Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hati, termasuk soal pendidikan. Selain belajar di sekolah, memasukkan anak ke tempat les sering jadi pilihan buat mendukung perkembangan akademiknya.
Meski aktivitas belajar tambahan seperti les bisa membantu anak lebih fokus dan memahami pelajaran, orang tua juga perlu mempertimbangkan usia dan kesiapan anak sebelum memutuskan ikut les, lho. Soalnya, tiap anak punya ritme belajar dan kemampuan adaptasi yang berbeda-beda.
Menurut Davidson University, rentang usia balita hingga remaja awal menjadi waktu yang tepat buat mulai mengembangkan minat dan bakat anak. Periode ini sering dianggap sebagai golden age karena anak lebih mudah menyerap hal baru dan mengasah potensinya.
Walau demikian, tentu setiap orang tua punya pandangan sendiri soal waktu terbaik untuk mulai les. Nah, kalau menurut teman kumparanMOM sendiri gimana, ya? Yuk, simak cerita mereka di bawah ini.
Waktu Terbaik Mulai Les Anak Menurut teman kumparanMOMPengalaman pertama datang dari Mom Rina (33). Ia mulai mengarahkan anaknya buat ikut program les saat usianya menginjak SD, karena sebelumnya ia ingin memberi ruang agar si kecil bisa puas bermain dan bereksplorasi di masa kecilnya.
Rina juga selalu memperhatikan mood anak supaya aktivitas les nggak jadi sia-sia. “Kalau anak lagi gampang capek atau rewel, aku mending mundur dulu. Percuma les tapi anaknya bete,” tuturnya. Menurutnya, les nggak akan efektif kalau anak belum merasa nyaman.
Selain itu, Rina mengingatkan buat nggak mudah kebawa omongan orang lain. Baginya, setiap anak punya kebutuhan dan kesiapan yang berbeda-beda, jadi selama anak happy, sehat, dan mau belajar, itu sudah lebih dari cukup.
Berbeda dengan Rina, Mom Dewi (36) justru mulai memasukkan anaknya ke tempat les saat kelas 4 SD. Menariknya, keputusan itu datang dari sang anak yang merasa sudah butuh bimbingan tambahan buat pelajaran di sekolah.
Meski les itu penting untuk membantu perkembangan akademik, Rina menegaskan orang tua tetap nggak boleh terlalu memforsir anak. “Anak pulang sekolah udah capek, jangan ditambah les tiap hari. Aku pilih seminggu 1–2 kali aja, yang penting konsisten,” ucapnya.
Sementara itu, teman kumparanMOM Maya (30) memilih memasukkan anaknya ke les sejak usia sekitar 4 tahun. Namun, les yang dipilih bukan berfokus pada akademik, melainkan kegiatan nonakademik yang disesuaikan dengan minat anaknya, seperti menggambar, menari, dan membaca.
Meski begitu, Maya tetap memastikan anaknya nggak kehilangan waktu bermain. Kalau aktivitas les bikin anak terlihat kelelahan, ia nggak ragu buat berhenti sementara dan menyesuaikan lagi kegiatannya.
Maya juga menekankan pentingnya mengikuti ritme belajar anak, ya. “Ikutin anak, jangan ambisi orang tuanya. Kalau anak enjoy, orang tua juga tenang,” tuturnya.
Temukan beragam cerita istimewa dari ribuan perempuan hebat lainnya, gabung komunitas teman kumparanWOMAN di kum.pr/tkwoman1


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F02%2Fcfef070ca25f62633a85dbfa1595d92f-20260202YGA02.jpg)


