Jakarta, tvOnenews.com – Seorang siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri hidupnya diduga karena tidak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin) menegaskan, kejadian ini menjadi refleksi bersama sekaligus peringatan keras bagi seluruh pihak agar lebih peka terhadap persoalan sosial di masyarakat.
“Ya, ini harus menjadi cambuk ya,” ujar Cak imin, Rabu (4/2/2026).
Dia menambahkan, tragedi tersebut menjadi pengingat penting bahwa semua elemen masyarakat, termasuk pemerintah, harus membuka diri agar mudah diakses dan dimintai bantuan oleh siapa pun yang membutuhkan.
“Kita juga harus cari akar masalah frustrasi sosial itu sudah sejauh mana,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).
Surat tersebut berisi pesan perpisahan yang menyayat hati. Dalam surat itu, korban menuliskan:
“Surat buat Mama *
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Diketahui, anak tersebut tinggal bersama neneknya. Sementara sang ibu yang merupakan orang tua tunggal bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima anaknya, termasuk korban yang kini telah meninggal dunia.
Kasus ini memicu keprihatinan luas dan menjadi sorotan publik terkait kondisi sosial, akses pendidikan, serta perlindungan anak di daerah. (ant/nba)



