Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui penilaian Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait dengan transparansi Bursa Efek Indonesia (BEI).
Menurut Purbaya, isu transparasi bursa saham yang disoroti oleh MSCI bukan hal yang baru. Namun, dia menilai isu transparansi tidak hanya terjadi di bursa Indonesia melainkan di bursa negara-negara lain.
"Kami akan menerapkan transparansi di pasar dan orang-orang akan melihat fundamental ekonomi lagi, yang mana itu kuat karena kami memperbaiki kondisi ekonomi," ujarnya pada dialog di Indonesia Economic Summit (IES), Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Mengenai risiko penurunan rating saham Indonesia oleh MSCI, Purbaya pun tak menampik penilaian lembaga itu soal BEI yang dinilai kurang transparan. Dia menyinggung telah menyampaikan hal serupa kepada otoritas bursa mengenai 'saham gorengan' beberapa bulan lalu.
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu mengeklaim sudah meminta BEI agar mengklarifikasi ke pasar terkait dengan isu manipulasi harga saham tersebut. "Tetapi mereka tidak melakukan apa-apa. Jadi, bagi saya peringatan MSCI adalah hal yang baik," ungkapnya.
Untuk diketahui, ultimatum MSCI terhadap BEI memicu aksi jual besar-besaran oleh investor sehingga memicu penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada Rabu (28/1/2026) dan Kamis (29/1/2026).
Baca Juga
- Purbaya Sebut Setoran Pajak Januari 2026 Naik 30%
- Bidang Usaha Penerima Insentif Fiskal Mau Dirombak, Purbaya Janji Alokasinya Tepat Sasaran
- Setelah OJK-BEI Bertemu MSCI, Ini Formula untuk Selamatkan Lantai Bursa
Selain itu, lembaga pemeringkat lain turut menurunkan rating saham RI akibat penilaian MSCI yakni Goldman Sachs dan UBS.
Di sisi lain, Direktur Utama BEI Iman Rachman turut mengundurkan diri, Jumat (30/1/2026). Pengunduran dirinya diikuti pada hari yang sama oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) Mahendra Siregar, Wakil Ketua DK OJK Mirza Adityaswara, serta Anggota DK OJK Inarno Djajadi.



