Bawaslu-Gusdurian Urai Tantangan Gen Z di Era Transformasi Digital dan Etika Politik

harianfajar
9 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR – Bawaslu Sulsel menggelar diskusi strategis bertajuk “Bincang Demokrasi #1: Transformasi Demokrasi Era Digital: Peran dan Tantangan Gen Z”.

Kegiatan yang diinisiasi bersama Gusdurian Makassar ini bertujuan untuk memetakan peran generasi muda dalam menjaga kualitas demokrasi, di tengah gempuran arus informasi digital yang semakin kompleks.

Ketua Bawaslu Sulsel, Mardiana Rusli menekankan pentingnya keterlibatan aktif generasi muda dalam kendali demokrasi. Dia menyoroti bahwa intelektualisme harus menjadi fondasi utama, terutama bagi kaum perempuan.

“Generasi muda harus turun langsung memegang kendali demokrasi. Perempuan jangan hanya terlena dengan penampilan, tetapi harus mencerdaskan diri dan melatih intelektual agar mampu mentransformasi generasi mendatang melalui dialektika yang sehat,” ujarnya.

Sementara Anggota Bawaslu Sulsel, Alamsyah membedah sejarah panjang kepemiluan di Indonesia, yang kini telah memasuki edisi ke-13. Dia menyoroti tantangan nyata Bawaslu dalam menangani pelanggaran di ruang siber.

Menurutnya, digitalisasi laporan sering kali terkendala pada aspek pembuktian yang kurang rinci. Ia mencontohkan keberhasilan Bawaslu dalam melakukan take-down konten bermasalah di Parepare dan Luwu melalui koordinasi dengan Kominfo.

“Tantangan bersama kita adalah regulasi dan literasi. Gen Z yang lahir di era digital harus paham bahwa UU di setiap instansi terkadang memiliki irisan. Bawaslu terus berupaya adaptif, termasuk memahami fenomena Kotak/Kolom Kosong seperti di Maros untuk memastikan semua hak saksi terpenuhi,” paparnya.

Dari sisi akademik, darurat kesehatan mental dan etika digital diulas oleh Muh. Fachri Said. Dia menitikberatkan pada dampak negatif banjir informasi terhadap kesehatan mental Gen Z. Dia mengamati adanya pergeseran pola konsumsi informasi dari durasi panjang ke short video yang membuat generasi muda malas memahami persoalan secara utuh.

“Dunia maya harus dianggap sama dengan dunia nyata. Etika digital kita masih minim filterisasi. Hukum hadir untuk melindungi hak Anda, namun pengguna juga harus memiliki filter diri dalam menghadapi algoritma media sosial yang mendikte perilaku,” jelas Fachri.

Melengkapi diskusi, perwakilan komunitas Gusdurian, Faturrahman Marzuki dan Megawati, menekankan pentingnya nilai pluralisme dan gerakan organik. Megawati menepis anggapan bahwa Gen Z adalah generasi yang lemah dengan merujuk pada revolusi di Bangladesh yang digerakkan oleh anak muda melalui media sosial.

“Gen Z adalah penggerak organik. Baik buruknya sebuah sistem demokrasi sangat tergantung pada individu di dalamnya. Jika kita tertinggal dalam penguasaan media digital, tidak akan ada yang melanjutkan estafet kepemimpinan ini,” pungkas Megawati.

Diskusi ini diakhiri dengan harapan agar perpolitikan Indonesia ke depan menjadi lebih ramah bagi semua golongan, dengan Gen Z sebagai aktor utama yang membekali diri dengan kesiapan intelektual serta mental yang kuat. (wid)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Israel Kembali Serang Gaza, Pimpinan Komisi I: Ujian Nyata Bagi Board of Peace
• 20 jam lalukompas.com
thumb
Wamenkes Menghadap Prabowo, Diminta Fokus Tangani TBC
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Momen Presiden Prabowo Tegur Keras Gubernur Bali soal Sampah
• 6 jam lalukompas.tv
thumb
Saksi Sidang Noel Akui Pernah Ditawari LC Oleh 'Sultan Kemnaker': Saya Tidak Tahu Sumber Duitnya
• 10 jam lalusuara.com
thumb
[FULL] Wali Kota Cilegon Soal Asap Oranye Pabrik yang Buat 56 Warga Sesak Napas
• 1 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.