Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena Rojali alias rombongan jarang beli diprediksi mewarnai pergerakan konsumen di pusat perbelanjaan menjelang dan selama momentum Ramadan 2026. Meski demikian, mereka dianggap tetap memberi kontribusi terhadap pergerakan ekonomi.
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan perubahan perilaku belanja masyarakat saat ini lebih dipengaruhi oleh kehati-hatian konsumen dalam mengambil keputusan pembelian.
Budihardjo menjelaskan, konsumen kini cenderung datang ke mal untuk melihat-lihat terlebih dahulu, membandingkan harga, hingga mengecek ketersediaan produk di kanal online sebelum benar-benar melakukan transaksi.
“Fenomena Rojali memang saat ini orang beda ya cara belinya, dia nggak langsung beli, tetapi lihat-lihat dulu cek harga, foto-foto produk, cek di online, cek di mal-mal sebelah, sehingga memang itu [fenomena Rojali] wajar. Namun yang pasti mereka akan ke mal tuh pasti akan melakukan lifestyle,” kata Budihardjo kepada Bisnis, Selasa (3/2/2025).
Menurutnya, meskipun tidak langsung berbelanja, kehadiran pengunjung tetap memberikan kontribusi ekonomi, khususnya bagi tenant makanan dan minuman.
Hippindo menyebut tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan tetap terjaga lantaran mal masih menjadi destinasi pemenuhan kebutuhan gaya hidup, khususnya bagi konsumen dari segmen menengah ke atas.
Baca Juga
- Amran Minta Pedagang Daging hingga Beras Tak Kerek Harga jelang Ramadan
- Penjualan Ritel Diramal Naik pada Ramadan 2026, Daya Beli Pulih?
- Kadin Wanti-wanti Gejolak Harga Beras Cs Jelang Ramadan & Lebaran
Adapun, untuk pembelian pakaian, Budihardjo menyebut konsumen umumnya baru akan melakukan transaksi mendekati Hari Raya Idulfitri, sekitar dua minggu sebelum Lebaran. Hal ini seiring meningkatnya kepastian anggaran dan pencairan tunjangan hari raya (THR).
Meski demikian, Budihardjo menuturkan fenomena Rojali tidak menghilangkan optimisme pelaku ritel terhadap kinerja Ramadan tahun ini. Hippindo optimistis seluruh segmen konsumen tetap akan berbelanja sesuai kelas dan kebutuhan masing-masing, baik di ritel menengah ke bawah, menengah, hingga premium.
Di samping itu, dia menjelaskan pusat perbelanjaan premium tetap memiliki pasar tersendiri, sementara mal dengan segmen menengah dan bawah tetap ramai oleh konsumen yang berburu kebutuhan Lebaran dengan harga terjangkau.
Di tengah fenomena rojali, Budihardjo menilai sektor ritel makanan dan minuman (food and beverage/F&B) masih menjadi penopang utama pergerakan ekonomi di mal.
Dia bahkan menyebut masuknya sejumlah merek restoran baru, termasuk konsep premium, turut menjaga traffic pengunjung selama Ramadan.
Orang berbelanja makanan di pusat perbelanjaan
Permintaan NaikSementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengatakan pada Ramadan permintaan akan mengalami kenaikan tiga hingga empat lipat dari hari biasannya untuk keperluan keluarga maupun katering, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lonjakan permintaan ini harus di barengi dengan ketersediaan stok yang berlimpah guna menjaga psikologi pasar sehingga antara demand dan supply ada seimbang sehingga harga harga terjaga dan terjangkau oleh masyarakat,” kata Sarman.
Menurutnya, perlu ada koordinasi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam hal transparansi data stok pangan. Dia menyebut ketersediaan stok di lapangan dan gudang harus terjamin agar gejolak harga pangan bisa dihindari saat permintaan meningkat.
Sarman menambahkan, jika muncul isu keterbatasan salah satu bahan pokok, respons pasar akan negatif dan harga bisa melambung. Oleh karena itu, perhitungan stok harus matang dan berdasarkan data akurat, sehingga pasokan selalu siap memenuhi setiap permintaan pasar.
Di sisi lain, Sarman juga menyampaikan adanya program makan bergizi gratis (MBG) yang kini menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat.
Sebagai gambaran, dia merincikan bahwa kebutuhan daging ayam untuk satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencapai 200–350 kilogram per hari, daging sapi 20–25 kilogram, dan telur 1.500–3.000 butir setiap hari.
“Bisa dibayangkan jika permintaan meningkat menjelang bulan puasa dan Idulfitri, maka persediaan harus dipastikan mencukupi. Jika tidak, gejolak harga akan terjadi,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi kebutuhan pokok pangan menjelang bulan puasa dan Idulfitri, lantaran situasinya yang berbeda dibanding tahun lalu.
Dia menjelaskan ketersediaan bahan pokok seperti daging sapi dan ayam, gula, bawang, telur, dan minyak goreng berpotensi bergejolak jika pasokan tersendat. Selain itu, stok pangan juga perlu diperiksa, begitu pula dengan jalur distribusi yang harus tepat waktu.
Di samping itu, sambung dia, pemerintah juga perlu melaksanakan operasi pasar dua pekan sebelum perayaan Idulfitri untuk menjaga harga tetap terjangkau dan meyakini pasokan pangan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sarman menilai, dengan terpenuhinya berbagai kebutuhan pokok, maka konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh positif.
“Dan pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2026 yang diharapkan di angka 5% lebih,” pungkasnya.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai momentum Ramadan—Lebaran tetap menjadi peluang emas bagi sektor ritel, meski ada sejumlah tantangan yang harus diantisipasi.
“Saya masih menyakini, setiap Ramadan—Lebaran, konsumsi rumah tangga selalu menjadi titik tertinggi dalam satu tahun kalender,” kata Huda.
Menurutnya, dorongan masyarakat untuk berbelanja meningkat seiring sifat konsumtif dan kenaikan pendapatan, termasuk tunjangan hari raya (THR). Kondisi tersebut akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).
Terlebih, sambung dia, faktor utama penggerak konsumsi tetap pada peningkatan pendapatan, meski inflasi turut memengaruhi pola belanja.
Namun, Huda menjelaskan bahwa pergeseran permintaan agregat biasanya memicu kenaikan harga, yang kemudian berdampak pada penurunan jumlah barang yang diminta.
“Ketika harga meningkat, maka terjadi pergeseran lagi barang yang diminta. Barang yang diminta cenderung berkurang,” jelasnya.
Untuk itu, Celios menilai pemerintah perlu memastikan inflasi tetap terkendali dengan menjaga pasokan agar tidak terjadi kelangkaan.
Huda menuturkan jika stok terjaga dan harga stabil, peningkatan pendapatan akan berdampak positif pada konsumsi rumah tangga, mendukung pertumbuhan ekonomi.
Namun demikian, Celios menyebut ritel juga menghadapi tantangan struktural dari meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 dibandingkan 2024, yang menekan jumlah pekerja dengan pendapatan tambahan.
“Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan konsumsi rumah tangga secara agregat,” terangnya.
Meski begitu, Huda menuturkan bahwa sepanjang Agustus 2025–Februari 2026 diharapkan terjadi penyerapan tenaga kerja yang signifikan. “Melihat PMI manufaktur yang ekspansif, seharusnya ada penyerapan tenaga kerja,” pungkasnya.



