menciptakan usaha edukasi tidak hanya lebih siap menghadapi ketidakpastian, tetapi juga berpeluang membuka ruang belajar dan kerja bagi masyarakat sekitarnya.

Pada akhirnya, tantangan pengangguran terdidik perlu direspons dengan pendekatan yang lebih adaptif. Perguruan tinggi, khususnya program sarjana pendidikan, memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang. Di tengah ketidakpastian global, kemampuan beradaptasi dan menciptakan nilai menjadi bekal utama bagi lulusan untuk bertahan dan berkontribusi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tekan Sampah dan Sisa Pangan, Pemprov Jabar Didorong jadi Percontohan untuk Indonesia
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Delapan Langkah Disiapkan demi Percepat Reformasi Pasar Saham
• 15 jam lalukompas.id
thumb
BEI Buka Data Kepemilikan di Bawah 5% Awal Februari
• 15 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Instagram Uji Fitur Baru: Pengguna Bisa Keluar dari Daftar Teman Dekat
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Kronologi Bahar bin Smith Diduga Aniaya Anggota Banser, Berawal dari Bersalaman
• 14 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.