Komunikasi... Oh Komunikasi...
Pernahkah kamu bertanya ke teman atau pasangan, "Marah ya?" Kemudian dia jawab "Gak apa-apa" dengan nada datar tanpa menoleh sedikit pun dari layar ponselnya?.
Kamu percaya begitu saja, sampai akhirnya besok dia meledak. Bila tidak besoknya, ya begitu ada sebuah pertengkaran, dia akan mengungkit kembali daftar panjang kejadian saat dia bilang "Gak apa-apa" itu.
Kenapa satu kalimat yang sama bisa punya arti yang 180 derajat berbeda? Masalahnya bukan di telinga kita, tapi di "konteks" komunikasinya.
Si "Penuh Kode" vs Si "Lugas"Barangkali publik sudah mengetahui istilah introvert dan ekstrovert. Hal ini, mirip dengan hal tersebut, pada ilmu komunikasi ada komunikasi konteks tinggi dan rendah.
Konteks tinggi artinya, komunikasinya berfokus kepada bagaimana sesuatu itu disampaikan. Mereka yang menggunakan komunikasi konteks tinggi ini tipenya "Penuh Kode". Mereka mahir menafsirkan komunikasi non verbal di sekitarnya.
Verbal cuma diambil sedikit, sisanya mereka memahami dari nada suara, ekspresi, dan "situasi". Bagi mereka, komunikasi adalah cara menjaga keharmonisan (makanya sering pakai kode supaya tidak menyinggung langsung).
Sementara Konteks Rendah, fokus pada apa yang disampaikan. Si Lugas ini, apa yang diomongkan, itu yang dimaksud. Kalau bilang "A", ya artinya "A".
Contohnya bukan cuma dalam hubungan asmara, dalam pertemanan pun sering terjadi. Saya pernah punya teman yang ketika ditawari makanan pertama kali, ia akan menolak. Namun, jika pertanyaan tersebut diulang untuk kedua atau ketiga kalinya, ia pasti ambil. Seolah-olah kata "tidak" nya yang pertama itu berarti "tanyakan saya sekali lagi".
Itu bukan jaim yang tidak jelas, itu adalah protokol komunikasi konteks tinggi. Ia perlu yakin dulu, bahwa tawaranmu itu adalah sungguh-sungguh. Bukan basa-basi.
Potensi PersoalanBenturan terjadi ketika kedua "sistem operasi" ini bertemu tanpa saling memahami.
Karena perbedaan ini, dalam upaya menjaga keharmonisan di hubungan sosial, si Konteks Rendah sering merasa lelah karena harus terus menebak-nebak, sementara si Konteks Tinggi merasa lawan bicaranya tidak peka, kasar, atau tidak peduli. Akhirnya muncul prasangka: "Dia manipulatif" atau "Dia tidak punya empati". Padahal, ini hanyalah perbedaan "sistem operasi" di otak mereka.
SolusiJika kamu adalah si Konteks Rendah:
Mulailah belajar membaca micro-expression. Jika kata-katanya "Gak apa-apa" tapi nadanya ketus, berhentilah berasumsi dia baik-baik saja. Tanya lebih lanjut: "Aku dengar nada suaramu agak beda, ada apa?"
Jika kamu si Konteks Tinggi:
Sadari bahwa tidak semua orang punya "radar" yang sama. Kadang, untuk menyelamatkan hubungan, kamu harus bisa eksplisit. Katakan saja: "Aku lagi perlu waktu sendiri", daripada berharap orang mengerti arti diam-mu.
Mengetahui perbedaan ini bukan bertujuan untuk mengubah orang lain menjadi sama dengan kita-karena itu mustahil. Tujuan utamanya adalah memberi ruang bagi kita untuk saling memahami tanpa harus baper duluan. Kamu tidak perlu berubah, cukup kenali "sistem operasi" lawan bicaramu, dan biar mereka mengenali caramu.





