Ketika Sistem Peringkat Dihapus Motivasi Berprestasi Siswa Dipertaruhkan

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Penghapusan sistem peringkat di sekolah kerap dibungkus dengan narasi kemanusiaan dan kesehatan mental. Tujuannya terdengar mulia, yaitu mengurangi tekanan akademik, mencegah stigma, dan menciptakan pendidikan yang lebih inklusif. Namun di balik niat baik tersebut, muncul persoalan serius yang jarang dibahas secara jujur. Hilangnya sistem peringkat justru berpotensi menggerus motivasi siswa untuk berprestasi dan melemahkan semangat kompetisi sehat yang selama ini menjadi penggerak utama kemajuan akademik.

Sistem peringkat selama puluhan tahun berfungsi sebagai alat ukur yang jelas dan mudah dipahami. Siswa mengetahui posisi mereka, memahami kekuatan dan kelemahan diri, serta memiliki target konkret untuk dicapai. Bagi banyak siswa, keinginan menjadi nomor satu bukan sekadar soal gengsi, melainkan bentuk aktualisasi diri dan penghargaan atas kerja keras. Ketika sistem ini dihapus, tujuan tersebut menjadi kabur dan usaha keras sering kali terasa tidak memiliki pembeda yang nyata.

Argumen bahwa sistem peringkat memicu tekanan berlebihan memang tidak sepenuhnya salah. Namun masalahnya bukan pada peringkat itu sendiri, melainkan pada cara sekolah dan lingkungan memaknainya. Tekanan muncul ketika nilai dijadikan satu satunya ukuran keberhasilan dan kegagalan. Menghapus peringkat tanpa membenahi budaya pendidikan ibarat memotong gejala tanpa menyentuh akar masalah. Alih alih menciptakan solusi, kebijakan ini justru berisiko melahirkan masalah baru.

Tanpa sistem peringkat, banyak siswa kehilangan dorongan untuk bersaing secara sehat. Ketika hasil akhir tidak lagi menunjukkan perbedaan yang jelas antara usaha maksimal dan usaha seadanya, motivasi intrinsik mudah melemah. Siswa yang sebelumnya berjuang keras untuk menjadi yang terbaik bisa merasa usahanya tidak lagi relevan. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi menumbuhkan sikap apatis dan mentalitas cukup asal lulus.

Pendidikan sejatinya tidak hanya tentang pemerataan rasa aman, tetapi juga tentang menyiapkan individu menghadapi realitas kehidupan. Dunia nyata penuh dengan kompetisi, target, dan penilaian. Prestasi diukur, usaha dibandingkan, dan hasil menentukan peluang. Ketika sekolah menghilangkan semua bentuk kompetisi atas nama kenyamanan, siswa berisiko tumbuh tanpa kesiapan mental untuk menghadapi tantangan tersebut. Mereka terbiasa berada di ruang yang serba rata, sementara dunia di luar tidak bekerja dengan cara yang sama.

Selain itu, penghapusan sistem peringkat dapat mengaburkan makna keadilan akademik. Siswa yang berprestasi tinggi membutuhkan pengakuan yang setara dengan kerja kerasnya. Ketika semua hasil disamakan secara implisit, penghargaan terhadap usaha menjadi bias. Ini bukan soal merendahkan siswa lain, tetapi soal memberi apresiasi yang adil. Mengakui prestasi tidak otomatis berarti merendahkan yang belum mencapai hal serupa.

Pendukung kebijakan ini sering berargumen bahwa fokus pendidikan seharusnya pada proses belajar, bukan hasil. Pernyataan ini benar, tetapi tidak lengkap. Proses dan hasil adalah dua hal yang saling berkaitan. Proses yang baik seharusnya menghasilkan capaian yang terukur. Tanpa indikator yang jelas, proses kehilangan arah. Sistem peringkat selama ini berfungsi sebagai salah satu indikator tersebut, meskipun tentu perlu disempurnakan.

Alternatif seperti penilaian deskriptif atau portofolio memang dapat memberi gambaran lebih menyeluruh tentang kemampuan siswa. Namun jika diterapkan tanpa kerangka evaluasi yang tegas, sistem ini rawan menjadi subjektif dan tidak konsisten. Siswa tetap membutuhkan tolok ukur yang konkret untuk menilai perkembangan diri. Tanpa itu, pendidikan berisiko berubah menjadi sistem yang nyaman tetapi tidak menantang.

Masalah lain yang muncul adalah ketidaksiapan guru dan sekolah dalam mengganti peran sistem peringkat. Banyak institusi belum memiliki mekanisme evaluasi alternatif yang matang. Akibatnya, penghapusan peringkat tidak diikuti dengan penguatan sistem penghargaan lain. Kekosongan ini membuat siswa kehilangan orientasi dan tujuan belajar yang jelas.

Pendidikan seharusnya mampu menyeimbangkan empati dan ekspektasi. Melindungi kesehatan mental siswa penting, tetapi menghilangkan tantangan bukanlah solusi. Tantangan justru membentuk ketangguhan, disiplin, dan daya juang. Sistem peringkat yang dikelola secara sehat dapat menjadi alat pembelajaran, bukan sumber tekanan semata.

Pada akhirnya, penghapusan sistem peringkat perlu dikaji secara kritis dan jujur. Niat baik tidak selalu menghasilkan dampak baik jika tidak disertai perencanaan matang. Pendidikan tidak boleh takut pada kompetisi, selama kompetisi tersebut adil dan manusiawi. Menghilangkan sistem peringkat tanpa alternatif yang kuat berisiko melemahkan motivasi siswa dan menjauhkan pendidikan dari fungsinya sebagai ruang pembentukan karakter unggul dan berdaya saing.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komnas HAM: Korban Child Grooming Alami Trauma Panjang, Ada Indikasi Bunuh Diri
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Keluhan Turis soal Pantai Bali Kotor Sampai ke Prabowo, Langsung Tegur Bupati Hingga Gubernur Bali
• 6 jam laludisway.id
thumb
Megawati Soekarnoputri Disambut Menteri Negara UEA Saat Tiba di Abu Dhabi
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
7 Kebiasaan Orang yang Benar-Benar Mencintai Dirinya Sendiri
• 14 jam lalubeautynesia.id
thumb
Bahaya MSG: Mitos vs Fakta Ilmiah untuk Kesehatan Keluarga
• 31 menit lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.