Bisnis.com, JAKARTA — Penyelenggara fintech P2P lending PT Mitrausaha Indonesia Group (Modalku) mengungkapkan beberapa sektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang dinilai masih potensial untuk diberikan pendanaan pada 2026.
Direktur Modalku Arthur Adisusanto mengatakan UKM yang potensial itu adalah di bidang perdagangan, distribusi, makanan dan minuman, serta jasa pendukung usaha.
“Sektor-sektor ini masih menunjukkan potensi yang relatif baik, terutama yang memiliki perputaran kas cepat dan permintaan yang konsisten,” bebernya kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (3/2/2026).
Dia menambahkan, dari sisi segmen usaha, UKM menengah umumnya lebih siap. Hal ini karena struktur operasional dan pencatatan keuangannya lebih mapan. Namun, usaha kecil juga dia nilai tetap memiliki potensi, khususnya bila kebutuhan pendanaannya jelas, bersifat produktif, dan didukung oleh model usaha yang berkelanjutan.
Arthur menekankan dengan seleksi yang tepat maka kedua segmen tersebut tetap dapat didukung melalui penyaluran pendanaan yang sehat.
“Dalam seleksi penerima dana, Modalku menerapkan prinsip kehati-hatian dengan menilai kelayakan usaha secara menyeluruh, termasuk performa historis, arus kas, tujuan penggunaan pendanaan, serta kemampuan bayar,” jelasnya.
Baca Juga
- Modalku Salurkan Dana Akumulatif Rp9,2 Triliun Sejak 2016
- UKM Bisa Kelola Tambang, Simak Kriterianya!
Secara garis besar, Arthur menilai kinerja UKM sepanjang 2025 menunjukkan dinamika yang cukup menantang. Aktivitas usaha tetap berjalan, tetapi pelaku UKM menghadapi tekanan dari pelemahan daya beli, kenaikan biaya operasional, serta ketidakpastian ekonomi yang memengaruhi arus kas usaha.
Sebab demikian, kala itu Modalku menerapkan kehati-hatian dalam penyaluran pendanaan kepada UKM, karena juga dipengaruhi oleh pertimbangan kualitas aset dan keberlanjutan arus kas usaha.
“Selain itu, kondisi ekonomi yang fluktuatif juga mendorong kami untuk lebih selektif, agar pertumbuhan dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan,” ucap Arthur.
Lebih lanjut, Arthur memandang tekanan di segmen UKM pada 2026 ini berpotensi berlanjut, terutama pada sektor yang sensitif terhadap fluktuasi permintaan dan biaya produksi. Risiko utama berasal dari ketidakpastian ekonomi, perubahan pola konsumsi, serta volatilitas harga komoditas tertentu.
“Strategi Modalku mencakup penguatan manajemen risiko, seleksi penerima dana yang lebih terukur, fokus pada industri yang memiliki potensi untuk berkembang, serta edukasi finansial secara digital,” tegasnya.
Sebagai informasi, fintech lending yang sudah berdiri selama 10 tahun ini telah menyalurkan pendanaan kumulatif sebesar Rp9,2 triliun. Arthur menyebut penyaluran dana tersebut telah dilakukan kepada lebih dari 74.000 pemilik usaha di berbagai sektor.
Dia melanjutkan, sepanjang 2025 penyaluran pendanaan Modalku tercatat meningkat 81% dibandingkan tahun sebelumnya. Menurutnya, ini mencerminkan kepercayaan yang terus tumbuh dari pelaku UKM.
“Pendanaan tersebut dimanfaatkan untuk menjaga arus kas, meningkatkan kapasitas usaha, serta membuka peluang pertumbuhan baru secara berkelanjutan,” katanya dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (20/1/2026).




