- Polri segera menerbitkan red notice Interpol untuk Jurist Tan, tersangka korupsi digitalisasi pendidikan setelah memetakan lokasinya.
- Kasus ini terkait korupsi pengadaan laptop Chromebook tahun 2019 hingga 2022, merugikan negara sekitar Rp2,18 triliun.
- Mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim didakwa bersama tiga terdakwa lain, sementara Jurist Tan masih berstatus buronan.
Suara.com - Polri menyebut bahwa red notice terhadap tersangka dugaan tindak pidana korupsi digitalisasi pendidikan, Jurist Tan bakal segera terbit dalam waktu dekat.
Sekretaris NCB Hubinter Polri, Brigjen Untung Widyatmoko mengatakan saat ini pihaknya telah melakukan pemetaan terhadap keberadaan Jurist Tan.
“Untuk calon subjek Interpol Red Notice atas nama Jurist Tan, kami juga sudah petakan yang bersangkutan berada di mana,” kata Untung, di Mabes Polri, Minggu (1/2/2026).
“Dan untuk Red Notice-nya sedang dalam proses, Pak. Kita tunggu saja dalam waktu dekat ini,” imbuhnya.
Saat ini, lanjut Untung, pihaknya sudah meminta kembali kepada pihak Interpol agar status buronan internasional terhadap Jurist Tan agar segera diterbitkan.
“Kami sudah mem-follow up dan kami sudah melakukan asesmen maupun review dari yang bersangkutan,” jelasnya.
Diketahui, Jurist Tan merupakan salah seorang tersangka dalam kasus dugaan korupsi digitalisasi pendidikan pengadaan laptop berbasis Chromebook. Selain Jurist Tan, penyidik Kejaksaan Agung juga menetapkan eks Mendikbudristek Nadiem Makarim dalam perkara ini.
Kekinian, perkara ini telah masuk ke dalam ruang sidang. Nadiem didakwa terlibat dalam praktik korupsi pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kemendikbudristek sepanjang tahun 2019–2022.
Kasus ini diduga telah merugikan keuangan negara dengan angka fantastis, mencapai Rp2,18 triliun.
Baca Juga: Kejagung Klaim Masih Telusuri Aset Jurist Tan di Kasus Korupsi Chromebook Rp2,1 T
Modus operandi yang dilakukan diduga berupa pengadaan sarana pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tidak sesuai dengan perencanaan serta melanggar prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa pada Tahun Anggaran 2020, 2021, dan 2022.
Dalam menjalankan aksinya, Nadiem diduga tidak sendirian. Ia didakwa melakukannya bersama tiga terdakwa lain yang sudah lebih dulu disidangkan, yakni Ibrahim Arief alias Ibam, Mulyatsyah, dan Sri Wahyuningsih.
Selain itu, terdapat satu nama lagi, Jurist Tan, yang hingga kini masih berstatus buron.
Atas perbuatannya, Nadiem Makarim terancam jeratan hukum serius, yakni Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 juncto Pasal 18 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.




