Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung akan membatasi kapasitas sampah di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara. Pramono juga akan melakukan perbaikan sistem pengangkutan sampah sebagai langkah penanganan jangka pendek.
Hal itu dilakukan sebagai respons dari warga sekitar yang mengeluhkan bau dari RDF.
Pramono menjelaskan, bau mulai tercium ketika kapasitas RDF Rorotan dinaikkan hingga 1.000 ton per hari. Namun, persoalan utama bau tersebut bukan berasal dari proses pengolahan sampah, melainkan dari sistem pengangkutan.
“Memang ketika kapasitasnya 750 ton per hari itu tidak ada bau. Tapi begitu dinaikkan sampai dengan 1.000, sebagian kecil ada bau,” kata Pramono saat meninjau lokasi Proyek Pembangunan Sistem Tata Air Pompa Daan Mogot di Cengkareng, Jakarta Barat, Selasa (3/2).
Ia menegaskan, sumber bau lebih banyak berasal dari air lindi yang tercecer selama proses pengangkutan sampah menuju fasilitas RDF.
“Tapi persoalan bau yang utama sebenarnya adalah di pengangkutan karena air lindinya yang tercecer ke mana-mana,” ujarnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pemprov DKI memutuskan membatasi sementara kapasitas RDF Rorotan maksimal 750 ton per hari. Selain itu, pengangkutan sampah akan menggunakan armada baru yang dinilai lebih layak.
“Saya sudah minta sementara ini untuk commissioning-nya tidak lebih dari 750 ton per hari dan digunakan dump truck yang baru,” kata Pramono.
Pramono menyebut, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta juga telah menyiapkan armada truk pengangkut sampah yang baru yang diproduksi pada 2025 untuk mendukung operasional RDF Rorotan.
“Karena secara khusus Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas LH membuat, menambah truk kompaktor yang baru yang diproduksi tahun 2025. Itulah yang akan kami gunakan, mudah-mudahan itu juga akan mengatasi jangka pendek,” ujarnya.
Ia berharap, pembatasan kapasitas dan perbaikan sistem pengangkutan ini dapat meredam keluhan warga sembari Pemprov DKI menyiapkan langkah lanjutan agar RDF Rorotan dapat beroperasi optimal tanpa menimbulkan dampak lingkungan.


