Defisit perdagangan Indonesia dengan Cina melebar tajam sepanjang 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca dagang dengan Negeri Panda ini mencapai US$20,5 miliar, melonjak US$11,11 miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Lonjakan ini memicu kekhawatiran pasar soal membanjirnya barang impor asal Cina dan meningkatnya ketergantungan Indonesia pada produk luar negeri, terutama bahan baku dan barang modal meski Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan besar.
Surplus neraca perdagangan sepanjang tahun lalu mencapai US$41,05 miliar atau sekitar Rp 676,3 triliun. Surplus terbesar disumbang perdagangan dengan Amerika Serikat yang mencapai US$ 18,11 miliar.
Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, defisit dengan Cina bukan fenomena baru, melainkan pola struktural yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
“Defisit perdagangan antara Indonesia dan Cina sebenarnya bukan isu baru. Dinamika perdagangan kita memang lebih banyak menguntungkan sisi Cina,” ujar Yusuf kepada Katadata, Senin (2/2).
Menurutnya, pelebaran defisit tahun ini dipengaruhi efek pengalihan perdagangan atau trade diversion akibat perang dagang global. Ketika ekspor Cina ke Amerika Serikat terhambat tarif tinggi, sebagian produk dialihkan ke pasar lain, termasuk Indonesia.
“Cina menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara penampung produk mereka ketika tidak bisa masuk ke Amerika. Jadi ada semacam diversion. Itu yang membuat defisit tetap terjadi dan bahkan melebar,” kata dia.
Selain itu, pelemahan harga komoditas turut menekan kinerja ekspor Indonesia ke China. Sementara impor dari China justru meningkat.
“Kita mengekspor komoditas, tapi harganya sedang turun. Di saat yang sama, impor dari China naik. Kombinasi itu membuat defisit makin lebar,” kata Yusuf.
Meski demikian, ia menilai kondisi ini tidak serta-merta bisa disebut sebagai “serbuan” barang Cina. Namun, ada persoalan daya saing industri domestik yang perlu diwaspadai.
Yusuf mengakui banyak produk manufaktur Cina dijual dengan harga sangat murah berkat skala produksi besar dan efisiensi industri, sehingga sulit disaingi produk lokal.
“Kalau barangnya jauh lebih murah, konsumen pasti pilih itu. Sayangnya, banyak produk yang sebenarnya bisa diproduksi di dalam negeri jadi kalah saing,” ujarnya.
Ketergantungan ini terutama terlihat pada bahan baku, komponen, dan barang pendukung produksi. Yang menurutnya jika tidak diimbangi diversifikasi pasokan dan penguatan industri nasional, Indonesia berisiko makin bergantung pada satu negara.
“Kalau kita terlalu tergantung dan tidak punya alternatif sumber impor lain, itu berbahaya. Pemerintah perlu fokus agar defisit ini tidak berdampak pada industri domestik,” kata Yusuf


