Di kalangan mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ada sebuah warung soto yang melegenda. Namanya Soto Rembang. Usianya sudah 24 tahun.
Lokasinya berada di dalam gang tak jauh dari kampus UNY. Tepatnya di Gang Kuwera II, Mrican, Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman.
Selasa (3/2) hari sudah siang. Namun, warung masih dipenuhi pelanggan. Mereka mayoritas adalah mahasiswa yang datang untuk mengisi perutnya yang kosong.
Di warung ini menu andalannya adalah soto ayam dengan berbagai variasi seperti topping brutu, kulit, hingga balungan ayam.
Meski bernama Soto Rembang, soto ini tidak berasal dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
"Saya aslinya Yogya. Rembang itu sarem karo brambang. Sarem itu garam, brambang itu bawang goreng," kata penjual Soto Rembang Yuswo (50 tahun).
Nama Rembang ini dipilih karena awalnya dulu dia membuat soto dengan bumbu yang sederhana. Lama kelamaan dia membuat bumbu yang lebih detail dan dipertahankan hingga kini.
Yuswo mengatakan dia berjualan sejak 2002. Saat awal-awal kampus berganti nama dari IKIP Yogyakarta menjadi UNY.
Awalnya dia jualan di pinggir jalan dekat Fakultas Ilmu Sosial UNY. Setelah gempa 2006, warung pindah ke dalam gang.
Pindahnya warung tak membuat pelanggan hilang. Justru semakin hari semakin banyak.
"Pembeli tetap banyak. Masih pada dengar kalau pindah terus pada (makan ke sini)," katanya.
Yuswo berkisah di tahun 2000-an harga sotonya Rp 500 rupiah seiring perkembangan zaman harga naik ke Rp 1.500, kemudian Rp 5 ribu dan terakhir Rp 10 ribu.
"Naik angkot masih Rp 250 jauh dekat pokoknya itu," katanya.
Pelanggan Jadi Dosen hingga Pengusaha
Saking lamanya dia berjualan ada pelanggan yang dulu masih mahasiswa UNY kemarin datang ke warung bersama anaknya yang baru diterima di UNY.
"Sudah ngajak anaknya yang kuliah di UNY," jelasnya.
Warung ini juga jadi saksi kesuksesan mahasiswa UNY. Yang jadi kepala sekolah banyak. Ada pula yang jadi dosen hingga pengusaha.
"Dosen ada, kepala sekolah banyak, AU (tentara) ya ada, pengusaha banyak. Yang luar Jawa yang sukses banyak," bebernya.
Beberapa pelanggan lamanya juga sering napak tilas ke warung ini. Warung jadi tempat bertemunya teman-teman lama sesama mahasiswa UNY.
"Jadi satu janjian di sini," katanya.
Cerita lucu pun kerap terjadi. Salah satunya ketika pelanggan lamanya datang kembali ke warung untuk membayar utang yang sudah bertahun-tahun.
"Sudah jadi sukses ke sini bayar. Ada. Malah saya yang sudah lupa," kata Yuswo tertawa.
Murah dan Mengenyangkan
Soto Rembang jadi favorit karena enak dan kaya rempah-rempah. Tak hanya itu, harganya terjangku tetapi porsinya banyak beda dengan soto-soto pada lainnya.
"Kalau mahasiswa kan marem. Pokoke mangan kene wareg (makan di sini kenyang). Biasane nak soto kan mung seger. Apalagi mahasiswa jumbo (porsinya) kalau yang (jurusan) olahraga," kata Yuswo.
Dia pun menyampaikan kiat sukses dan awet punya usaha yakni akrab dengan pelanggan. Dia juga selalu menerima masukan dan keinginan mahasiswa.
"Mahasiswa minta apa yang dituruti. Dulu tidak ada tulang. Mahasiswa minta ya saya carikan," katanya.
Kata Pelanggan
Agung (26 tahun) alumni Sastra Indonesia UNY merupakan salah satu pelanggan Soto Rembang. Minimal seminggu sekali dia "apel" ke warung ini.
"Seminggu sekali saya dan rombongan apel di sini," kata Agung.
Dulu saat jadi mahasiswa ini jadi tempat favorit sarapan ketika dia kegiatan dari malam sampai pagi di kampus.
"FBSB kan dulu 24 jam. Kegiatan aktivitas seni dan sastra banyak sampai pagi. Mahasiswa kegiatan sampai pagi lalu sarapannya ke sini," katanya.
Selama masih di Yogya, Agung bakal sering ke warung ini. Warung Rembang sudah jadi bagian hidupnya.
"Saya kerja pun makan tetap mampir ke sini," pungkasnya.





