Durian Diplomacy Asia Tenggara terhadap Pasar Tiongkok: Di Mana Kita?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Diplomasi ekonomi dan budaya berbasis komoditas yang dikembangkan sebagian negara-negara Asia Tenggara dan Tiongkok, telah menjadi fenomena penting dalam konteks kerja sama perdagangan di tingkat regional Asia. Strategi ini tidak hanya mengembangkan peluang ekspor untuk produk tropis bernilai tinggi, tetapi juga memperkuat hubungan bilateral dan multilateral di kawasan ini, terutama melalui kerangka perdagangan bebas dan integrasi ekonomi regional. Salah satu produk tropis yang saat ini mengalami peningkatan permintaan secara drastis di Tiongkok adalah buah durian.

Seperti dimuat oleh China Daily Global, saat ini Tiongkok adalah pasar utama dunia untuk impor durian, dengan impor senilai sekitar 6,99 Miliar Dolar Amerika Serikat (AS), di mana 99% impor tersebut berasal dari negara-negara ASEAN. Ekspor durian ke Tiongkok yang berasal dari Asia Tenggara dipimpin oleh Thailand dengan kurang lebih 809.700 ton durian per tahun yang bernilai sekitar 4,02 Miliar Dolar AS. Negara penghasil durian lain, seperti Malaysia juga mengalami pertumbuhan ekspor durian ke Tiongkok yang cukup signifikan sejak tahun 2024.

Peningkatan Ekspor dan Kerja Sama Perdagangan

Penyelenggara pameran produk makanan dan minuman terbesar di Tiongkok (dan juga di Asia), SIAL China melaporkan data yang menunjukkan bahwa impor durian oleh Tiongkok dari negara-negara ASEAN telah tumbuh pesat dalam sepuluh tahun terakhir, dengan rasio peningkatan volume sekitar enam kali lipat, dan rasio total nilai ekspor lebih dari 15 kali lipat sejak tahun 2015. Tren ini mencerminkan meningkatnya permintaan pesat konsumen akan durian di Tiongkok dan potensinya sebagai produk strategis dalam hubungan perdagangan dengan negara-negara pengekspor.

Kerja sama perdagangan antara ASEAN dan Tiongkok merupakan dasar penting bagi diplomasi durian. Dimuat oleh People's Daily Online, Perjanjian seperti Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) telah mengurangi tarif dan memfasilitasi akses pasar untuk produk, termasuk durian, di pasar Tiongkok. Selain itu, seperti yang diberitakan oleh Global Times, pengembangan jaringan logistik seperti Belt and Road Initiative (BRI) dan Kereta Api Tiongkok-Laos telah mempercepat pengangkutan durian segar dari negara-negara ASEAN ke kota-kota besar di Tiongkok, sehingga memperkuat jaringan perdagangan regional.

China Daily juga memberitakan bahwa keberadaan festival-festival makanan seperti Festival Durian ASEAN-Tiongkok di Beijing juga berkontribusi pada penguatan hubungan budaya dan ekonomi antara negara-negara anggota ASEAN dan Tiongkok dengan mempromosikan durian sebagai bagian dari budaya kuliner. Support system lain berupa kerja sama teknis seperti persetujuan standar fitosanitari dan prosedur karantina umum, telah mempercepat arus barang dan mendukung ekspor durian yang lebih luas dan efisien.

Peluang bagi Negara-Negara Asia Tenggara

Melihat situasi tersebut, negara-negara anggota ASEAN berada pada posisi strategis untuk memanfaatkan diplomasi durian secara efektif. Thailand, misalnya, telah menjadi pemasok durian terbesar ke pasar Tiongkok, menyumbang lebih dari setengah total impor durian yang masuk ke negara tersebut.

Negara lain seperti Vietnam, yang juga telah mendapatkan akses ke pasar Tiongkok pada tahun 2022, mengalami peningkatan ekspor durian yang cukup signifikan karena rute transportasi yang lebih cepat untuk durian segar. Begitupun juga Laos, yang telah diberikan izin untuk mengekspor durian segar ke Tiongkok.

Sementara itu, Malaysia yang memantapkan fokus sebagai pemasok kecil yang fokus kepada varietas durian premium seperi Musang King, juga turut meramaikan kompetisi ekspor dan menambah pasokan durian ASEAN di pasar yang besar ini (China Daily).

Sementara itu, Indonesia juga memiliki peluang strategis dalam diplomasi durian, terutama dengan keberhasilan ekspor langsung durian beku dari Jawa Barat ke Tiongkok pada akhir tahun 2025, seperti yang dilaporkan oleh Kamar Dagang dan Industri Vietnam. Pengiriman pertama sekitar 48 ton ini menunjukkan potensi Indonesia untuk memasuki pasar durian di Tiongkok yang didominasi oleh negara-negara Indochina. Terdapat juga peluang signifikan untuk mendiversifikasi produk durian, termasuk snack, manisan, pasta durian, dan produk olahan lainnya yang akan menarik bagi pasar Tiongkok yang sangat dinamis. Partisipasi Indonesia dalam forum perdagangan seperti RCEP juga mengarah pada perluasan akses pasar untuk durian dan produk pertanian lainnya.

Namun, tantangan tetap ada, selain adanya persaingan ketat dari negara-negara ASEAN lainnya yang sudah berada di pasar Tiongkok, terdapat kebutuhan untuk memenuhi standar kualitas dan logistik yang tinggi. Indonesia perlu memperkuat kapasitas produksi, fasilitas pengolahan, pengiriman, dan kerja sama fitosanitari untuk meningkatkan daya saingnya.

Dapat dilihat bahwa diplomasi durian bukan hanya sebatas perdagangan komoditas; menguatnya hubungan multilateral antara ASEAN dan Tiongkok serta peluang munculnya kerjasama di bidang lain juga dapat menjadi manfaat di masa depan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Bestari Barus: Saya Katakan 99 Persen Itu Pak Jokowi Wajib Bergabung dengan PSI
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Perbatasan Rafah Dibuka Sebagian Hari Ini, Akses Masih Terbatas untuk Warga Gaza
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Bursa Transfer AC Milan: Alphadjo Cisse Kian Dekat ke Stadion San Siro
• 23 jam lalugenpi.co
thumb
7 Ciri Orang yang Percaya Diri Menurut Ilmu Psikologi
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Kebanyakan Garam Bisa Jadi Silent Killer, Ini 9 Sinyal Bahaya dari Tubuh
• 8 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.