Bunuh Diri pada Anak, Alarm Sunyi Saat Mereka Tak Mampu Mengungkapkan Keputusasaan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.

Tragedi bunuh diri pada anak usia 10 tahun yang baru saja terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur menjadi alarm keras di tengah kesunyian yang masih sering diabaikan masyarakat. Banyak orang bertanya bagaimana anak sekecil itu memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup.

Namun, di balik itu semua, ada sistem yang secara sistematis gagal melindungi mereka. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengungkapkan bahwa bunuh diri bukan hanya isu usia dewasa. Kejadian bunuh diri juga bisa muncul pada kelompok usia muda, bahkan anak-anak saat distres atau pemicu masalah psikologis muncul di tengah ketiadaan dukungan emosional.

Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat.

Psikiater yang juga anggota bidang pengabdian masyarakat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PP PDSKJI) Lahargo Kembaren dihubungi di Jakarta, Selasa (3/2/2026) menyampaikan, anak usia 9-10 tahun sudah mulai paham bahwa kematian merupakan sesuatu yang permanen. Meski begitu, mereka memang belum matang secara emosional dan kognitif.

Anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Cara berpikir mereka juga masih konkret antara hitam dan putih. Saat mereka merasa tertekan, anak dengan mudah memiliki kesimpulan yang ekstrem bahwa jika mereka tidak ada, masalah pun akan selesai.

Baca JugaAnak SD Bunuh Diri Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara

“Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian tetapi tentang keputusasaan yang tidak punya bahasa. Anak tidak sedang ingin mati, ia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat,” kata Lahargo.

Hal tersebut disampaikan pula oleh psikiater sekaligus Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Jiwa dr H Marzoeki Mahdi Bogor Nova Riyanti Yusuf. Ia mengungkapkan, tindakan bunuh diri pada anak jarang terjadi karena didorong oleh keinginan untuk mati.

Bunuh diri pada anak lebih banyak didorong karena keinginan untuk menghentikan rasa sakit atau tertekan, perasaan merasa tidak didengar, rasa bersalah atau putus asa, serta impulsivitas tanpa memahami konsekuensi yang permanen. “Jadi, sering kali anak tidak benar-benar memahami bahwa kematian itu irreversible (tidak bisa dibalik),” tuturnya.

Kasus meningkat

Fenomena bunuh diri pada anak dan remaja semakin menjadi perhatian serius. Data WHO menunjukkan, satu dari tujuh remaja usia 10-19 tahun mengalami gangguan mental yang menyumbang setidaknya 15 persen dari penyakit global di usia tersebut. Bunuh diri pun tercatat sebagai penyebab kematian ketiga terbesar pada kelompok usia 15-29 tahun.

Kekhawatiran tersebut bukan hanya masalah global, namun juga di Indonesia. Peningkatan kasus bunuh diri meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan sosial-ekonomi serta tekanan dari media digital.

Berdasarkan data Global School-Based Student Health Survey (GSHS) 2023, kasus percobaan bunuh diri pada anak usia 13-17 tahun meningkat signifikan. Berdasarkan survei di Sumatera, Jawa, dan Bali tersebut, persentase percobaan bunuh diri pada usia tersebut meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Serial Artikel

Bunuh Diri di Usia Muda, Saat Luka Tak Terlihat Butuh Pertolongan

Upaya mengakhiri hidup bisa dicegah jika dilakukan bersama-sama, yakniantara keluarga, sekolah, komunitas, media, dan negara.

Baca Artikel

Lahargo menyampaikan, faktor bunuh diri pada anak sangat kompleks, yang bisa dipengaruhi oleh faktor keluarga, faktor lingkungan, serta faktor individu anak itu sendiri. Dari keluarga, faktor yang bisa memengaruhi seperti tekanan ekonomi kronis, konflik keluarga, kekerasan verbal ataupun fisik, serta kondisi orangtua yang mengalami stres berat atau gangguan mental.

Dari faktor lingkungan, itu bisa disebabkan oleh adanya perundungan, isolasi sosial, serta paparan konten bunuh diri di media konvensional atau media sosial tanpa pendampingan. Sementara dari faktor individu, bunuh diri pada anak bisa dipicu karena depresi, kecemasan berat, kesulitan dalam meregulasi emosi, merasa bersalah secara berlebihan, serta merasa bahwa dirinya beban.

Masalah ekonomi

Menurut Lahargo, masalah ekonomi saat ini semakin berpengaruh pada keinginan anak untuk mengakhiri hidup. Masalah ini memang secara tidak langsung memengaruhi kondisi anak, namun dampaknya amat mendalam.

Meski tidak selalu paham, anak bisa menyerap stres yang dialami orangtua akibat faktor ekonomi. Anak pun sering merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga. Akibatnya, anak merasa bersalah dan bertanggung jawab atas kondisi tersebut.

