GenPI.co - Ekonomi Taiwan mencatat pertumbuhan 8,6 persen pada 2025, tertinggi dalam 15 tahun.
Pertumbuhan ini ditopang industri ekspor yang diuntungkan oleh lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI).
Awal 2026, Taiwan mencapai kesepakatan perdagangan dengan Amerika Serikat.
Dalam kesepakatan tersebut, tarif impor AS terhadap produk asal Taiwan diturunkan menjadi 15 persen dari sebelumnya 20 persen, sebagai imbalan atas komitmen investasi Taiwan senilai USD 250 miliar.
Investasi itu mencakup sektor strategis seperti semikonduktor dan AI.
Ekonom Bank of America Xiaoqing Pi menilai kesepakatan ini berpotensi mendorong ekspor dan menopang pertumbuhan ekonomi Taiwan sepanjang 2026.
"Kami memperkirakan permintaan terkait AI akan menopang kinerja ekspor Taiwan, sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi di tengah berlanjutnya investasi AI global," ujarnya, dilansir AP News, Minggu (1/2).
Taiwan merupakan produsen utama server AI, chip komputer, dan instrumen presisi.
Sepanjang 2025, nilai ekspor taiwan melonjak hampir 35 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dipimpin pengiriman produk teknologi.
Bahkan, ekspor ke AS meningkat tajam hingga 78 persen.
Ledakan AI juga mendorong sejumlah perusahaan teknologi besar Taiwan mencatatkan rekor pendapatan dan laba.
Produsen chip kontrak terbesar di dunia, TSMC, menjadikan Nvidia sebagai klien utamanya dan kini termasuk salah satu perusahaan dengan nilai pasar terbesar secara global.
Sementara itu, raksasa elektronik Foxconn memproduksi server AI untuk Nvidia dan merakit berbagai produk untuk Apple.
Meski demikian, ekonom memperkirakan laju pertumbuhan akan melambat pada tahun ini karena basis pertumbuhan yang sudah tinggi.
Deutsche Bank memproyeksikan ekonomi Taiwan tumbuh 4,8 persen pada 2026. (*)
Video populer saat ini:


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465186/original/012269500_1767760900-sassuolo_vs_Juventus-4.jpg)


