Industri perjalanan global tengah memasuki babak baru. Jika tahun-tahun sebelumnya didominasi oleh mindful travel, digital detox, dan pencarian ketenangan, maka 2026 menandai kebangkitan di mana wisatawan tidak lagi menahan diri, tetapi justru ingin merayakan hidup sepenuhnya melalui traveling.
Wisatawan bukanlah satu kelompok homogen. Tetap ada kebutuhan akan keaslian, koneksi emosional, dan makna yang lebih dalam ketika mereka memutuskan untuk melakukan perjalanan ke destinasi tertentu. Tantangan bagi industri pariwisata kini adalah melayani spektrum kebutuhan yang semakin beragam tanpa kehilangan relevansi.
Media sosial telah berevolusi dari sekadar etalase inspirasi menjadi mesin penggerak keputusan perjalanan. Menurut data yang ditampilkan dalam acara "Unlocked" MarketHub di Hotel Hilton, Bali, Rabu (4/2) sebanyak 76% wisatawan membagikan pengalaman mereka secara online, dan hampir separuh mengaku memilih destinasi demi konten yang “Instagramable”. Lebih jauh lagi, 72% keputusan pemesanan dipengaruhi oleh influencer dan travel creator.
Fase “melihat” kini semakin pendek jaraknya dengan fase “memesan”, bagaimana konten, kepercayaan, dan transaksi dilebur dalam satu ekosistem. Wisatawan dapat melihat, menilai, dan langsung memesan tanpa keluar dari aplikasi.
"Bagi pelaku industri, ini menandai era baru di mana kecepatan, integrasi, dan kredibilitas menjadi kunci," kata CEO HBX Group Brendan Brennan.
Pada 2026, diskusi seputar AI tidak lagi soal “perlu atau tidak”, melainkan bagaimana menggunakannya secara bertanggung jawab. Sekitar 40% wisatawan global kini menggunakan AI untuk merencanakan perjalanan, dengan adopsi lebih tinggi di kalangan milenial dan Gen Z.
"AI bukan sekadar inovasi keren tapi juga membuat industri ini tumbuh lebih berkelanjutan," tambah Subandi Susilo dari Oracle Hospitality.
HBX Group menekankan bahwa AI paling efektif ketika menyelesaikan masalah nyata seperti layanan pelanggan yang lambat atau proses manual yang kompleks. Dengan pendekatan human on the loop, teknologi digunakan untuk membebaskan manusia dari pekerjaan repetitif, agar mereka dapat fokus pada empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan strategis.
"AI bukan pengganti manusia, melainkan penguat pengalaman manusia," ujar Mark Antipof, Chief of Growth Officer HBX Group.
Kolaborasi Lintas Budaya dan IndustriSalah satu pendorong terbesar minat perjalanan di 2026 adalah kolaborasi lintas budaya dan industri. Dari Bruno Mars yang berkolaborasi dengan Don Quijote di Jepang, hingga kampanye pariwisata berbasis fandom dan pop culture, kemitraan yang terasa autentik terbukti mampu mendorong kunjungan nyata.
Keberhasilan kolaborasi ini tidak semata ditentukan oleh besarnya nama, melainkan oleh ketulusan keterlibatan dan relevansi budaya. Wisata kini tidak hanya soal tempat, tetapi juga cerita dan simbol yang menyertainya.
Tren yang Bertahan: Dari Keberlanjutan hingga Transformasi DiriDi tengah perubahan cepat, beberapa tren justru semakin menguat. Keberlanjutan bukan lagi nilai tambah, melainkan ekspektasi dasar. Menurut HBX Group, sebanyak 84% wisatawan global menilai praktik berkelanjutan sebagai hal penting, mendorong industri untuk bergerak melampaui klaim hijau menuju aksi nyata .
Nature tourism, coolcationing (liburan ke destinasi beriklim sejuk), hingga transformational travel juga terus berkembang. Wisatawan mencari pengalaman yang mengubah—baik melalui wellness retreat, perjalanan solo, maupun pengalaman berbasis alam dan refleksi diri.
The Power of Play dan Fandom TourismHiburan kini menjadi mesin ekonomi pariwisata. Dari eSports hingga set-jetting, dari Pokémon hingga Hello Kitty, fandom tourism mendorong wisatawan terbang lintas benua demi pengalaman eksklusif atau koleksi langka.
Destinasi yang mampu memanfaatkan kekuatan play, komunitas, dan imajinasi akan berada di garis depan. Baik melalui event, kolaborasi digital, hingga pengalaman tematik, perjalanan kini semakin menyatu dengan dunia hiburan.
Kreativitas dan Hidup Seperti LokalTahun 2026 juga menandai kebangkitan kreativitas dalam perjalanan. Wisatawan tidak lagi puas hanya melihat—mereka ingin ikut kreator. Hotel berubah menjadi galeri hidup, kota menjadi ruang ekspresi, dan pengalaman wisata menjadi partisipatif.
Sejalan dengan itu, konsep live like a local menjadi semakin relevan. Dari kuliner rumahan, festival komunitas, hingga rutinitas harian yang sederhana, keaslian justru ditemukan dalam hal-hal biasa yang dikemas dengan jujur dan manusiawi.
Mungkin perubahan paling mendasar adalah pergeseran mindset. Bagi banyak orang, “someday” telah berubah menjadi “now or never”. Traveling dipandang sebagai investasi kebahagiaan, bukan kemewahan sesaat. Hal ini mendorong lahirnya perjalanan campuran antara eksplorasi dan relaksasi, kota dan resor, intens dan santai.
Travel Trends 2026 yang dipaparkan dalam acara MarketHub Asia by HBX Group menunjukkan satu hal utama: traveling bukan lagi sekadar perpindahan tempat, melainkan ekspresi identitas, emosi, dan nilai hidup. Bagi pelaku industri, ini adalah panggilan untuk lebih adaptif, kreatif, dan berani menghadirkan pengalaman yang relevan, bermakna, dan tak terlupakan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5491961/original/087832900_1770112265-WhatsApp_Image_2026-02-03_at_16.16.33.jpeg)

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F03%2F89a79e3ed15998a4eca72d97d28e4919-cropped_image.jpg)