Nova menambahkan, dukungan emosional sangat penting saat anak dihadapkan pada keluarga dengan kondisi ekonomi yang sulit. Anak butuh didengarkan, tetap disayang, dan diberi penjelasan jujur sesuai dengan usianya. Anak harus mendapatkan keyakinan bahwa masalah yang terjadi di keluarganya bukan kesalahan mereka.

“Lingkungan sekolah dan masyarakat juga perlu menjadi ruang aman bagi anak agar tidak terjadi bullying karena keterbatasan ekonomi anak,” katanya.

Baca JugaKenali Gangguan Kecemasan pada Anak

Lahargo mengatakan, masalah bunuh diri pada anak bukan semata sebagai kegagalan individu. Masalah bunuh diri merupakan masalah yang muncul dari kegagalan sistemik. Adanya kejadian bunuh diri pada anak berarti layanan kesehatan jiwa anak masih sulit diakses, literasi kesehatan mental masih rendah, serta sistem deteksi dini di sekolah dan komunikasi yang masih lemah.

“Bunuh diri pada anak hampir selalu lahir dari akumulasi, bukan satu kejadian. Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk anak,” tuturnya.

Pencegahan

Kasus bunuh diri pada anak harus dicegah. Jangan ada lagi kasus-kasus lain seperti yang terjadi pada anak di Kabupaten Ngada. Langkah pencegahan pun harus berlapis dan diatasi secara sistematis. Seluruh pihak harus berperan, mulai dari keluarga, sekolah, serta masyarakat dan negara.

WHO secara tegas telah menyatakan, bunuh diri dapat dicegah dengan intervensi dini, sistem dukungan kuat, serta lingkungan yang aman secara emosional. Komunikasi emosional yang baik harus terbangun di keluarga.

Lahargo menuturkan, perasaan anak perlu divalidasi sebelum orangtua memberi nasihat pada anak. Orangtua juga harus jujur dan sadar saat butuh bantuan. Jangan menahannya sendiri. Sementara itu, sekolah punya peran penting untuk mencegah masalah kesehatan mental pada anak.

Guru diharapkan bisa dilatih mengenali tanda distres psikologis dan melakukan pertolongan pertama pada luka psikologis. Sekolah perlu mengadakan sistem konseling aktif bukan reaktif saat sudah ada kasus. Selain itu, pastikan budaya antiperundungan dilakukan secara nyata.

Masyarakat dan negara harus berperan memastikan akses layanan kesehatan jiwa anak bisa diperluas. Literasi kesehatan mental perlu dihadirkan sejak dini dengan kebijakan yang juga sensitif terhadap dampak ekonomi pada keluarga.

Baca JugaAnak SD di NTT Bunuh Diri, Tinggalkan Sepucuk Surat buat Ibunya . . .

“Anak yang didengar tidak perlu berteriak lewat kematian. Mari kita hadir bagi mereka di setiap musim hidupnya,” ucap Lahargo.

Secara terpisah, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan Imran Pambudi menyampaikan, pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan jiwa anak telah dilakukan lewat program cek kesehatan gratis (CKG). Dalam program tersebut, salah satu pemeriksaan adalah deteksi dini masalah kesehatan jiwa.

Jika ditemukan adanya indikasi masalah kesehatan jiwa, anak tersebut akan dirujuk ke tenaga kesehatan. Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah mengembangkan program pertolongan pertama pada luka psikologis. Program itu melatih tenaga kesehatan, guru, dan siswa untuk mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan jiwa.

Upaya tersebut diperkuat dengan kampanye pengasuhan positif dan pengasuhan sehat jiwa bagi keluarga dan masyarakat yang menjadi lingkungan terdekat anak. Pencegahan bunuh diri pada anak tidak dapat dilakukan satu sektor saja. Perlindungan dan pencegahan mesti melibatkan lintas sektor karena faktor risiko bunuh diri bisa muncul dari berbagai hal.

“Kami meyakini bahwa pencegahan bunuh diri pada anak membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa promosi kesehatan jiwa, deteksi dini, pendampingan yang konsisten, serta kehadiran sistem yang responsif sangat penting agar anak tidak menghadapi tekanan hidupnya sendirian,” kata Imran.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Terpeleset di Kandang Spurs, Mampukah Manchester City Salip Arsenal untuk Persaingan Gelar Liga Inggris?
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
Prediksi Timnas Futsal Indonesia Vs Vietnam di Perempat Final Piala Asia 2026: Selangkah Cetak Sejarah
• 13 jam lalubola.com
thumb
Istana Bicara Iuran Dewan Perdamaian, Disebut Bagian Komitmen Indonesia
• 14 jam lalugenpi.co
thumb
Indonesia Borong 5 Gelar, Tapi Masih Kalah dari China, Ini Posisi Klasemen BWF World Tour 2026 Usai Thailand Masters
• 18 jam laluviva.co.id
thumb
Rupiah Dibuka Menguat, Pasar Cermati Rilis Inflasi BPS
• 9 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.