Warisan Marcello Lippi, 16 Pemain Italia di Piala Dunia 2006 Menjadi Pelatih

tvrinews.com
6 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Irfan Sudrajat

TVRINews - Roma, Italia

Gennaro Gattuso dan Fabio Cannavaro, dua di antara generasi emas Italia di Piala Dunia 2006 yang kini menjadi pelatih.

Italia memiliki sejarah panjang dalam memunculkan nama-nama pelatih di panggung sepak bola. Vittorio Pozzo yang membawa Italia dua kali juara Piala Dunia secara beruntun dengan sistem "Metodo", Nereo Rocco dengan Catenaccio, Arrigo Sacchi memperkenalkan strategi zonal marking dan pressing.

Giovanni Trapattoni hingga Marcello Lippi, kemudian bermunculan lagi pelatih di era modern seperti Fabio Capello, Maurizio Sarri dengan "Sarri ball", Carlo Ancelotti yang pragmatis, Roberto Mancini, atau Antonio Conte yang menyegarkan kembali pola 3-5-2.

Dari nama-nama tersebut, Marcello Lippi menarik untuk dikedepankan karena inilah kali terakhir Italia meraih gelar Piala Dunia. Pelatih yang identik dengan cerutu serta rambut berwarna keperakan ini yang membawa Italia juara Piala Dunia 2006.

Sukses Italia saat itu juga memperlihatkan bagaimana Marcello Lippi mampu memaksimalkan dengan baik generasi pemain Italia. Yang menarik, para pemain Italia di skuad Gli Azzurri 2006 itu memiliki "gen" sebagai pelatih.

Dari 23 pemain di skuad Italia Piala Dunia 2026 tersebut, 16 di antaranya telah menjadi pelatih. Termasuk Gennaro Gattuso yang kini menangani Timnas Italia yang masih berjuang untuk lolos ke Piala Dunia 2026.

Timnas Italia pada Piala Dunia 2006 terdiri dari tiga penjaga gawang yaitu Gianluigi Buffon (Juventus), Angelo Peruzzi (Lazio), dan Marco Amelia (Livorno). Untuk pertahanan ada Cristian Zaccardo (Palermo), Fabio Grosso (Palermo), Fabio Cannavaro (Juventus), Andrea Barzagli (Palermo), Alessandro Nesta (AC Milan), Gianluca Zambrotta (Juventus), Massimo Oddo (Lazio), dan Marceo Materazzi (Inter Milan).

Di barisan tengah adalah Daniele De Rossi (AS Roma), Gennaro Gattuso (AC Milan), Mauro Camoranesi (Juventus), Simone Barone (Palermo), Simone Perrotta (AS Roma), dan Andrea Pirlo (AC Milan).

Sedangkan Alessandro Del Piero (Juventus), Luca Toni (Fiorentina), Francesco Totti (AS Roma), Alberto Gilardino (AC Milan), Vincenzo Iaquinta (Udinese), dan Filippo Inzaghi (AC Milan) sebagai penyerang. Dari semua pemain tersebut, hanya dua pemain yang tidak dimainkan sepanjang Piala Dunia 2006 silam, yaitu Angelo Peruzzi dan Marco Amelia.

Marcello Lippi yang juga disebut-sebut sebagai "Paul Newman-nya Italia", menggunakan fleksibilitas sebagai taktiknya. Membangun sistem dari dua pemain bertipikal playmaker, Francesco Totti dan Andrea Pirlo.

Francesco Totti bermain di depan sedangkan Andrea Pirlo mengatur permainan dari kedalaman, tepatnya memulainya di depan pertahanan di lini tengah. Untuk menyempurnakan strategi tersebut, dia menempatkan Gennaro Gattuso yang dapat turun ke pertahanan ketika Andrea Pirlo naik membangun serangan.

Dari aspek pertahanan, Italia saat itu sangat kuat. Marcello Lippi mempercayakan Fabio Cannavaro sebagai kapten. Sepanjang Piala Dunia 2006, Italia hanya kemasukan satu gol sebelum berhasil ke final menghadapi Prancis.

