Donald Trump tidak hanya seorang politisi, tapi juga pengusaha. Kekayaannya di Oktober 2024 sekitar US $ 6,6 miliar atau Rp111 triliun dengan kurs Rp16.800. Banyak sekali lapangan bisnis yang diterjuni Trump mulai dari properti, konstruksi, hotel, lapangan golf, model, kecantikan, hiburan, parfum, kripto, media dan lisensi, serta teknologi.
Sejak dia menjadi presiden, memang usaha-usaha tersebut dikelola oleh anak-anaknya--Donald Jr dan Eric Trump. Tapi itu bukan berarti Trump tidak lagi memikirkan perusahaan-perusahaannya. Otaknya dan naluri bisnisnya tetap saja jalan.
Dalam kasus penculikan Maduro, Presiden Venezuela, misalnya jelas tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan masalah bisnis minyak--di mana Donald Trump menginginkan Amerika tetap menguasai bisnis minyak dunia, dan Venezuela memiliki potensi minyak yang luar biasa. Namun sementara, Maduro tidak mau menjual minyaknya kepada Amerika. Dia lebih senang berhubungan dengan China. Begitu juga dengan Iran.
Trump ingin Iran ikut dengan Amerika, tapi Iran lebih senang menjual minyaknya kepada China--padahal China adalah salah satu negara yang diyakini dunia akan bisa mengalahkan ekonomi Amerika.
Walaupun hari ini Amerika masih memimpin ekonomi global dengan PDB tahun 2025 di atas $30,6 triliun USD dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2025 menurut perkiraan OECD sekitar 1,6 persen (menurun dari 2,8 persen di 2024). Sementara China pada tahun 2025 berada pada posisi terbesar kedua ekonominya dengan PDB mencapai sekitar $19,2 - $19,4 triliun USD dengan pertumbuhan ekonominya sekitar 5%.
Maka pada waktunya, tidak mustahil ekonomi Amerika akan disalip oleh China. PricewaterhouseCoopers (PwC), memproyeksikan China akan mengalahkan Amerika Serikat dan menjadi ekonomi terbesar di dunia (berdasarkan PDB pada nilai tukar pasar/market exchange rates) sebelum tahun 2030. Bahkan pada tahun 2050, menurut PWC China akan tetap mengukuhkan dirinya menjadi no 1 ekonominya di dunia diikuti oleh India dan AS.
Maukah Amerika serikat tergeser ekonominya ke no 2 apalagi ke no 3 dunia? Tentu saja tidak. Untuk itulah Trump dengan kekuasaan yang dimilikinya berusaha menciptakan peluang-peluang baru bagi negaranya dan perusahaannya.
Pembangunan kembali Gaza jelas tidak bisa dilepaskan kaitannya dengan rencana Trump untuk memperkuat ekonomi negaranya dan perusahaannya. Jadi jika Trump berhasil menghimpun dana gratis dari negara-negara anggota dewan perdamaian gaza tentu pembangun Gaza akan berjalan dengan lancar.
Tetapi pertanyaannya siapakah yang akan untung dan diuntungkan dengan program tersebut? Tentu perusahaan properti Amerika Serikat, termasuk di dalamnya perusahaan milik Trump sendiri sementara negara-negara anggota, cukup hanya sebagai penyumbang dan sedikit mendapat pujian dari Trump.




