RI Gagal Capai Target Ekspor pada 2025, Ini Biang Keroknya!

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja ekspor Indonesia gagal mencapai target yang ditetapkan dengan realisasi hanya di level US$282,91 miliar atau naik 6,15% secara tahunan (year-on-year/yoy) sepanjang 2025. Hal ini seiring dengan adanya pengenaan tarif resiprokal dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Indonesia.

Untuk diketahui, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) membidik total ekspor mencapai US$294,45 miliar atau tumbuh 7,10% secara tahunan pada 2025.

Center of Reform on Economics (Core) Indonesia menilai melesetnya target ekspor 2025 yang diincar pemerintah menjadi sinyal peringatan untuk target ekspor di tahun-tahun berikutnya.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan kinerja ekspor tidak hanya ditentukan oleh faktor dalam negeri, melainkan juga sangat dipengaruhi dinamika eksternal global. Menurutnya, tekanan global dan persoalan struktural domestik membuat target tersebut sulit tercapai.

“Jadi kalau saya melihat kenapa tidak tercapai target ekspor pada 2025, ini sebagian juga dipengaruhi oleh faktor global,” kata Faisal kepada Bisnis, Senin (2/2/2026).

Apalagi, Faisal menjelaskan ekspor merupakan ujung dari keseluruhan rantai produksi. Di sisi lain, sambung dia, kekuatan ekspor nasional sangat dipengaruhi oleh kondisi di sisi hulu, mulai dari daya saing industri, biaya bahan baku, faktor produksi seperti tenaga kerja, hingga sinkronisasi kebijakan lintas sektor yang menentukan daya saing harga produk ekspor Indonesia.

Baca Juga

  • RI Gagal Capai Target Ekspor 2025, Kemendag Angkat Bicara
  • RI Getol Ekspor Nonmigas ke China-AS pada 2025, Ini Datanya
  • Tak Capai Target, Ekspor RI US$282,91 Miliar Naik 6,15% Sepanjang 2025

Selain itu, Faisal menambahkan tekanan juga semakin besar ketika produk Indonesia harus bersaing di pasar global. Dia menilai berbagai hambatan perdagangan dari negara mitra turut mempersempit ruang pertumbuhan ekspor nasional.

Sepanjang Januari—Juli 2025, Core mencatat sebelum diberlakukannya tarif resiprokal Trump, pertumbuhan ekspor Indonesia sebenarnya cukup tinggi dan berpotensi mencapai target 7%. Namun, tren tersebut mulai melemah sejak Agustus silam.

“Setelah dikenakan tarif resiprokal, tren yang terus mengalami peningkatan kemudian melemah setelah di bulan Agustus. Padahal pada saat yang sama juga beberapa komoditas andalan kita harganya mengalami pelemahan, seperti batu bara,” ujarnya.

Jika menengok data teranyar Badan Pusat Statistik (BPS), batu bara (HS 2701) menjadi salah satu komoditas unggulan Indonesia yang mencatatkan koreksi 19,70% secara kumulatif menjadi US$24,48 miliar. Begitu pula dengan volumenya yang juga ikut menurun 3,66% secara kumulatif menjadi 390,93 juta ton sepanjang 2025.

Lebih lanjut, Faisal menuturkan, kebijakan tarif Trump menjadi salah satu faktor eksternal yang signifikan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Meski secara nominal masih lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, pertumbuhan ekspor akhirnya tetap meleset dari target.

Bahkan, Core mewanti-wanti tekanan eksternal tersebut diperkirakan belum akan mereda pada 2026. Faisal menilai sikap AS yang semakin agresif dalam kebijakan geopolitik seperti Venezuela, Iran, maupun Greenland. Kondisi ini berdampak pada perdagangan dan berpotensi memperburuk prospek ekspor negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Menurut Faisal, kondisi tersebut bukan hanya berdampak langsung melalui hambatan masuk ke pasar AS. Namun juga berpotensi menjadi preseden bagi negara lain untuk menerapkan kebijakan serupa.

Di sisi domestik, dia menambahkan tekanan juga datang dari potensi peningkatan inflasi di tingkat produsen. Dia menjelaskan kenaikan biaya bahan baku dan faktor produksi dikhawatirkan mendorong kenaikan harga, baik untuk pasar domestik maupun ekspor, sehingga melemahkan daya saing.

“Jadi kalau kita melihat dari potensi pertumbuhan ekspor di tahun 2026 ini akan lebih menantang dibandingkan dengan 2025,” bebernya.

Dengan kombinasi tekanan global dan domestik tersebut, Faisal menilai prospek ekspor pada 2026 akan lebih menantang dibandingkan tahun sebelumnya.

Core bahkan memperkirakan surplus perdagangan atau kontribusi net ekspor pada 2026 akan lebih sempit dibandingkan 2025. Ujungnya, dia memproyeksikan target ekspor senilai US$315,31 miliar dengan pertumbuhan 7,09% pada 2026 berpeluang besar tidak tercapai.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Investor Bitcoin (BTC) Mesti Waspada Pengangkatan Kevin Warsh, Ini Alasannya
• 20 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Polda Metro Jaya Tekankan Bahaya Penyalahgunaan Gas N2O
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Menata Arah Ekonomi DIY 2025-2030: Nilai, Kepemimpinan, dan Pembiayaan Inovatif
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Megawati Kunjungi KBRI Abu Dhabi, Bahas Pelayanan WNI hingga Isu Geopolitik
• 17 menit laludetik.com
thumb
Viral Isu Penganiayaan Pedagang Es Gabus, Polisi: Tidak Ada!
• 3 jam lalugenpi.co
Berhasil disimpan.