Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) atau BSI membeberkan arah strategi bisnis dan perannya ke depan usai resmi menyandang status persero. BSI menyiapkan penguatan ekosistem keuangan syariah yang terintegrasi dengan Danantara, sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan aset dan investasi BUMN.
Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan bahwa amanah pemegang saham tersebut akan memperkuat kapasitas dan kapabilitas BSI sebagai bank syariah terbesar di Indonesia sekaligus mempertegas perannya dalam mendukung kebijakan strategis pemerintah.
Menurut Anggoro, penyesuaian status menjadi Persero selaras dengan implementasi Undang-Undang BUMN yang menegaskan peran BPI Danantara sebagai pengelola aset dan investasi BUMN. Dalam konteks tersebut, BSI diposisikan sebagai salah satu motor penguatan ekosistem keuangan syariah nasional.
“Penyesuaian status ini akan membuat BSI semakin solid, sekaligus mampu mendorong ekonomi syariah sebagai arus baru pertumbuhan ekonomi nasional serta pengembangan industri dan ekosistem halal di Indonesia,” ujar Anggoro dalam keterangan resminya, Senin (2/2/2026).
Dia menegaskan, dalam menjalankan mandat tersebut, BSI tetap mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik serta kepatuhan terhadap seluruh ketentuan yang berlaku. Penguatan governance dinilai menjadi kunci dalam menopang peran strategis Perseroan ke depan.
Sejalan dengan status barunya, BSI juga akan terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia, sistem teknologi informasi, dan infrastruktur layanan.
Baca Juga
- Saham Perbankan BBCA, BRIS, BBYB Kompak Anjlok Efek Panic Selling Sentimen MSCI
- Resmi Jadi BUMN, Bank Syariah Indonesia (BRIS) Kantongi Status Persero
Anggoro juga menyebut BSI fokus menjalankan fungsi intermediasi dengan fokus penyaluran pembiayaan sejak awal merger. Mayoritas pembiayaan BSI disalurkan pada bisnis ritel dan konsumer terutama di ekosistem halal.
Kondisi tersebut membawa dampak terhadap kinerja BSI yang cukup solid hingga tutup buku tahun 2025. Tercatat 90% penyaluran pembiayaan BSI didistribusikan kepada segmen ritel, konsumer UMKM dan komersial skala kecil dengan lingkup ekosistem pendidikan dan lembaga kesehatan.
Hal ini masih menjadi fokus pengembangan BSI ke depan. Selain itu, BSI mencatat total pembelian emas melalui aplikasi BYOND mencapai di atas 2,1 ton sejak awal peluncuran hingga akhir Desember 2025, lalu total jumlah nasabah lebih dari 23 juta.
Adapun, status baru ini merupakan tindak lanjut keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 22 Desember 2025 terkait perubahan Anggaran Dasar Perseroan, yang telah memperoleh persetujuan Kementerian Hukum pada 23 Januari 2026 serta disampaikan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia.
Seiring dengan hal itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mengumumkan bahwa perseroan tidak lagi melakukan konsolidasi atas laporan keuangan BSI dalam laporan keuangan konsolidasian Bank Mandiri.
Ketentuan tersebut disampaikan dalam laporan informasi atau fakta material terkait penyesuaian pengelolaan perusahaan anak perseroan. Meski demikian, Bank Mandiri menegaskan bahwa tidak terdapat perubahan kepemilikan saham perseroan di BSI.
"Perseroan tidak lagi melakukan konsolidasi atas laporan keuangan BSI dalam laporan keuangan konsolidasian perseroan. Adapun kepemilikan saham Perseroan di BSI akan dicatat dan diakui sesuai dengan standar akuntansi yang relevan," katanya dalam keterangan resmi yang diumumkan Bank Mandiri, Selasa (27/1/2026).
Bagaimana dampaknya? Bank Mandiri berisiko kehilangan penopang terbesar di antara entitas anak. Hingga kuartal III/2025, BSI mencatat laba bersih Rp5,56 triliun, naik dari Rp5,11 triliun tahun lalu. Dari total laba bersih entitas anak Bank Mandiri sebesar Rp8,45 triliun, separuh lebih berasal dari BSI.
Berdasarkan laporan kinerja entitas anak perseroan dalam presentasi Bank Mandiri, BSI menyumbang laba bersih terbesar dengan nilai mencapai Rp5,56 triliun per September 2025, tumbuh dari Rp5,11 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi aset, BSI yang sahamnya dimiliki 51,47% oleh Bank Mandiri mencatat total aset Rp416,57 triliun hingga September 2025, naik 4,14% secara kuartalan (quarter to quarter/QtQ) dan tumbuh 12,40% secara tahunan (year on year/YoY). Dengan capaian tersebut, BSI menyumbang sekitar 70,1% dari total aset seluruh entitas anak Bank Mandiri yang mencapai Rp593,83 triliun.
Dari jumlah itu, aset individu Bank Mandiri sebesar Rp1.919,66 triliun, yang berarti BSI sebagai anak usaha menyumbang sekitar Rp400,88 triliun atau lebih dari 16% dari aset konsolidasi.
Total aset gabungan seluruh anak usaha Bank Mandiri mencapai Rp593,83 triliun per September 2025, tumbuh 9,05% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh segmen perbankan dan asuransi yang masih menunjukkan peningkatan kinerja positif.
Dengan kontribusi dominan BSI dan pertumbuhan di sektor keuangan lainnya, Bank Mandiri berhasil mempertahankan momentum kinerja entitas anak secara konsolidasi. Menurut data Bank Mandiri, total aset per September 2025 tercatat sebesar Rp2.563,36 triliun. Lalu total aset BSI per September 2025 sebesar Rp416,57 triliun.
Jika BSI dilepas sepenuhnya alias de-konsolidasikan, maka total aset Bank Mandiri akan turun sebesar porsi yang sebelumnya dikonsolidasikan. Aset Bank Mandiri sebesar Rp2.563,36 triliun dikurang Rp214,41 triliun. Hasilnya, aset Bank Mandiri tanpa BSI sekitar Rp2.348,95 triliun.




