Mamak Sutamat, Sosok Lengkap Wartawan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tidak banyak wartawan yang berpengalaman lengkap seperti Mamak Sutamat, wartawan Kompas (1974-2004), yang berpulang Sabtu (31/1/2026) sore, di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta. Dari seorang korektor berita, Mamak menjadi wartawan, editor, hingga menjadi direktur di lingkungan Kompas Gramedia.

Bernama lengkap Martinus Mamak Sutamat, pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 11 November 1944 itu  meninggalkan istri Cecilia Aryani, tiga anak, dua menantu, dan empat cucu. Rekan sejawat almarhum berdatangan di Rumah Duka Tabitha, Jakarta Barat, sebelum dikremasi Selasa (3/2) siang.

“Mas Mamak itu lengkap sebagai wartawan. Tidak hanya berpengalaman soal tulisan seperti umumnya wartawan, dia juga  berpengalaman soal tata letak atau dulu disebut layout man,” tutur St Sularto, rekan sekerja almarhum, yang juga mantan Wakil Pemimpin Umum Kompas.

Kisah pengalamannya yang lengkap itu diwariskan Mamak Sutamat melalui bukunya, “Kompas Menjadi Perkasa karena Kata, Sebuah Sharing 35 Tahun Bersama Kompas” (Penerbit Galangpress, 2012). Buku itu berisi sejarah Kompas dan budaya perusahaan dari pengamatannya, dengan sesekali memasukkan pengalamannya selama bekerja bersama Kompas.

“Karena keberadaannya cukup panjang di Kompas, tahun 1970, dia banyak tahu tentang perjalanan  Kompas, dan pencatat sejarah Kompas yang cermat,” tambah Sularto.

Tahun 1970, Mamak mengawali karir di bagian tata wajah (layout). “Dua bulan pertama pekerjaan saya adalah mencocokkan antara naskah asli dengan proof hasil pengetikan ulang yang dilakukan operator mesin zetter. Istilahnya saat itu korektor, tepatnya proof reader karena hanya mencocokkan dan tidak berhak mengoreksi,” tulisnya.

Namun, tulis-menulis bukan hal asing baginya. Sejak tahun 1966 hingga masuk Kompas tahun 1970, Mamak sudah sering menulis berita, cerita pendek, dan cerita bersambung di berbagai majalah.

Meskipun bekerja di bidang non-wartawan, tahun 1971 ia sudah diminta membantu mengisi rubrik Serba-serbi Jakarta di halaman satu, yang berisi berita ringan (softnews). Suatu ketika tahun 1974, redaktur saat itu J Adisubrata membutuhkan berita kisah (feature) untuk halaman 1 kanan bawah. Ia memeriksa foto-foto dan mengambil foto bergambar baliho keluarga berencana. “Mas Mamak bisa membuat feature dari foto ini?” kata Adisubrata.

Mamak tidak menyia-nyiakan peluang itu. Di sela-sela pekerjaan sebagai orang tata wajah, ia menulis berita kisah berdasarkan foto tersebut.  Ketika itu Benyamin S sedang populer menyanyikan lagu “Si Entong Belum Gede” bersama Ida Royani. Ia menulis dengan judul lagu tersebut. Sejak itu ia dipercaya redaktur untuk membantu menulis berita ringan.

Ia fokus menjadi wartawan lapangan tahun 1974-1978 di dua desk yaitu Desk Kebudayaan/Pendidikan dan Desk Sosial Politik. Liputan lapangan hingga ke luar Pulau Jawa dikerjakannya. Sebagai wartawan baru ia sudah mampu memenangkan penghargaan jurnalistik paling bergengsi di Tanah Air, yaitu juara kedua Anugerah Adinegoro 1976 untuk liputan transmigrasi di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat.

Ia juga memenangi penghargaan jurnalistik lain. “Mas Mamak itu tulisan-tulisannya bagus. Pernah meraih juara dalam beberapa perlombaan nasional,” ujar Ansel da Lopez, wartawan senior Kompas, yang juga rekan sekerja almarhum.

Dari pekerjaan kewartawanan, karena pengalamannya sebagai orang tata letak, ia dipercaa menjadi Koordinator Tata Wajah tahun 1982-1985. Pada masa ini komputerisasi di Kompas dimulai, wartawan mulai menulis dengan komputer dan proses tata wajah dengan sistem baru.

Rekan sekerja almarhum, wartawan senior Ninok Leksono, mengenang, pernah bersama Mamak dan anggota tim lain ditugaskan ke Inggris untuk menjajaki sistem-sistem baru untuk persiapan digitalisasi Kompas. “Pengalaman tersebut menguatkan kami untuk maju terus melangkah ke sistem produksi digital,” tutur Ninok, mantan Pemimpin Redaksi Kompas.com dan Rektor Universitas Multimedia Nusantara itu.

Mamak juga pernah menjadi Redaktur Sunting dan Redaktur Kompas Minggu hingga tahun 1989.  “Mas Mamak orang malam. Dia penyunting malam yang menjadi pendamping Pak Avent Kuang (Redaktur Sunting lainnya) untuk memastikan berita yang terbit aman. Maklum sama Orba (Orde Baru), “ kenang Suryopratomo, mantan Pemimpin Redaksi Harian Kompas, yang baru saja menyelesaikan tugas sebagai Duta Besar Indonesia untuk Singapura.

Mamak dipercaya untuk ikut mengelola pers daerah Kompas Gramedia yang waktu itu dipimpin Raymond Toruan dan Valens Doy, hingga Mamak menjadi Direktur Kelompok Pers Daerah Kompas Gramedia tahun 1992-1998. Setelahnya ia diminta menjadi Staf CEO Kompas Gramedia, yang antara lain bertugas membantu mengelola koran di luar Kompas Gramedia, yaitu koran sore Surabaya Post di Surabaya, Jawa Timur, sehingga Kompas bisa cetak jarak jauh di percetakan Surabaya Post.

Kembali dari tugas di Surabaya, Mamak menjadi Wakil Redaktur Desk Nusantara dan menjadi Wakil Sekretaris Redaksi hingga pensiun tahun 2004.

Dengan demikian kaya pengalamannya, maka tidak berlebihan kalau Mamak Sutamat adalah sosok wartawan yang lengkap.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rupiah Menguat seiring Upaya BI Perkuat Cadangan Devisa Jaga Stabilitas Ekonomi
• 11 jam laluviva.co.id
thumb
Hasil Manchester United vs Fulham, Sesko Sumbang Gol, Setan Merah Masuk 4 Besar Klasemen Liga Inggris
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jadwal Libur Imlek 2026 dan Cuti Bersama Menurut SKB 3 Menteri, Ada Long Weekend
• 9 jam lalukompas.tv
thumb
Teguhkan Komitmen Menuju WBBM 2026, Pegawai Rutan Pinrang Teken Pakta Integritas
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Ekspor Produk Manufaktur RI Naik ke US$227,1 Miliar pada 2025
• 10 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.