Harga Minyak Anjlok dari 4 Persen, Ketegangan AS-Iran Mereda

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak anjlok pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran tengah serius berbicara dengan Washington.

Harga Minyak Anjlok dari 4 Persen, Ketegangan AS-Iran Mereda. (Foto: Freepik)

IDXChannel - Harga minyak anjlok pada Senin (2/2/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Iran tengah serius berbicara dengan Washington.

Pernyataan tersebut memberi sinyal meredanya ketegangan dengan anggota OPEC itu, sementara penguatan dolar AS dan prakiraan cuaca yang lebih hangat turut menekan harga.

Baca Juga:
Isu MSCI Tekan IHSG, DBS Nilai Pasar Indonesia Tetap Menarik

Kontrak berjangka (futures) Brent jatuh 4,4 persen dan ditutup di USD66,30 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 4,7 persen ke USD62,14 per barel.

Iran dan AS dijadwalkan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat, demikian disampaikan pejabat dari kedua negara kepada Reuters.

Baca Juga:
Bank Indonesia Gabung Proyek Nexus, Jadi Solusi Pembayaran Efisien Antarnegara

Pada Sabtu, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa Iran sedang “serius berbicara”, beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan bahwa pengaturan untuk perundingan tengah berjalan.

Sebelumnya, presiden AS berulang kali mengancam akan melakukan intervensi terhadap Iran jika negara itu tidak menyepakati kesepakatan nuklir atau terus membunuh para pengunjuk rasa.

Baca Juga:
Wall Street Menguat: S&P 500 Dekati Rekor Tertinggi, Produsen Chip dan Saham Kapitalisasi Kecil Naik

“Ancaman-ancaman tersebut menopang harga minyak sepanjang Januari,” kata analis Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.

Di sisi lain, dolar AS turut menguat setelah pelaku pasar mata uang menyambut pencalonan Kevin Warsh oleh Trump sebagai Ketua The Fed berikutnya.

Dolar yang lebih kuat membuat harga minyak berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

“Prakiraan cuaca yang lebih hangat di AS juga menekan harga minyak, seiring harga berjangka diesel yang berbalik turun tajam,” demikian tulis analis Ritterbusch and Associates.

Kontrak berjangka diesel AS, yang digunakan untuk pemanas dan pembangkit listrik, turun lebih dari 6 persen.

Analis PVM menulis dalam sebuah catatan, bersama ketegangan di Timur Tengah, fenomena polar vortex di AS sempat mendorong harga WTI naik 14 persen dan Brent menguat 16 persen sepanjang Januari.

Namun, seiring meredanya faktor-faktor tersebut, fokus pasar kembali tertuju pada peningkatan persediaan minyak global yang secara luas sudah diantisipasi tahun ini.

Dalam pertemuan pada Minggu, OPEC+ sepakat mempertahankan produksi minyaknya untuk Maret.

Pada November lalu, kelompok tersebut membekukan rencana kenaikan produksi lanjutan untuk periode Januari hingga Maret 2026 karena konsumsi yang melemah secara musiman. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ivar Jenner Resmi Berpisah dengan FC Utrecht, Merapat ke Persija Jakarta atau Dewa United?
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
MK tolak uji materiil KUHP terkait penyalahgunaan jabatan
• 22 jam laluantaranews.com
thumb
Alfamart (AMRT) Suntik Modal Lawson Indonesia Rp35 Miliar
• 6 jam laluidxchannel.com
thumb
Pariwisata Kaltim 2025 Melesat, Wisman Naik 113%
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Mulai Tender Offer Saham AMMS, Radiant Ruby Patok Harga Rp156 per Lembar
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.