Baru 35 Persen Pejabat yang Setor LHKPN 2025, KPK Beri Peringatan Tegas

tvonenews.com
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menyoroti masih rendahnya tingkat kepatuhan para penyelenggara negara dalam melaporkan kekayaannya. 

Berdasarkan data per 31 Januari 2026, laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) periodik untuk tahun pelaporan 2025 baru menyentuh angka 35,52 persen.

Padahal, para pejabat publik memiliki waktu hingga batas akhir pada 31 Maret 2026 untuk mengunggah data mereka melalui situs resmi elhkpn.kpk.go.id.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menekankan bahwa angka tersebut seharusnya bisa lebih tinggi sebagai cerminan tanggung jawab moral pejabat publik.

“Capaian tersebut masih perlu ditingkatkan, mengingat kewajiban pelaporan LHKPN merupakan instrumen penting dalam mendorong transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan negara,” tegas Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/2).

Menurut KPK, melaporkan kekayaan di awal waktu bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan bentuk komitmen nyata dalam mencegah praktik korupsi. Hal ini juga menjadi teladan bagi lingkungan kerja dan masyarakat luas mengenai pentingnya keterbukaan.

Budi mengingatkan bahwa kewajiban ini mengikat seluruh jajaran pimpinan tinggi di pemerintahan, mulai dari pusat hingga daerah.

“Kewajiban ini berlaku bagi pimpinan lembaga negara, menteri Kabinet Merah Putih, pimpinan lembaga pemerintah dan nonstruktural, kepala daerah, pimpinan DPRD, serta direksi BUMN dan BUMD di seluruh Indonesia,” imbuhnya.

Dalam pengisian LHKPN, KPK meminta para wajib lapor untuk lebih teliti, terutama terkait validasi Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan kelengkapan dokumen pendukung seperti surat kuasa.

Untuk memudahkan, para pejabat bisa langsung mengunduh draf surat kuasa lewat sistem digital yang disediakan.

“Adapun format surat kuasa dapat diunduh melalui aplikasi e-Filing di portal elhkpn.kpk.go.id pada menu Riwayat LHKPN, kolom aksi dan tombol cetak surat kuasa,” terang Budi.

Penyelenggara negara kini juga diberikan pilihan dalam penggunaan meterai senilai Rp10.000, baik dalam bentuk fisik maupun elektronik (e-meterai). Namun, ada prosedur berbeda untuk keduanya.

“Jika wajib lapor menggunakan meterai tempel, maka wajib diserahkan ke Direktorat Pendaftaran dan Pemeriksaan LHKPN di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta. Sebaliknya, jika wajib lapor memakai meterai elektronik, maka hanya perlu mengunggahnya kembali ke portal LHKPN,” jelasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
POV: Jadi Member ShopeeVIP
• 20 jam lalusuara.com
thumb
Bursa Asia Bergerak Fluktuatif, Investor Wait and See Tunggu Data Industri Tiongkok
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Serangan Drone Ukraina Tewaskan Dua Warga Rusia
• 12 jam lalutvrinews.com
thumb
PGRI Temui Baleg DPR, Usulkan RUU Perlindungan Guru hingga Badan Guru Nasional
• 15 jam lalubisnis.com
thumb
Kompolnas Prihatin Penyidik Polsek Cilandak Diduga Rekayasa BAP Kasus Penganiayaan
• 12 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.