Kita hidup di zaman yang memuja kecepatan. Pesan dibalas dalam hitungan detik, makanan datang dalam menit, dan popularitas bisa diraih hanya lewat satu video singkat. Segalanya bergerak cepat, instan, dan serba praktis. Namun di balik kemudahan itu, ada satu hal yang perlahan memudar: penghargaan terhadap proses.
Generasi hari ini tumbuh dengan ekspektasi bahwa hasil harus segera terlihat. Ketika sesuatu berjalan lambat, muncul rasa gelisah, bosan, bahkan putus asa. Padahal, banyak hal penting dalam hidup—kemampuan, kedewasaan, kepercayaan diri—justru tumbuh lewat proses yang tidak instan.
Media sosial ikut memperkuat ilusi keberhasilan cepat. Kita melihat potongan akhir dari pencapaian seseorang, tetapi jarang menyaksikan perjalanan panjang di baliknya. Akibatnya, orang mudah merasa tertinggal, padahal yang dibandingkan hanyalah hasil akhir orang lain dengan proses kita sendiri.
Budaya serba cepat juga memengaruhi cara kita menjalani hubungan, pendidikan, bahkan karier. Ketika hasil tidak segera datang, pilihan yang diambil sering kali adalah berhenti, pindah, atau menyerah. Ketekunan yang dulu dianggap kekuatan, kini sering kalah oleh keinginan untuk segera melihat hasil.
Padahal, proses bukan sekadar jalan menuju tujuan. Di sanalah karakter terbentuk. Dari kegagalan kita belajar bertahan, dari kesalahan kita belajar memperbaiki, dan dari penantian kita belajar menghargai.
Mungkin kita memang tidak bisa memperlambat laju zaman. Namun kita bisa mengubah cara pandang. Tidak semua hal harus cepat, dan tidak semua keterlambatan berarti kegagalan. Kadang, justru proses yang lambat memberi hasil yang lebih kuat dan bermakna.
Di tengah dunia yang terburu-buru, memilih untuk sabar dan menikmati proses bisa menjadi bentuk keberanian yang jarang disadari, tetapi sangat berharga.
PINION





