Cerita Ibu: Infeksi Bikin Anak Saya Harus Suntik Tiap Bulan selama 5 Tahun!

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Radang tenggorokan kerap dianggap sebagai penyakit ringan pada anak. Namun, bagi Hiu Theresa, seorang ibu dari tiga orang anak, pengalaman ini justru menjadi pelajaran besar yang tak akan pernah ia lupakan. Anak ketiganya sempat mengalami radang tenggorokan yang tampak biasa, hingga akhirnya berkembang menjadi kondisi serius yang berisiko menyerang jantung.

Radang Tenggorokan yang Awalnya Dianggap Biasa

Semua bermula ketika sang anak mengeluh tenggorokannya terasa sangat sakit. Seperti kebanyakan orang tua, Hiu Theresa mengira itu hanyalah radang tenggorokan biasa. Ia pun memberikan obat herbal dan essential oil. Dalam waktu sekitar tiga hari, keluhan tersebut memang mereda. Anak terlihat kembali sehat dan tidak lagi mengeluh saat makan.

“Awalnya dia sempat bilang, ‘Mami tenggorokan aku tuh kalau gak salah sakit banget,’ yasudah berarti kan kita mikirnya radang ya yang namanya sakit tenggorokan,” ucap Theresa dalam wawancara program Cerita Ibu kumparanMOM, Kamis (22/1).

Namun beberapa hari kemudian, muncul tanda-tanda yang terasa janggal. Di ujung bibir anaknya terlihat sariawan kecil. Tak lama berselang, sang anak mengeluh kakinya terasa sakit, disertai rasa tidak enak di badan saat bangun tidur. Meski begitu, anak tidak demam dan masih terlihat aktif seperti biasa, sehingga tetap berangkat ke sekolah.

Keluhan ternyata semakin jelas. Anak mulai mengatakan kakinya benar-benar sakit dan tampak sedikit bengkak. Duduk terlalu lama lalu berdiri membuatnya kesakitan. Bahkan di sekolah, ia sempat beristirahat di UKS karena merasa tidak enak badan.

Malam harinya, Hiu Theresa melihat muncul biduran di kaki sang anak. Awalnya ia mengira itu reaksi alergi. Namun, keanehan belum berhenti. Saat menemani anak tidur, ia melihat jari-jari tangan anak mulai membengkak, terutama di bagian ruas. Kekhawatiran pun muncul, hingga akhirnya ia memutuskan membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Diagnosis Streptococcus dan Kekhawatiran Akan Jantung

Di IGD, Hiu Theresa masih menduga itu alergi. Namun hasil pemeriksaan darah menunjukkan hal berbeda. Tidak ditemukan alergi maupun infeksi virus. Yang terdeteksi justru infeksi bakteri, meski kadarnya hanya sedikit meningkat.

Dokter jaga akhirnya menyampaikan kecurigaannya terhadap infeksi bakteri streptococcus. Bagi Hiu Theresa, nama bakteri itu terdengar asing. Namun dokter menjelaskan bahwa kondisi ini berbahaya karena bisa menyerang jantung dan ginjal jika tidak segera ditangani. Anak pun dirawat inap dan menjalani tes ASTO untuk memastikan infeksi streptococcus.

“Akhirnya kita putuskan untuk nginap aja dan langsung di tes. Namanya tes ASTO. Nah tes ASTO itu adalah tes untuk membuktikan. Kalau memang ini disebabkan oleh bakteri streptococcus. Dan ternyata memang positif dan ASTO nya itu sekitar 400. Jadi menurut dokter itu tinggi,” imbuhnya.

Perawatan Jangka Panjang dan Pelajaran bagi Orang Tua

Kondisi semakin membuat orang tua cemas ketika sang anak sempat mengeluh nyeri di dada. Dokter pun memberikan obat jantung sebagai langkah antisipasi. Meski anak terlihat masih aktif dan nafsu makannya baik, gejala aneh terus bermunculan, seperti pembengkakan di wajah hingga biduran di tangan dan kaki. Pemeriksaan darah ulang tetap menunjukkan tidak adanya alergi.

Dari dokter pula, Hiu Theresa baru mengetahui fakta mengejutkan. Dalam satu tahun pertama setelah terinfeksi streptococcus, risiko kambuh bisa mencapai 80 persen. Jika terjadi infeksi ulang, kemungkinan komplikasi ke jantung dan organ lain jauh lebih besar. Karena itulah, sang anak harus menjalani suntikan antibiotik rutin sebulan sekali selama lima tahun, sebuah prosedur yang diterapkan secara global.

“Jadi kan memang saya tanya juga ada pilihan lain gak sih dok selain suntik gitu. Nah terus dokter bilang sebetulnya ada yaitu obat minum gitu kan. Tapi kalau minum itu harus diminum setiap hari dan sehari dua. Nah akhirnya sekarang anaknya memilih untuk suntik sih. Dia sudah berdamai dengan suntikannya,” kata ibu tiga anak itu.

Secara emosional, masa-masa awal menjadi yang paling berat. Namun doa dan sikap kooperatif sang anak membuat Hiu Theresa semakin kuat. Ia juga membagikan kisah ini di media sosial untuk meningkatkan kewaspadaan orang tua. Banyak pesan masuk dari orang tua lain dengan pengalaman serupa, bahkan ada yang komplikasinya menyerang ginjal.

Dari pengalaman ini, Hiu Theresa belajar bahwa radang tenggorokan tidak boleh dianggap sepele. Dampaknya bisa muncul satu hingga dua minggu setelah gejala awal mereda. Tanda-tanda seperti sariawan, lidah stroberi, pembengkakan sendi, atau nyeri tidak biasa harus segera diperiksa.

Kini, sang anak telah kembali sehat. Meski masih harus menjalani pengobatan jangka panjang, ia tidak sendiri. Dukungan keluarga menjadi sumber kekuatan terbesar untuk terus semangat menjalani proses penyembuhan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Perkuat Diplomasi Al-Qur’an Indonesia, Kemenag Gandeng 4 Lembaga Mitra Mesir
• 15 jam lalujpnn.com
thumb
Rusia Tambah Kuota Beasiswa bagi Pelajar Indonesia Jadi 300
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Grup D Piala Asia Futsal: Iran di puncak, Afghanistan kedua
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Darah Nenek Saudah Bikin DPR Murka, Mafia Tambang Ilegal Pasaman Terancam Dibabat Habis!
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Belajar dari Masa Kecil, Acha Septriasa Kini Terapkan Pola Asuh Lebih Sehat
• 12 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.