Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia Battery Corporation (IBC) atau PT Industri Baterai Indonesia (IBC) optimistis penjualan baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berbasis nikel atau nickel manganese cobalt (NMC) tetap tumbuh.
Direktur Utama IBC Aditya Arif menilai, maraknya penggunaan baterai lithium ferro phosphate (LFP) tak serta merta menggerus pasar NMC. Menurutnya, secara volume, sebetulnya permintaan baterai jenis NMC meningkat.
Baca Juga
- Antam dan Inalum Ambil Alih 17,5% Saham PLN di Indonesia Battery Corporation
- Bertemu Bos Danantara, Ini Profil Dirut Baru IBC Aditya Farhan Arif
- Ambisi RI Jadi Hub Ekosistem Baterai Dunia Lewat Proyek Jumbo Antam-IBC-HYD
"Karena memang size dari market-nya sendiri meningkat dengan sangat tajam. Oleh karena itu, apabila kita mengacu pada teknologi hari ini saja, kita masih sangat optimistis bahwa kita bisa memasarkan baterai ion lithium berbasis katoda nikel kita," ucap Aditya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (2/2/2026).
Dia juga menuturkan, pasar baterai berbasis nikel tidak akan redup. Aditya menjelaskan bahwa jenis baterai yang bakal populer adalah jenis sodium-ion battery, di mana lithium-nya diganti oleh natrium sehingga lebih murah.
Menurutnya, teknologi yang akan digunakan untuk baterai jenis sodium-ion ini salah satu kandidat kuatnya masih berbasis nikel. Tepatnya, nikel, besi, dan mangan.
Kemudian setelah sodium-ion battery, kemungkinan nanti akan ada solid state battery atau baterai ion lithium biasa tapi elektrolitnya itu padatan.
"Itu juga nanti kandidat utamanya masih pakai nikel. Jadi, kami cukup optimis bahwa ke depan nikel kita masih tetap akan bisa dipasarkan di pasar global," kata Aditya.
Persaingan antara penggunaan baterai EV jenis NMC dan LFP masih menjadi topik pembicaraan. Ekonom pun menyoroti sejumlah produsen kendaraan listrik di Indonesia yang masih menggunakan baterai LFP, saat pemerintah kerap menggaungkan hilirisasi nikel.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pemerintah telah berupaya mendorong agar Indonesia menjadi pusat rantai pasok industri baterai mobil listrik. Hal itu ditandai dengan kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel agar investasi di industri smelter nikel bisa masuk ke Indonesia.
Namun sayangnya, sebagian besar pemain mobil listrik di Indonesia masih menggunakan baterai jenis LFP. Sebab, bahan baku baterai nikel alias NMC relatif lebih mahal.
“Tetapi kan yang terjadi saat ini mungkin beberapa pelaku industri EV yang ada justru pakai LFP gitu ya. Ini mungkin yang harus menjadi catatan juga, sedangkan yang NMC justru malah perkembangannya harga mobilnya cenderung lebih mahal,” ujar Josua beberapa waktu lalu.
Salah satu faktor yang menyebabkan baterai nikel lebih mahal dibandingkan LFP karena bahan baku NMC menggunakan nikel dan kobalt, yang lebih langka dan mahal dibanding besi dan fosfat pada LFP. Biasanya, baterai NMC lebih banyak dipakai di mobil listrik kelas premium karena bobotnya lebih ringan dan daya tahannya lebih baik dibandingkan LFP.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5250761/original/092256300_1749731600-20250612-Lawan_Arus-ANG_8.jpg)

