Emiten Baru Wajib Free Float 15%, OJK Akan Revisi Target IPO

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA —Otoritas Jasa Keuangan atau OJK akan merevisi target jumlah perusahaan yang akan go public lewat penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) seiring rencana penerapan ketentuan baru terkait besaran saham yang dimiliki publik atau free float sebesar 15%.

Kebijakan meningkatkan ambang batas free float sebesar 15% ini menjadi salah satu dari paket besar reformasi pasar modal yang untuk memperkuat integritas, meningkatkan daya saing, serta memenuhi ekspektasi penyedia indeks global.

Penerapannya dapat langsung dilakukan kepada emiten yang melakukan IPO sedangkan bagi emiten yang sudah lama melantai di bursa, akan diberikan masa penyesuaian guna memenuhi ketentuan baru tersebut.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (KE PMDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi mengatakan penyesuaian target IPO menjadi konsekuensi dari penerapan aturan tersebut. Pasalnya, kewajiban pemenuhan porsi kepemilikan publik sebesar 15% akan diberlakukan sejak awal bagi emiten-emiten yang akan melantai di bursa pada tahun ini.

Menurut Hasan, kebijakan ini tidak dimaksudkan untuk menghambat rencana pencatatan saham. Emiten yang memang berminat memberikan porsi kepemilikan publik lebih besar diyakini tetap akan melanjutkan rencana IPO mereka.

Namun dia juga tak menampik bahwa dalam tahap awal, tidak tertutup kemungkinan ada sejumlah perusahaan yang memilih meninjau ulang rencana pencatatan sahamnya.

“Kalau itu menjadi konsekuensi [pemenuhan free float 15%], akan kami lakukan [revisi target IPO],” ujarnya, Selasa di Bursa Efek Indonesia (2/3/2026).

OJK justru berharap para calon emiten dapat merespons dengan positif kebijakan baru terkait naiknya ambang batas free float menjadi sebesar 15%.

Pasalnya, penyesuaian ini dipandang sebagai bagian dari upaya penguatan kualitas pasar modal Indonesia.

Lebih jauh, BEI menilai peningkatan porsi saham yang dimiliki publik merupakan praktik yang sejalan dengan standar internasional guna meningkatkan likuiditas, transparansi, dan daya tarik pasar.

“Mendorong porsi free float yang lebih besar adalah tujuan bersama bursa-bursa dunia. Bursa Efek Indonesia juga ingin meningkatkan daya tarik pasar dengan memastikan ketersediaan saham yang cukup untuk dimiliki publik,” jelasnya.

Sebelumnya, BEI menargetkan sebanyak 50 perusahaan di mana 6 perusahaan masuk dalam kategori lighthouse melakukan initial public offering pada 2026. 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, sepanjang 2025 ada 26 emiten IPO di BEI dengan total dana dihimpun US$1,1 miliar. Nilainya meningkat dibandingkan US$900 juta pada 2024, meski jumlah emiten yang IPO  lebih banyak, 41 perusahaan. 

Dari sisi sektoral, emiten energi dan sumber daya tercatat menjadi kontributor terbesar dalam penghimpunan dana IPO sepanjang 2025.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Indonesia-Slovakia Sepakat Terapkan Bebas Visa Bagi Pemegang Paspor Diplomatik dan Kedinasan
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
BKHIT Maluku Periksa Kelayakan 924 Kepiting Bakau Hidup Tujuan Jakarta
• 14 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rebutan Balung Tanpa Isi: Saat "Peace Plan" Trump Menyudutkan Non-Blok
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Gunung Semeru Tiga Kali Erupsi Senin Malam, Tinggi Letusan Capai 1 Km
• 16 jam laluviva.co.id
thumb
40 Orang Masih Hilang Akibat Bencana Hidrometeorologi di Sumut
• 16 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.