Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat fenomena kontradiktif pada indikator harga konsumen awal tahun ini. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Januari 2026 tercatat mengalami deflasi secara bulanan (month to month/MtM), namun justru mencatatkan inflasi yang tinggi secara tahunan (year on year/YoY).
BPS melaporkan inflasi tahunan pada Januari 2026 menembus level 3,55% YoY. Sementara itu, secara bulanan terjadi deflasi sebesar 0,15% MtM.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan bahwa tingginya angka inflasi tahunan tersebut utamanya disebabkan oleh low base effect alias efek basis rendah.
Dia mengingatkan bahwa pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik. Kebijakan tersebut menekan IHK pada periode itu sehingga level harga berada di bawah tren normalnya.
“Ketika dilakukan perhitungan inflasi year on year, maka basis pembandingnya [Januari 2025] relatif rendah akibat adanya diskon listrik. Ini yang mendorong inflasi tahunan tampak tinggi pada Januari 2026,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Di sisi lain, Ateng mengungkapkan bahwa deflasi bulanan sebesar 0,15% pada Januari 2026 dipicu oleh penurunan harga pada kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau. Kelompok ini mencatatkan deflasi sebesar 1,03% dan memberikan andil deflasi paling besar, yakni 0,30%.
Baca Juga
- Penurunan Harga Bawang dan Cabai Bikin RI Alami Deflasi pada Januari 2026
- Laporan BPS: Januari 2026 Terjadi Deflasi 0,15%
- Wilayah Terdampak Bencana: Aceh, Sumut, dan Sumbar Berbalik Deflasi pada Januari 2026
Dia merincikan bahwa komoditas yang paling signifikan menekan laju inflasi adalah cabai merah dengan andil deflasi sebesar 0,16%, disusul cabai rawit dengan andil 0,08%.
Selain itu, bawang merah turut memberikan andil deflasi sebesar 0,07%. Ateng menyebut penurunan harga bawang merah ini didorong oleh momentum panen raya di sejumlah sentra produksi.
Komoditas pangan lainnya yang turut mencatatkan penurunan harga adalah daging ayam ras dengan andil deflasi 0,05% dan telur ayam ras sebesar 0,03%.
“Sedangkan komoditas lain [di luar pangan] yang memberikan andil deflasi adalah bensin dan tarif angkutan udara dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,03%,” jelasnya.
Kendati terjadi deflasi umum, Ateng mencatat masih ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga dan menahan laju deflasi lebih dalam. Emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,16%, diikuti ikan segar (0,06%) dan tomat (0,02%).