Marcello Lippi juga bukan tipikal pelatih yang menjadikan bertahan sebagai dasar permainan timnya. Ketika menghadapi Timnas Jerman di semifinal Piala Dunia 2006 itu contohnya, Marcello Lippi di perpanjangan waktu membuat Italia bermain dengan lima pemain menyerang: Francesco Totti, Alessandro del Piero, Vincenzo Iaquinta, dan Alberto Gilardino.

Serangan Italia di Piala Dunia 2006 juga memperlihatkan bagaimana Marcello Lippi memaksimalkan dua beknya yaitu Fabio Grosso dan Gianluca Zambrotta menjadi dua bek sayap yang efektif saat menyerang.

Sedangkan Simone Perotta dan Mauro Camoranesi bermain ke dalam di lini tengah, membangun serangan bersama Andrea Pirlo dan Francesco Totti. Ini memberikan ruang bagi Grosso dan Zambrotta memaksimalkan sisi kanan dan kiri lapangan.

Mereka, para pemain di skuad Italia Piala Dunia 2006 merupakan warisan Marcello Lippi yang membuat Italia berhasil merengkuh juara dunia. Kini, warisan tersebut memilih jejak karier yang sama seperti Marcello Lippi. 

Gattuso seperti Marcello Lippi

Ada satu hal yang menandai sukses Marcello Lippi membawa Timnas Italia juara Piala Dunia 2026. Sukses Italia saat itu diraih saat negara ini tengah diguncang kasus skandal pengaturan skor yang dikenal dengan Calciopoli.

Marcello Lippi berhasil mengangkat kembali citra sepak bola Italia yang rusak karena kasus tersebut. Calciopoli adalah skandal pengaturan skor dan suap wasit besar-besaran di Liga Italia (Seri A dan Seri B). Kasus ini justru terungkap pada Mei 2006, satu bulan jelang Piala Dunia 2006 bergulir. Skandal ini pun mencoreng sepak bola Italia di mata dunia.

Kini, Gennaro Gattuso juga memiliki tantangan yang berat, mengembalikan Italia ke pentas dunia. Pelatih berusia 48 tahun itu menggantikan Luciano Spalletti sebagai pelatih Timnas Italia. Kini, dia memiliki misi membawa Italia untuk tampil kembali di Piala Dunia 2026.

Gattuso memiliki misi yang sama dengan Marcello Lippi walau dengan kasus yang berbeda. Ya, citra sepak bola Italia terancam karena dalam dua Piala Dunia secara beruntun yaitu 2018 dan 2022, Italia tidak lolos kualifikasi Piala Dunia.

Kegagalan Italia tampil di dua Piala Dunia terakhir secara beruntun menimbulkan pertanyaan besar bagi negara yang dikenal memiliki kompetisi liga paling ketat di dunia ini. Italia belum memastikan diri lolos ke Piala Dunia 2026, mereka harus melalui fase play-off kualifikasi. Dimulai dengan menghadapi Timnas Irlandia Utara pada 26 Maret 2026 nanti.

Jika menang, Gli Azzurri akan menghadapi pemenang dari semifinal Wales vs Bosnia dan Herzegovina. Karena itu, seperti Marcello Lippi, harapan publik sepak bola Italia kini ada di pundak Gennaro Gattuso untuk mengembalikan kembali citra Italia lewat Piala Dunia.

"Gattuso adalah simbol sepak bola Italia," kata Presiden FIGC, Gabriele Gravina. "Azzurri seperti kulit kedua baginya. Motivasi, profesionalisme, dan pengalamannya akan sangat penting bagi Timnas Italia."

Jika Gennaro Gattuso menjadi harapan negeri kelahirannya, berbeda dengan kapten Italia Piala Dunia 2006, Fabio Cannvaro. Pria berusia 52 tahun ini sejak 6 Oktober 2025 lalu resmi menangani Timnas Uzbekistan.

Di Piala Dunia 2026 nanti, Uzbekistan asuhan Fabio Cannavaro menghadapi tantangan yang besar. Mereka satu grup dengan Portugal, Uzbekistan, dan Kolombia, serta satu tim lagi dari pemenang play-off kualifikasi.

