JAKARTA, KOMPAS.com - Pencurian besi di ruang publik mulai dari pagar, penutup saluran air, hingga lantai jembatan penyeberangan orang (JPO) tidak bisa lagi dipahami sebagai sekadar tindak kriminal individual.
Dalam kacamata sosiologi, praktik tersebut merupakan gejala sosial yang lebih dalam, berkelindan dengan tekanan ekonomi, ketimpangan perkotaan, hingga lemahnya kontrol sosial yang membuat pencurian besi perlahan dinormalisasi.
Sosiolog Rakhmat Hidayat menilai, peran lingkungan sosial dan lemahnya kontrol sosial menjadi faktor kunci yang membuat pencurian besi di ruang publik seolah wajar dan terus berulang.
“Menurut saya, peran lingkungan sosial dan lemahnya kontrol sosial dalam membuat pencurian besi menjadi seolah wajar sangat penting, karena lingkungan sosial itu sangat berpengaruh dalam membentuk pelaku individu,” ujar Rakhmat saat dihubungi Kompas.com, Senin (2/2/2026).
Baca juga: Pencurian Pagar Terekam CCTV di Cipayung, Polisi Telusuri Penampung Besi
Ia menegaskan, individu tidak lahir sebagai pelaku kriminal dalam ruang hampa.
Lingkungan sosial yang ditandai oleh kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan ekonomi membentuk cara pandang seseorang terhadap tindakan menyimpang.
Dalam konteks tertentu, pencurian justru dipelajari, diterima, dan dianggap sebagai bagian dari keseharian.
Rakhmat menyebut, pencurian besi di ruang publik sejatinya bukan fenomena baru.
Praktik ini telah lama terjadi dan memiliki variasi bentuk yang luas.
“Fenomena pencurian besi di ruang publik ini memang sudah lama terjadi. Variannya banyak, mulai dari pagar, penutup saluran, rel, sampai fasilitas umum seperti jembatan,” kata dia.
Selain itu, kontrol sosial baik formal maupun informal dinilai semakin melemah.
Pengawasan yang terbatas, penegakan hukum yang tidak konsisten, serta minimnya kepedulian komunitas membuat ruang publik menjadi rentan.
“Ketika kontrol sosial lemah, individu merasa lebih bebas melakukan perilaku menyimpang karena tidak ada pengawasan yang efektif,” kata Rakhmat.
Di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, pencurian besi bahkan telah menjadi cerita berulang.
Rakhmat mencontohkan pencurian besi di jalur rel kereta api menuju Cikampek hingga sepanjang rel ke arah Jawa.
Baca juga: Saat Maling Ketagihan Curi Besi JPO Kampung Bandan...
Kasus serupa juga terjadi di berbagai jembatan, termasuk pencurian mur dan baut besi di Jembatan Suramadu tak lama setelah diresmikan.
“Kalau dilihat dari perspektif sosiologis, ini tidak bisa dipahami hanya sebagai kriminalitas individu. Yang dilihat sosiologi bukan semata siapa pelakunya, tapi persoalan struktural di baliknya,” ujar dia.
Menurut Rakhmat, jika pencurian besi hanya dipahami di level individu, persoalan akan selalu berhenti pada penindakan hukum semata.
Padahal, tindakan tersebut mencerminkan persoalan sosial-ekonomi yang jauh lebih kompleks.
Tekanan Ekonomi dan Strategi Bertahan HidupSalah satu akar utama pencurian besi, menurut Rakhmat, adalah tekanan ekonomi perkotaan.
Biaya hidup yang tinggi, ketimpangan pendapatan, dan terbatasnya akses pekerjaan layak mendorong sebagian kelompok masyarakat mencari jalan pintas untuk bertahan hidup.
“Besi itu dianggap memiliki nilai jual yang relatif mudah diuangkan. Secara ekonomi, barang-barang besi ini mudah dikonversi menjadi uang,” jelas Rakhmat.
Dalam situasi terdesak, pencurian besi kerap dipahami pelaku sebagai strategi bertahan hidup atau survival strategy.
Baca juga: Cerita Warga Cengkareng Terpaksa Menyusuri Kolong Tol Gelap demi Pangkas Jarak
Namun, Rakhmat menegaskan bahwa praktik tersebut tidak dilakukan secara individual dan spontan.





