Liputan6.com, Jakarta - Perubahan menjadi lokasi wisata seperti yang dilakukan di Taman Harmoni Surabaya, Jawa Timur membutuhkan sejumlah tahapan guna mengembalikan menjadi kawasan yang asri.
Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Gatut Panggah Prasetyo di Surabaya menjelaskan, pada 2011 sampai 2014 adalah rentang waktu untuk membangun taman kota tersebut.
Advertisement
"Ini juga salah satu upaya bagaimana mengembalikan areal TPA menjadi kawasan yang bersih dan asri serta lingkungan yang sehat. Penanaman pada areal tersebut menjadikan lingkungan sekitar secara iklim mikro menjadi lebih baik," ujar Gatut. Dikutip dari Antara, Senin 2 Februari 2026.
Dia menekankan bahwa aspek keamanan menjadi prioritas utama dalam alih fungsi lahan ini. Struktur tanah bekas timbunan sampah memiliki karakteristik labil dan berpotensi melepaskan gas metana yang berbahaya jika tidak dikelola dengan teknologi yang tepat.
"Oleh karena itu, kajian mendalam mengenai stabilitas tanah dan pengelolaan residu gas wajib dilakukan sebelum area dibuka untuk publik. Keberhasilan Surabaya menyulap lahan kritis menjadi paru-paru kota ini diharapkan menjadi model percontohan bagi daerah lain," terang Gatut.
Selain fokus pada ruang terbuka hijau, lanjut dia, pemerintah juga terus mendorong solusi pengelolaan sampah modern,.
"Salah satunya melalui pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di wilayah aglomerasi Surabaya Raya guna mengatasi volume sampah harian yang terus meningkat," terang Gatut.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480105/original/024037100_1769042357-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_11.17.17.jpeg)