"Betapa beruntungnya Anda (Cannavaro)," kata Gennaro Gattuso dengan nada bercanda namun sedikit menyindir saat mengetahui Fabio Cannvaro diangkat sebagai pelatih Timnas Uzbekistan.

"Keberuntungan" memang menaungi Fabio Cannavaro. Pasalnya, dia datang ke Uzbekistan saat negeri ini sudah memastikan lolos ke Piala Dunia 2026.

Sukses Timnas Uzbekistan mengukir sejarah tampil di Piala Dunia 2026 memang bukan karena Fabio Cannavaro melainkan karena pelatih sebelumnya, Timur Kapadze, yang kemudian mengundurkan diri.

Meski demikian, Fabio Cannavaro telah membangun kariernya sebagai pelatih. Memulai karier tersebut Ketika menjadi asisten pelatih Marcello Lippi di Guanzhou. Ia kemudian melatih klub Arab Saudi, Al-Nassr. Sedangkan di Italia, memulainya di klub Benevento dan Udinese. Fabio Cannavaro juga sempat menangani Dinamo Zagreb.

Gennaro Gattuso dan Fabio Cannavaro hanya di antara bintang warisan Marcello Lippi yang kemudian menjadi pelatih. Dari 23 pemain di Piala Dunia 2006, tujuh lainnya memilih jalan berbeda yaitu Francesco Totti, Alessandro Del Piero, Luca Toni, Mario Zaccardo, dan Simone Perotta.

Sedangkan Gianluigi Buffon kini merupakan Manajer Timnas Italia sekaligus kepala delegasi yang mendampingi Gennaro Gattuso. Namun demikian, meski banyak di antara mereka menjadi pelatih, belum ada satu pun yang muncul sebagai pelatih sukses. Kebanyakan mereka sebagai pelatih kepala juga menangani klub-klub kecil dan sejumlah klub amatir.

Jadi, ini peluang bagi Gennaro Gattuso untuk mencatatkan namanya sebagai pelatih yang membawa Italia ke Piala Dunia 2026. Bagi Fabio Cannavaro, pencapaiannya bersama Uzbekistan tentu menjadi salah satu yang dinantikan di Piala Dunia 2026 nanti.

Berikut Ini Pemain Timnas Italia Piala Dunia 2006 yang Kini menjadi Pelatih:

1. Gennaro Gattuso: Pelatih Timnas Italia

Memulai karier kepelatihannya di Sion, klub tempatnya gantung sepatu pada 2013 silam. Pada tahun itu pula, Gattuso melatih Palermo. Menangani sejumlah klub besar seperti Napoli dan AC Milan.

2. Daniele De Rossi: Pelatih Genoa

Setelah menangani SPAL, Daniele De Rossi kembali ke AS Roma sebagai pelatih. Namun, kariernya tidak sukses di tahun 2024 itu. Daniele De Rossi kemudian menangani Genoa, klub yang kini di papan tengah Liga Italia.

3. Fabio Cannavaro: Pelatih Timnas Uzbekistan

Mengawali kariernya sebagai asisten pelatih Marcelo Lippi di Guanghou Evergrande berlanjut sebagai pelatih kepala. Karier mantan bek Timnas Italia ini berlanjut di Al Nassr, Tianjin Quanjian, Timnas Cina, Benevento, Udinese, dan Dinamo Zagreb.

4. Fabio Grosso: Pelatih Sassuolo

Sebelum menangani Sassuolo, Fabio Grosso mengawali kariernya di Bari pada 2017, lalu Hellas Verona, Brescia, Sion, Frosinone, dan Lyon. Melatih Sassuolo sejak 2024 lalu.

5. Alessandro Nesta: Pelatih Monza

Mengawali karier kepelatihannya dengan membawa Miami FC juara Liga Sepak Bola Amerika Utara 2017. Namun, Alessandro Nesta belum beruntung di Langkah selanjutnya. Pernah melatih Perugia, Frosinone, Reggiana, dan kemudian Monza hingga kini.

6. Alberto Gillardino: Pelatih Pisa (hingga 2025)

Pencapaian terbaik Alberto Gilardino membawa Genoa promosi ke Liga Italia (Seri A) pada 2023 lalu. Gilardino kemudian menjadi pelatih Pisa namun kariernya tidak lama, dimulai pada 26 Juni 2025 dia kemudian dipecat pada Minggu (1/2/2026).

