PT Bank Woori Saudara Tbk (SDRA) atau BWS menargetkan penguatan kinerja pada 2026 dengan mengoptimalkan portofolio penghimpunan dana.
IDXChannel – PT Bank Woori Saudara Tbk (SDRA) atau BWS menargetkan penguatan kinerja pada 2026 dengan mengoptimalkan portofolio penghimpunan dana.
Bank asal Korea Selatan tersebut berfokus pada penyesuaian bauran produk funding yang inovatif guna mendorong pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Bank yang masuk kelompok KBMI II dengan modal inti sebesar Rp11,7 triliun tersebut tercatat memiliki DPK sebesar Rp34,5 triliun per November 2025. Komposisinya terdiri dari Giro sebesar Rp3,9 triliun dan tabungan sebesar Rp4,0 triliun serta deposito Rp26,6 triliun.
Untuk mendorong pertumbuhan DPK, BWS fokus memperkuat bauran produk yang dimiliki baik untuk segmen individu maupun segmen korporasi. Pada segmen individu atau ritel, BWS memiliki 7 produk tabungan yang menyasar berbagai segmen.
Produk tabungan BWS meliputi Tabungan Woori Saudara, Tabungan Premium, Tabungan Cerdas, Tabungan K-Pop, Tabungan Simpanan Pelajar (Simpel), TabunganKu dan Tabungan WiGo yang fokus pada ekspatriat asal Negeri Ginseng.
Selain tabungan, BWS juga memiliki produk Tabungan Berjangka yang selanjutnya dinamai sebagai Taska. Terdapat tiga produk utama yaitu Taskasure yang menggabungkan tabungan berjangka dengan asuransi jiwa.
Di samping Taskasure, BWS juga menawarkan Taska Gift, yakni produk tabungan berjangka rupiah yang memberikan manfaat berupa hadiah kepada nasabah. Adapun Taska Impian dirancang sebagai tabungan berjangka dengan penawaran suku bunga yang kompetitif.
Pada segmen korporasi, BWS menyediakan beragam produk dan layanan penghimpunan dana, mulai dari tabungan, installment, giro, hingga deposito. Memasuki 2026, perseroan menyatakan akan terus mengoptimalkan strategi bauran produk funding tersebut.
Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Leonardo Lijuwardi menilai, 2026 momentum yang dapat diambil oleh perbankan adalah transmisi kebijakan moneter yang akomodatif.
Menurut Leonardo, suku bunga yang sudah dipangkas 125 basis poin (bps) sepanjang 2025 menjadi 4,75 persen akan mulai terlihat dampaknya di 2026.
“Ada lag transmisi kebijakan yang umum terjadi. Namun dampak di 2026 akan mulai terasa. Era suku bunga yang lebih rendah bisa jadi momentum perbankan untuk optimalkan struktur DPK dengan fokus pada growth dan juga menarik likuiditas murah,” kata Leonardo.
Yang dimaksud Leonardo dengan likuiditas murah adalah porsi dana tabungan dan giro dalam struktur DPK, yang dikenal sebagai Current Account Saving Account (CASA). Menurutnya, dalam konteks perbankan, komposisi dana murah tersebut masih memiliki ruang untuk dioptimalkan pada 2026.
“Fokus bank juga diarahkan perbaikan struktur funding. Peningkatan CASA dapat menurunkan cost of fund sehingga NIM perbankan masih dapat terjaga,” imbuh dia.
Dalam konteks BWS, Leonardo menilai optimalisasi bauran produk berpotensi menjadi katalis positif bagi pertumbuhan DPK, yang ditopang oleh dana murah
“Jika optimal, struktur CASA akan lebih baik dan mendongkrak daya saing bank di segmen KBMI II,” ujar Leonardo. (Aldo Fernando)