7. Filippo Inzaghi: Pelatih Palermo

Pencetak gol Timnas Italia lawan Rep. Ceko, dalam kemenangan 2-0 di Piala Dunia 2006. Filippo Inzaghi memulai karier sebagai pelatih AC Milan di musim 2014-2015. Kariernya berlanjut di Venezia, Bologna, Benevento, Brescia, Salernitana, Pisa, dan kini Palermo.

8. Andrea Pirlo: Pelatih Dubai United

Andrea Pirlo mengawali karier kepelatihannya di Juventus U-23 pada 2020. Naik level sebagai pelatih kepala Juventus di tahun 2020 pula namun tidak lama. Kariernya berlanjut di Fatih Karamumruk, Sampdoria, dan kini Dubai United.

9. Mauro Camoranesi: Pelatih Anarthosis Famagusta (hingga 2025)

Sebagai pelatih sejak 2015, diawali di Coras de Tepic, Tigre, Tapachula, Tabor Sezana, Maribor, Floriana, Karmiotissa, dan terakhir Anarthosis Famagusta.

10. Simone Barone: Pernah melatih Correggese

Simone Barone kali terakhir sebagai pelatih pada 2021. Melatih klub Seri D Italia saat itu namun tidak lama. Mengawali kariernya sebagai asisten pelatih Gianluca Zambrotta di klub INdia pada 2016.

11. Massimo Oddo: Pelatih Milan Futuro

Dikabarkan saat ini bagian dari pelatih Milan Futuro setelah melatih sejumlah klub seperti Pescara, Udinese, Crotone, Perugia, Padova, dan SPAL.

12. Marco Amelia: Pelatih Sondrio (hingga 2025)

Marco Amelia melatih klub Seri D, tim amatir yaitu Nuova Sondria namun tidak lama. Kariernya sebagai pelatih dimulai di Lupa Roma, Vestese, Livorno, Prato, dan Olbia.

13. Gianluca Zambrotta: Terakhir melatih Jiangsu Suning sebagai asisten pada 2018

Sempat berbisnis dengan membangun gym di kota kelahirannya, Como. Gianluca Zambrotta juga bekerja sebagai pundit di televisi Italia, RSI.

14. Marco Materazzri: Terakhir melatih Chennaiyin

Pemain yang di final Piala Dunia 2006 menimbulkan kontroversi setelah dadanya ditanduk oleh Zinedine Zidane. Kali terakhir sebagai pelatih sudah 2016, di klub Chennaiyin.

15. Andrea Barzagli: Mantan asisten pelatih di Juventus

Belum pernah menjadi pelatih kepala, namun menjadi asisten pelatih Maurizio Sarri pada 2019. Lalu pada 2021, Barzagli diangkat oleh FIGC dalam pengembangan pemain muda (U-20). Andrea Barzagli kemudian menjadi asisten pelatih Silvio Baldini pada Juli 2025 lalu di tim U-21.

16. Angelo Peruzzi: Pernah sebagai asisten pelatih di Timnas Italia U-21 dan Sampdoria

Setelah gantung sepatu, Angelo Peruzzi bekerja sebagai asisten pelatih Timnas Italia, Bersama Marcello Lippi. Dia kemudian menjadi asisten pelatih Ciro Ferrara di Timnas Italia U-21, kemudian bersama Ciro Ferrara pula melatih Sampdoria di Liga Italia pada 2012.

Editor: Irfan Sudrajat

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
RDF Plant Rorotan Tetap Beroperasi Normal Meski Diprotes Warga
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kota Malang Alami Deflasi 1,10% pada Januari, Dipicu Cabai Rawit
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Proyek Hotel Bernuansa Warisan Budaya di Semarang Siap Rampung, Sasar Wisatawan Premium
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Akhirnya Dipanggil Polisi Buntut Mens Rea, Pandji Pragiwaksono Diperiksa Jumat Ini
• 6 jam laluviva.co.id
thumb
Trotoar di Pondok Indah Dibongkar, Ruang Aman Pejalan Kaki Disebut Terancam
• 23 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.